KOMPAS.com - Lahan bekas tambang garam batu di Tai’an, Provinsi Shandong, China timur, diubah menjadi fasilitas penyimpanan energi berbasis udara terkompresi untuk mendukung pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Fasilitas yang dioperasikan China Energy Engineering Group Co., Ltd ini memanfaatkan danau bawah tanah bekas tambang sebagai media penyimpanan energi dari pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB).
Proyek ini menjadi salah satu inovasi dalam upaya meningkatkan kapasitas penyimpanan energi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan EBT.
Manajer proyek Liu Shaoyong mengatakan, fasilitas tersebut dirancang untuk menyimpan energi selama delapan jam dan menghasilkan listrik selama empat jam, dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 460 juta kilowatt-jam.
“Fasilitas ini dapat memenuhi kebutuhan listrik tahunan lebih dari 200.000 rumah tangga,” ujar Liu, dikutip dari Xinhua, Selasa (7/4/2026).
Teknologi yang digunakan memanfaatkan kelebihan listrik pada jam non-puncak untuk mengompresi udara dan menyimpannya di bawah tanah. Udara terkompresi tersebut kemudian dilepaskan kembali untuk menghasilkan listrik saat permintaan energi meningkat.
Pengembangan sistem penyimpanan energi ini menjadi bagian penting dalam mendukung integrasi energi terbarukan ke dalam sistem kelistrikan. Salah satu tantangan utama EBT, seperti energi angin, adalah sifat produksinya yang tidak stabil.
Melalui teknologi penyimpanan, pasokan listrik dapat dijaga tetap stabil dan lebih andal.
Seorang pejabat dari pusat pengiriman State Grid Tai’an menyebutkan bahwa pihaknya terus memantau kebutuhan listrik serta mendukung integrasi proyek tersebut ke jaringan listrik.
“Kami memberikan dukungan teknis untuk memastikan operasi proyek dan koneksi jaringan berjalan optimal,” ujarnya.
Proyek di Tai’an mencerminkan percepatan transformasi energi di China, yang dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan pemanfaatan teknologi inovatif untuk memperluas penggunaan EBT.
Pada 2025, kapasitas terpasang energi terbarukan di China telah melampaui 50 persen dari total kapasitas pembangkit listrik nasional.
Selain itu, kapasitas penyimpanan energi di wilayah Tai’an diproyeksikan mendekati 5 juta kilowatt pada 2030, seiring meningkatnya pengembangan proyek EBT di berbagai daerah.
Pengembangan energi terbarukan di China juga ditandai dengan berbagai proyek besar lainnya. Pada Oktober 2025, turbin angin lepas pantai berkapasitas 26 megawatt, terbesar di dunia, berhasil dioperasikan di perairan Shandong.
Turbin tersebut mampu menghasilkan hingga 100 juta kilowatt-jam listrik per tahun atau cukup untuk memasok sekitar 55.000 rumah tangga, sekaligus mengurangi emisi karbon dioksida hingga 80.000 ton per tahun.
Sementara itu, pada Februari 2026, pembangkit listrik tenaga bayu lepas pantai di Shanghai mulai memasok listrik langsung ke pusat data bawah laut. Skema ini memungkinkan penggunaan energi di lokasi tanpa kehilangan daya akibat transmisi jarak jauh.
China menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 7–10 persen dari tingkat puncaknya pada 2035. Untuk mencapai target tersebut, kapasitas energi terbarukan terus ditingkatkan hingga melampaui pembangkit listrik berbasis batu bara.
Transformasi ini menunjukkan pergeseran strategi energi China dari ketergantungan pada sumber daya fosil menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya