Perubahan iklim turut memperburuk permasalahan limbah di laut.
Baca juga: Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat
Air yang kotor membuat wilayah pesisir yang sudah rapuh menjadi lebih cepat rusak.
Sementara kandungan air kotor yang berlebihan dapat mempercepat ledakan populasi alga dan mengurangi kadar oksigen dalam air, sementara suhu air yang semakin panas membuat ekosistem laut semakin sulit pulih dari pemutihan karang dan kematian massal.
Bagi hutan bakau dan padang lamun, akar yang melemah dan air yang keruh akan mengurangi fungsinya sebagai pelindung pantai dan penyerap karbon.
Di sisi lain dunia telah berkomitmen untuk melindungi 30 persen daratan dan lautan pada 2030. Janji global ini disebut target 30x30.
Kerangka kerja tersebut menyatakan bahwa wilayah pesisir dan laut harus dilestarikan dan dikelola secara efektif. Namun target tersebut tampaknya akan sulit dipenuhi ketika 73 persen wilayah laut yang dilindungi di seluruh dunia tercemar oleh limbah.
Pesan penelitian ini pun jelas, perairan yang dilindungi tetap rentan ketika air kotor terus berdatangan. Kemajuan nyata dalam perlindungan laut tidak bisa berdiri sendiri melainkan gabungan dari pengolahan air limbah, pemantauan, dan perencanaan berbasis lahan yang menjangkau komunitas di hulu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya