Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap 70 Persen Area Konservasi Laut Terkontaminasi Limbah Cair

Kompas.com, 7 April 2026, 21:07 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Sebuah analisis terbaru mengungkapkan bahwa kawasan laut lindung di sepanjang pesisir tropis sering kali justru mengalami pencemaran limbah yang lebih parah dibandingkan perairan sekitarnya yang tidak dilindungi.

Temuan ini menunjukkan bahwa batas wilayah di laut tidak mampu membendung aliran polusi yang datang dari daratan.

Melansir Earth, Senin (6/4/2026) temuan didapat setelah peneliti dari University of Queensland di Australia melakukan survei global terhadap 16.491 kawasan laut lindung.

David E. Carrasco Rivera dari University of Queensland menganalisis peta tersebut dan menemukan bahwa status 'dilindungi' tidak menjamin airnya lebih bersih.

Peneliti juga justru menemukan bahwa pola pencemaran terlihat semakin jelas di 1.855 lokasi tropis yang berada dalam jarak 50 kilometer dari pantai.

Hal tersebut membuat setiap kawasan konservasi pantai rentan, karena upaya perlindungan menjadi sia-sia jika limbah dari hulu terus berdatangan.

Baca juga: Tekanan Besar di Laut Lepaskan Karbon-Nitrogen, Bisa Jadi Model Iklim Masa Depan

Dampak Limbah terhadap Ekosistem Laut

Terumbu karang, padang lamun, dan hutan bakau semuanya akan rusak jika terkena limbah rumah tangga di perairan pesisir.

Begitu limbah tersebut sampai di perairan dangkal, bakteri berbahaya akan menyebar bersama zat sisa yang memicu pertumbuhan alga, sehingga air menjadi keruh dan menghalangi sinar matahari.

Sebuah model global memperkirakan bahwa 58 persen terumbu karang dan 88 persen padang lamun sudah terpapar polusi nitrogen dari air limbah.

Paparan terus-menerus ini menghambat pertumbuhan, memicu penyakit, dan membuat habitat tersebut sulit pulih saat dilanda cuaca panas atau badai.

Menurut studi, area dengan polusi limbah paling parah ada di Afrika Timur, Timur Tengah, dan Afrika Utara, di mana rata-rata dan puncak tingkat pencemaran tercatat paling tinggi.

Sebaliknya, wilayah Australasia dan Melanesia memiliki jauh lebih banyak kawasan taman laut dengan tingkat paparan rendah, di mana hampir 80 persen wilayahnya berada dalam kategori terendah di seluruh dunia.

Di seluruh enam wilayah tersebut, terdapat sejumlah kecil titik panas (hotspots) yang membuat rata-rata polusi melonjak jauh di atas tingkat normal, menunjukkan betapa tajamnya lonjakan tekanan limbah yang bisa terjadi.

Pola yang tidak merata ini sangat penting untuk diperhatikan, karena rencana konservasi yang hanya dibuat berdasarkan angka rata-rata wilayah bisa melewatkan titik-titik lokasi yang justru akan hancur lebih dulu.

"Kawasan laut lindung yang dikelola dengan sempurna sekalipun akan gagal memberikan manfaat bagi alam dan manusia jika air limbah terus mengalir masuk dari daratan," ujar Dr. Amelia Wenger, pimpinan Global Water Pollution di Wildlife Conservation Society (WCS).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau