Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Setyo Budiantoro
Dosen

Sustainable Development Expert di The Prakarsa, Fellow IDEAS–UID MIT Sloan School of Management, SDGs–ESG Expert di Indonesian ESG Professional Association (IEPA), dan anggota Advisory Committee Fair Finance Asia. Pengajar program pascasarjana Keuangan Berkelanjutan dan Pembangunan Universitas Udayana.

Penilai program SDGs, ESG, CSV, dan CSR, serta perancang strategi pembelajaran dan pelatih dalam penulisan laporan, kebijakan, policy brief, dan strategi keberlanjutan. Aktif berbagi pemikiran dan pengalaman di kementerian/pemerintah daerah, OJK, Bursa Efek Indonesia, perusahaan, organisasi filantropi, CSO, perguruan tinggi, dan lembaga internasional.

Bukan Sekadar Hijau, Kosmologi Jawa Melampaui Keberlanjutan

Kompas.com, 6 April 2026, 15:02 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Di sinilah ungkapan Urip Iku Urup terasa sangat relevan. Hidup itu menyala. Sebuah kebijakan, investasi, atau agenda pembangunan hanya layak disebut hidup bila ia benar-benar menyalakan sesuatu: harapan, martabat, peluang, dan rasa bahwa masa depan masih mungkin dibangun bersama.

Sebaliknya, kebijakan yang hanya berputar di ruang elite, yang angkanya bagus tetapi tak pernah menghangatkan kehidupan rakyat, sesungguhnya adalah kebijakan yang padam. Ia mungkin mengesankan secara administratif, tetapi gagal memberi terang.

Kita terlalu lama terpesona pada ukuran-ukuran yang terlihat besar, sementara lupa pada daya hidup yang justru menjadi inti dari pembangunan itu sendiri.

Apa artinya pertumbuhan jika manusia tetap merasa tersisih? Apa artinya investasi jika alam yang menopang kehidupan terus dirusak? Apa artinya keberlanjutan jika ia hanya menjadi bahasa baru untuk menata ulang ketimpangan lama?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting bukan karena kita sedang mencari kesempurnaan, melainkan karena kita sedang menentukan arah.

Dan setiap arah pada akhirnya akan kembali pada pertanyaan paling dalam: pembangunan ini hendak membawa kita ke mana?

Dalam kosmologi Jawa, ada kesadaran Sangkan Paraning Dumadi — tentang asal dan tujuan hidup. Ini mengingatkan bahwa pembangunan bukanlah gerak tanpa ujung. Ia harus punya makna. Ia harus punya muara. Ia harus menjawab bukan hanya bagaimana kita tumbuh, tetapi menjadi apa kita tumbuh.

Jika pembangunan hanya menghasilkan akumulasi tanpa keadilan, kemajuan tanpa kedekatan dengan alam, dan efisiensi tanpa welas asih, maka ada yang salah pada cara kita memahami kemajuan.

Sebab kemajuan sejati bukan sekadar bertambahnya angka, melainkan bertambahnya kelayakan hidup bersama. Bukan sekadar makin modern, tetapi makin manusiawi.

Karena itu, tantangan kita hari ini bukan memilih antara standar global atau kearifan lokal, seolah keduanya harus saling meniadakan.

Tantangannya adalah bagaimana memakai bahasa dunia tanpa kehilangan suara batin kita sendiri.

Bagaimana tetap terbuka pada kemajuan, tetapi tidak tercerabut dari nilai yang membuat kemajuan itu berarti.

Bagaimana menyaring samudra istilah dan ukuran yang datang dari mana-mana, lalu mengubahnya menjadi sumur kejernihan bagi kehidupan bersama.

Di situlah pentingnya kosmologi Jawa. Bukan sebagai hiasan budaya, bukan pula sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai penanda arah.

Ia mengingatkan bahwa kehidupan harus dijaga dengan rasa hormat, bahwa keputusan harus ditimbang bukan hanya dengan untung-rugi, dan bahwa manusia tidak pernah hidup sendirian di luar relasinya dengan sesama dan alam.

Melampaui keberlanjutan, dengan demikian, bukan berarti menolak agenda global. Justru sebaliknya: mengembalikannya pada inti yang sering terlupakan.

Bahwa pembangunan pada akhirnya bukan soal laporan yang sempurna, melainkan tentang dunia seperti apa yang kita tinggalkan.

Bahwa keberlanjutan bukan sekadar kemampuan bertahan, tetapi keberanian untuk merawat kehidupan agar tetap punya arah, keindahan, dan keadilan.

Kalau itu yang kita pegang, maka kita tidak sedang membangun masa depan yang hanya terlihat baik di atas kertas.

Kita sedang menyiapkan peradaban yang lebih layak dihuni. Peradaban yang tidak hanya pandai menghitung, tetapi juga tahu apa yang patut dijaga. Peradaban yang tidak mabuk oleh data, karena ia masih mendengar nurani.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau