JAKARTA, KOMPAS.com - Populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) melonjak drastis di sungai-sungai wilayah Jakarta. Karenanya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana memperluas penangkapan massal spesies invasif tersebut.
Menurut Pakar ikan dan konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Charles PH Simanjuntak, pengendalian populasi ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu, bukan sekadar penangkapan saja.
“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu, mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” kata Charles dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).
Pemprov Jakarta harus memperkuat regulasi perdagangan ikan hias serta meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami.
Baca juga: Tak Lagi Cari Ikan, Nelayan Kini Berburu Sampah Plastik di Sungai
Teknologi pemantauan dini seperti environmental DNA (eDNA) dinilai efektif untuk mendeteksi keberadaan ikan sejak awal sebelum populasinya meledak.
Jika populasinya sudah meledak penangkapan tetap diperlukan, hanya saja harus dilakukan secara selektif dan terarah. Charles menyebut, penangkapan ikan berukuran kecil yang kurang dari 30 sentimeter lebih efektif menekan populasi.
Masyarakat juga perlu dilibatkan untuk berburu sapu-sapu guna menekan populasi dalam skala lokal, meskipun keberhasilan jangka panjang dapat terbatas oleh masuknya ikan dari wilayah lain.
“Karena itu, perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan yang tertangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya,” tutur dia.
Baca juga: Migrasi Ikan Global Dilaporkan Turun Drastis, Populasinya Anjlok 81 Persen
Dari sisi kontrol biologis, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu dinilai bisa membantu mengendalikan populasi. Terutama pada fase juvenil dengan ukuran 0,6–1 sentimeter.
Ia juga mengusulkan pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk mengurangi populasi, tetapi bukan untuk dikonsumsi.
“Tidak direkomendasikan jika berasal dari perairan tercemar karena berpotensi mengandung logam berat,” imbuh dia.
Dengan pendekatan terpadu dan kolaborasi berbagai pihak, pengendalian ikan sapu-sapu diharapkan dapat dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta.
Dia menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan 19.000 telur dan berkembang biak beberapa kali setahun.
“Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang hingga menetas, sehingga tingkat kelangsungan hidupnya bisa mencapai lebih dari 90 persen,” ucap dia.
Charles menambahkan bahwa ikan sapu-sapu mampu bereproduksi pada ukuran relatif kecil yakni 23,9–28,99 sentimeter untuk jantan, dan 13,0–25,98 sentimeter untuk betina yang mempercepat siklus invasinya.
Ikan ini juga termasuk omnivora dan sangat adaptif terhadap berbagai sumber makanan. Di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami sapu-sapu antara lain ikan common snook, tarpon, buaya spectacled caiman, dan burung neotropic cormorant.
“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” ucap Charles.
Diberitakan sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta akan melakukan pembersihan sungai dan saluran air secara serentak di lima wilayah kota adminstrasi Jakarta, Jumat (18/4/2026). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut kegiatan ini juga menyasar pengangkatan ikan sapu-sapu yang dinilai merusak lingkungan.
“Kenapa ikan ini harus dibersihkan? Karena memang sudah merusak. Dan dari hasil lab, hampir semua ikan yang dites di laboratorium kadar batasnya itu kan 0,3 miligram. Dia lebih dari itu, sehingga akan sangat berbahaya kalau dikonsumsi,” katanya.
Ikan sapu-sapu juga bisa merusak tanggul karena sering membuat lubang untuk bersembunyi. Masalah lainnya, sapu-sapu memakan ikan lokal hingga telur-telurnya, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem sungai.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya