Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Di sinilah ungkapan Urip Iku Urup terasa sangat relevan. Hidup itu menyala. Sebuah kebijakan, investasi, atau agenda pembangunan hanya layak disebut hidup bila ia benar-benar menyalakan sesuatu: harapan, martabat, peluang, dan rasa bahwa masa depan masih mungkin dibangun bersama.
Sebaliknya, kebijakan yang hanya berputar di ruang elite, yang angkanya bagus tetapi tak pernah menghangatkan kehidupan rakyat, sesungguhnya adalah kebijakan yang padam. Ia mungkin mengesankan secara administratif, tetapi gagal memberi terang.
Kita terlalu lama terpesona pada ukuran-ukuran yang terlihat besar, sementara lupa pada daya hidup yang justru menjadi inti dari pembangunan itu sendiri.
Apa artinya pertumbuhan jika manusia tetap merasa tersisih? Apa artinya investasi jika alam yang menopang kehidupan terus dirusak? Apa artinya keberlanjutan jika ia hanya menjadi bahasa baru untuk menata ulang ketimpangan lama?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting bukan karena kita sedang mencari kesempurnaan, melainkan karena kita sedang menentukan arah.
Dan setiap arah pada akhirnya akan kembali pada pertanyaan paling dalam: pembangunan ini hendak membawa kita ke mana?
Dalam kosmologi Jawa, ada kesadaran Sangkan Paraning Dumadi — tentang asal dan tujuan hidup. Ini mengingatkan bahwa pembangunan bukanlah gerak tanpa ujung. Ia harus punya makna. Ia harus punya muara. Ia harus menjawab bukan hanya bagaimana kita tumbuh, tetapi menjadi apa kita tumbuh.
Jika pembangunan hanya menghasilkan akumulasi tanpa keadilan, kemajuan tanpa kedekatan dengan alam, dan efisiensi tanpa welas asih, maka ada yang salah pada cara kita memahami kemajuan.
Sebab kemajuan sejati bukan sekadar bertambahnya angka, melainkan bertambahnya kelayakan hidup bersama. Bukan sekadar makin modern, tetapi makin manusiawi.
Karena itu, tantangan kita hari ini bukan memilih antara standar global atau kearifan lokal, seolah keduanya harus saling meniadakan.
Tantangannya adalah bagaimana memakai bahasa dunia tanpa kehilangan suara batin kita sendiri.
Bagaimana tetap terbuka pada kemajuan, tetapi tidak tercerabut dari nilai yang membuat kemajuan itu berarti.
Bagaimana menyaring samudra istilah dan ukuran yang datang dari mana-mana, lalu mengubahnya menjadi sumur kejernihan bagi kehidupan bersama.
Di situlah pentingnya kosmologi Jawa. Bukan sebagai hiasan budaya, bukan pula sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai penanda arah.
Ia mengingatkan bahwa kehidupan harus dijaga dengan rasa hormat, bahwa keputusan harus ditimbang bukan hanya dengan untung-rugi, dan bahwa manusia tidak pernah hidup sendirian di luar relasinya dengan sesama dan alam.
Melampaui keberlanjutan, dengan demikian, bukan berarti menolak agenda global. Justru sebaliknya: mengembalikannya pada inti yang sering terlupakan.
Bahwa pembangunan pada akhirnya bukan soal laporan yang sempurna, melainkan tentang dunia seperti apa yang kita tinggalkan.
Bahwa keberlanjutan bukan sekadar kemampuan bertahan, tetapi keberanian untuk merawat kehidupan agar tetap punya arah, keindahan, dan keadilan.
Kalau itu yang kita pegang, maka kita tidak sedang membangun masa depan yang hanya terlihat baik di atas kertas.
Kita sedang menyiapkan peradaban yang lebih layak dihuni. Peradaban yang tidak hanya pandai menghitung, tetapi juga tahu apa yang patut dijaga. Peradaban yang tidak mabuk oleh data, karena ia masih mendengar nurani.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya