Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Estonia Tawarkan Kolaborasi untuk Transisi Hijau dengan Indonesia

Kompas.com, 8 April 2026, 20:41 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Estonia dan sejumlah perusahaan dari negara Baltik itu menawarkan kolaborasi dalam melakukan transisi hijau dengan Indonesia, sebagai langkah untuk menekan angka emisi serta mengantisipasi tren yang tengah berjalan ke arah tersebut.

Wakil Menteri Kemaritiman dan Sumber Daya Air Estonia Kristjan Truu kepada wartawan Indonesia di Tallinn, Selasa (7/4/2026), menyatakan gelombang perubahan ke arah transisi hijau tidak akan berhenti karena terkait antara lain dengan tingkat daya saing negara hingga kawasan di pasar global, khususnya dalam sektor industri maritim internasional.

"Kita dapat melihat bahwa semua pihak saat ini tengah bergerak menuju transisi hijau guna mengurangi emisi. Jadi, ini adalah tujuan utama," kata dia dikutip dari Antara, Rabu (8/4/2026). 

Baca juga: UNIDO Sebut Kawasan Industri Jadi Kunci Hilirisasi dan Transisi Hijau Indonesia

Dia mencontohkan, di Uni Eropa ada Kesepakatan Industri Bersih yang bertujuan untuk memperkuat daya saing industri Eropa sekaligus mempercepat transisi menuju teknologi netral iklim.

Selain itu, Estonia juga memiliki penerapan konsepnya sendiri, seperti di dalam sektor kemaritiman antara lain dengan menerapkan koridor pelayaran hijau Estonia-Finlandia yang bertujuan menciptakan rantai transportasi hijau secara keseluruhan yang mencakup pelabuhan yang menggunakan energi hijau seperti tenaga matahari dan listrik.

"Dari pelabuhan, energi tersebut dialirkan ke kapal, dan kapal berlayar menggunakan bahan bakar hijau," katanya.

Urgensi untuk Indonesia

Ketika ditanya mengenai alasan mengapa Indonesia perlu menerapkan transisi hijau, Truu menerangkan bahwa salah satu alasan mendesak adalah adanya kerangka kerja net-zero IMO (Organisasi Maritim Internasional) yang diperkenalkan tahun 2025.

Dia juga memaparkan, pihaknya berencana melakukan kunjungan ke Indonesia untuk melihat adanya kemungkinan kerja sama dan melakukan pertukaran pengalaman, serta menjalin hubungan dalam bidang kemaritiman dengan Indonesia.

Baca juga: Transisi Hijau Perusahaan, Pemahaman Karyawan Paling Fundamental

Sementara itu, Chief Commercial & Strategy Officer ShoreLink (perusahaan penyuplai energi listrik kemaritiman dari Estonia) Kaupo Laanerand menyatakan bahwa pada dasarnya, Uni Eropa mendorong pemilik kapal untuk lebih ramah lingkungan.

"Uni Eropa mengatakan bahwa tenaga listrik perlu dari darat (shore power), sehingga semua pelabuhan yang merupakan bagian dari jaringan penting Eropa, harus menggunakan tenaga listrik dari darat," katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa pada saat ini dengan harga minyak dunia dan BBM yang menjadi semakin mahal, maka juga akan membuat mentalitas berbagai pemangku kepentingan seperti pemilik kapal untuk berubah dan lebih termotivasi untuk menggunakan tenaga listrik dari daratan dengan singgah selama beberapa jam di pelabuhan untuk mendapatkan suplai energi.

"Bisa dikatakan ada pergeseran mentalitas puncak yang sedang terjadi. Dan seperti yang Anda lihat, elektrifikasi adalah bagian dari kerangka kerja nol emisi untuk masa depan, dan teknologi inilah yang benar-benar dapat menurunkan emisi hingga mendekati nol," ucap Laanerand.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
LSM/Figur
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau