Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik

Kompas.com, 13 April 2026, 14:00 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Minyak jelantah yang biasanya dibuang begitu saja, kini disulap menjadi sumber energi listrik.

Adalah Alan Hermawan, Athar Narendra Wijaya, Muhammad Nayaka Arya Ganendra, Syaulia Kamila, dan Qnanthi Aysha Karinnina, siswa yang tergabung dalam tim AAAAQ Research 19 dari MAN 19 Jakarta Selatan, yang mengubah limbah tersebut agar bisa digunakan kembali.

Inisiatif ini bermula ketika lampu di kelas mendadak padam saat jam pelajaran karena stop kontak yang dipenuhi ponsel dan kipas portable. Listrik sekolah ternyata tidak mampu menahan beban pemakaian.

Peristiwa itu lantas membuat mereka berpikir, apakah ada cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan energi tanpa membebani jaringan sekolah.

Baca juga: SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor

Pada waktu yang sama mereka juga melihat hal berbeda di kantin dan rumah. Banyak minyak goreng bekas yang dibuang begitu saja setelah memasak. Dua hal inilah yang kemudian memantik ide para siswa untuk membuat program Mistik (Minyak Jadi Listrik).

“Saya berpikir minyak yang selama ini dibuang sangat sayang jika tidak dimanfaatkan. Dari situ kami mulai mencari cara paling sederhana untuk memanfaatkannya,” kata salah satu anggota tim dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).

Tim mengubah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi, lalu panas dari lilin dikonversi menjadi listrik melalui modul Thermoelectric Generator (TEG).

Namun, pengembangan Mistrik bukanlah hal yang mudah sebab para siswa harus mencari komposisi lilin, mengatur kestabilan panas, serta menyesuaikan rangkaian TEG agar dapat menghasilkan daya yang cukup.

Beberapa percobaan awal hanya menghasilkan arus kecil, bahkan tidak menyala sama sekali. Kendati demikian, mereka urung menyerah karena adanya dukungan dari orangtua hingga guru.

Titik balik dalam proyek itu terjadi ketika prototipe pertama berhasil digunakan untuk mengecas perangkat kecil.

Baca juga: PSEL Akan Dibangun di Makassar, Ubah 1.000 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik

“Saat itu kami baru merasa proyek ini nyata, bukan sekadar ide di kertas,” jelas tim MAN 19 Jakarta.

Program Mistik membuat tim melihat minyak jelantah dengan cara berbeda. Bukan lagi sekadar sisa memasak, melainkan bahan yang bisa menyimpan panas dan diubah menjadi listrik.

Melalui proses tersebut, cara pandang tim terhadap isu lingkungan juga berubah. Mereka menyadari bahwa pengelolaan sampah ternyata tidak hanya soal kebersihan, tetapi juga bisa berkaitan dengan sumber energi alternatif untuk kebutuhan sehari-hari.

Program Mistik kemudian didaftarkan pada ASRI Awards 2025 dan berhasil menjadi The Most Sustainable Ide. Pada kompetisi ini para siswa mendapat masukan untuk meningkatkan keamanan lilin dan efisiensi alat.

Pengalaman bertemu peserta lain dalam kompetisi ini, juga membuat mereka melihat bahwa masalah yang dihadapi sekolah mereka juga dialami banyak tempat. Untuk itu, pengelolaan limbah menjadi sesuatu yang berguna untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sudah harus ditanamkan sedari dini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau