Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Jepang Turun di Bawah 1 Miliar Ton, Tapi Masih Jauh dari Target 2030

Kompas.com, 17 April 2026, 16:44 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Emisi gas rumah kaca Jepang turun ke bawah satu miliar ton untuk pertama kalinya sejak 2013. Meski angka ini menjadi pencapaian penting, pemerintah memperingatkan bahwa kemajuannya belum merata.

Melansir ESG News, Selasa (14/4/2026) Kementerian Lingkungan Hidup Jepang melaporkan bahwa total emisi bersih (setelah dikurangi serapan hutan) mencapai 994 juta ton pada tahun fiskal 2024. Angka ini turun 18,8 juta ton, atau sekitar 1,9 persen dibanding tahun sebelumnya.

Data ini memperkuat tren penurunan jangka panjang. Saat ini, emisi Jepang telah turun 28,7 persen dibandingkan tahun 2013, yang merupakan tahun acuan bagi target iklim pemerintah.

Pencapaian ini mencerminkan peningkatan efisiensi yang terus-menerus di sektor-sektor utama dan perubahan bertahap pada sumber energi Jepang, meskipun kecepatannya masih belum cukup untuk mengejar target tahun 2030.

Baca juga: RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi

Tren belum merata

Emisi industri, termasuk dari pabrik-pabrik, turun 2,5 persen dibanding tahun lalu berkat langkah-langkah hemat energi dan perubahan sistem produksi. Sektor transportasi, termasuk mobil, mencatat penurunan 1,6 persen karena penggunaan bahan bakar yang lebih irit dan mulai beralih ke kendaraan listrik.

Emisi rumah tangga turun lebih sedikit, yaitu 0,7 persen, menunjukkan sulitnya mengurangi pemakaian energi di perumahan. Sebaliknya, emisi dari sektor restoran dan perhotelan justru naik 0,2 persen, memperlihatkan pemulihan ekonomi yang tidak merata di industri jasa.

Hasil yang beragam ini mempertegas betapa sulitnya menghapus penggunaan karbon di negara maju yang sangat butuh banyak energi. Meskipun sektor industri dan transportasi sudah menunjukkan kemajuan nyata, perubahan gaya hidup masyarakat dan pertumbuhan sektor jasa masih jauh lebih sulit untuk diubah dalam skala besar.

Menteri Lingkungan Hidup, Ishihara Hirotaka, mengakui adanya kemajuan sekaligus hambatan besar dalam peralihan energi di Jepang.

"Emisi gas rumah kaca dibandingkan pertumbuhan ekonomi (PDB) sudah turun selama 12 tahun berturut-turut. Meski trennya positif, kecepatannya masih lambat," katanya.

Hirotaka menyoroti dua masalah utama dalam penurunan emisi yakni lambatnya perkembangan energi bersih (non-fosil) dan sulitnya mengurangi penggunaan energi di rumah tangga.

Ketergantungan Jepang pada impor bahan bakar fosil, ditambah dengan sikap hati-hati dalam menyalakan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir, sangat memengaruhi laju penurunan emisi ini.

“Saya akan mempercepat upaya Jepang untuk mencapai target pengurangan emisinya,” tambahnya.

Target kebijakan dan dampak investasi

Jepang telah berjanji untuk mencapai bebas emisi pada tahun 2050 dan menargetkan pemotongan emisi sebesar 46 persen pada tahun 2030 (dibandingkan level tahun 2013).

Dengan pencapaian saat ini yang baru mencapai 28,7 persen, masih ada selisih yang besar untuk dikejar dalam enam tahun ke depan.

Bagi para investor dan pemimpin perusahaan, data ini mempertegas perlunya mempercepat investasi ke energi bersih, modernisasi jaringan listrik, dan efisiensi penggunaan energi.

Baca juga: Jepang Daur Ulang Limbah Popok Bekas Jadi Produk Baru

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau