KOMPAS.com - Skema pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap dan power wheeling dinilai dapat menjadi solusi untuk mempercepat pencapaian target elektrifikasi nasional sebesar 100 gigawatt (GW).
Lead Researcher Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN), Adila Isfandiari, menyebut kedua skema tersebut memungkinkan penambahan kapasitas listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) tanpa membebani anggaran negara.
“Skema ini tidak hanya membuka peluang pendapatan baru bagi PLN, tetapi juga memberikan kepastian suplai listrik hijau bagi perusahaan multinasional yang memiliki target penurunan emisi,” ujar Adila dalam keterangan tertulis, Senin (13/4/2026).
Baca juga: Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menargetkan penambahan kapasitas listrik hingga 100 GW dalam dua tahun.
Namun, untuk mencapai target tersebut, Indonesia perlu meningkatkan pertumbuhan EBT hampir 50 kali lipat dari tren saat ini. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata penambahan kapasitas EBT hanya sekitar 1.025 megawatt (MW) per tahun.
Per akhir 2025, bauran EBT nasional tercatat sebesar 15,75 persen atau setara 15.630 MW, sementara sekitar 84 persen kapasitas pembangkit listrik masih didominasi energi fosil.
Adila menjelaskan, skema power wheeling memungkinkan produsen listrik swasta memanfaatkan jaringan milik PT PLN (Persero) untuk menyalurkan listrik langsung ke konsumen.
Sementara itu, PLTS atap dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam menambah kapasitas EBT, khususnya di sektor rumah tangga.
Dalam skema ini, sektor swasta akan berperan dalam investasi pembangkit, sedangkan PLN tetap menjadi operator sistem dan memperoleh pendapatan dari biaya penggunaan jaringan (wheeling fee).
Baca juga: Harita Nickel Targetkan Pasang PLTS Atap 38 MWp Rampung April 2026
Adila menilai, pemerintah perlu memberikan insentif bagi pelanggan listrik non-subsidi untuk mendorong pemasangan PLTS atap.
Saat ini, terdapat sekitar 2,88 juta pelanggan PLN di segmen non-subsidi (R-2 dan R-3). Jika setiap rumah memasang PLTS atap berkapasitas 1–2 kWp, potensi tambahan kapasitas dapat mencapai 2,9 hingga 5,8 gigawatt peak (GWp).
“Segmen ini bisa menjadi sumber pertumbuhan cepat dalam jangka pendek karena tidak memerlukan pembiayaan dari APBN,” ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya