Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu

Kompas.com, 16 April 2026, 11:49 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) melonjak drastis di sungai-sungai wilayah Jakarta. Karenanya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana memperluas penangkapan massal spesies invasif tersebut.

Menurut Pakar ikan dan konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Charles PH Simanjuntak, pengendalian populasi ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu, bukan sekadar penangkapan saja.

“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu, mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” kata Charles dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).

Pemprov Jakarta harus memperkuat regulasi perdagangan ikan hias serta meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami.

Baca juga: Tak Lagi Cari Ikan, Nelayan Kini Berburu Sampah Plastik di Sungai

Teknologi pemantauan dini seperti environmental DNA (eDNA) dinilai efektif untuk mendeteksi keberadaan ikan sejak awal sebelum populasinya meledak.

Jika populasinya sudah meledak penangkapan tetap diperlukan, hanya saja harus dilakukan secara selektif dan terarah. Charles menyebut, penangkapan ikan berukuran kecil yang kurang dari 30 sentimeter lebih efektif menekan populasi.

Masyarakat juga perlu dilibatkan untuk berburu sapu-sapu guna menekan populasi dalam skala lokal, meskipun keberhasilan jangka panjang dapat terbatas oleh masuknya ikan dari wilayah lain.

“Karena itu, perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan yang tertangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya,” tutur dia.

Baca juga: Migrasi Ikan Global Dilaporkan Turun Drastis, Populasinya Anjlok 81 Persen

Dari sisi kontrol biologis, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu dinilai bisa membantu mengendalikan populasi. Terutama pada fase juvenil dengan ukuran 0,6–1 sentimeter.

Ia juga mengusulkan pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk mengurangi populasi, tetapi bukan untuk dikonsumsi.

“Tidak direkomendasikan jika berasal dari perairan tercemar karena berpotensi mengandung logam berat,” imbuh dia.

Dengan pendekatan terpadu dan kolaborasi berbagai pihak, pengendalian ikan sapu-sapu diharapkan dapat dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta.

Reproduksi yang Tinggi

Dia menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan 19.000 telur dan berkembang biak beberapa kali setahun.

“Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang hingga menetas, sehingga tingkat kelangsungan hidupnya bisa mencapai lebih dari 90 persen,” ucap dia.

Charles menambahkan bahwa ikan sapu-sapu mampu bereproduksi pada ukuran relatif kecil yakni 23,9–28,99 sentimeter untuk jantan, dan 13,0–25,98 sentimeter untuk betina yang mempercepat siklus invasinya.

Ikan ini juga termasuk omnivora dan sangat adaptif terhadap berbagai sumber makanan. Di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami sapu-sapu antara lain ikan common snook, tarpon, buaya spectacled caiman, dan burung neotropic cormorant.

“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” ucap Charles.

Diberitakan sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta akan melakukan pembersihan sungai dan saluran air secara serentak di lima wilayah kota adminstrasi Jakarta, Jumat (18/4/2026). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut kegiatan ini juga menyasar pengangkatan ikan sapu-sapu yang dinilai merusak lingkungan.

“Kenapa ikan ini harus dibersihkan? Karena memang sudah merusak. Dan dari hasil lab, hampir semua ikan yang dites di laboratorium kadar batasnya itu kan 0,3 miligram. Dia lebih dari itu, sehingga akan sangat berbahaya kalau dikonsumsi,” katanya.

Ikan sapu-sapu juga bisa merusak tanggul karena sering membuat lubang untuk bersembunyi. Masalah lainnya, sapu-sapu memakan ikan lokal hingga telur-telurnya, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem sungai.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau