Lambatnya penggunaan energi non-fosil menunjukkan bahwa dukungan kebijakan pemerintah untuk energi terbarukan, hidrogen, dan pengoperasian kembali nuklir akan sangat krusial.
Di saat yang sama, mandeknya penurunan emisi rumah tangga membuka peluang inovasi dalam pembangunan gedung hemat energi, penggunaan alat listrik, dan solusi energi bagi konsumen. Sektor-sektor ini masih belum tergarap maksimal dibandingkan dengan upaya pengurangan emisi di industri.
Namun kemajuan penurunan Jepang ini berdampak besar bagi dunia. Sebagai ekonomi terbesar ketiga di dunia, jalur emisi Jepang memengaruhi rantai pasokan wilayah, pasar karbon global, dan kecepatan penggunaan teknologi ramah lingkungan di Asia.
Pencapaian di bawah satu miliar ton ini membuktikan bahwa perubahan besar menuju bebas karbon bisa dilakukan oleh negara maju. Namun, hal ini juga memperlihatkan betapa sulitnya menjaga momentum penurunan emisi setelah efisiensi awal sudah berhasil dicapai.
Tahap berikutnya akan bergantung pada apakah Jepang mampu mempercepat pertumbuhan energi bersih dan mendorong perubahan perilaku yang lebih besar di sektor rumah tangga dan jasa. Tanpa percepatan tersebut, kegagalan mencapai target 2030 akan tetap menjadi risiko utama bagi pemerintah maupun investor.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya