KOMPAS.com - Thailand berpotensi menghadapi kondisi panas ekstrem yang setara dengan Gurun Sahara pada tahun 2070.
Menurut berbagai penelitian iklim, pemanasan global terus mendorong beberapa wilayah di dunia melampaui batas suhu yang biasanya bisa ditinggali manusia dengan nyaman.
Melansir Straits Times, Sabtu (18/4/2026) peringatan tersebut ditekankan oleh Tara Buakamsri, direktur program Climate Connectors, saat membahas artikel karya Owen Mulhern tahun 2020 yang berjudul "Too Hot To Live: Climate Change In Thailand" serta studi penting berjudul "Future Of The Human Climate Niche" oleh Xu dan rekan-rekannya.
Toleransi manusia terhadap panas
Penelitian tersebut berpendapat bahwa suhu panas yang meningkat dapat mengancam batas kemampuan manusia untuk bertahan hidup. Hal ini didasarkan pada data bahwa 19 dari 20 tahun terpanas yang pernah tercatat terjadi setelah tahun 2001.
Inti dari studi ini adalah gagasan tentang "relung iklim manusia", yaitu rentang suhu yang relatif sempit di mana manusia selama ribuan tahun telah berkembang, menetap, dan membangun peradaban.
Baca juga: Panas Ekstrem Bisa Ganggu Aktivitas Sehari-hari Manusia
Menurut laporan tersebut, secara historis sebagian besar penduduk manusia berkumpul di wilayah dengan suhu rata-rata tahunan sekitar 11 hingga 15 derajat Celsius.
Namun, banyak orang saat ini sudah tinggal di tempat yang lebih hangat dari rentang sejarah tersebut, namun dalam kondisi yang secara umum masih bisa diadaptasi oleh masyarakat.
Kekhawatirannya adalah apa yang akan terjadi jika suhu rata-rata tahunan naik di atas 29 derajat Celsius. Studi tersebut menyebutkan bahwa kondisi seperti itu saat ini hanya ditemukan di sekitar 0,8 persen daratan bumi, sebagian besar di Gurun Sahara.
Namun, jika emisi gas rumah kaca tetap tinggi, wilayah panas tersebut bisa meluas secara drastis dan membuat sepertiga penduduk dunia terpapar suhu panas yang saat ini hanya terjadi di segelintir tempat saja.
Suhu panas di Thailand
Bagi Thailand, dampak itu sangat mengkhawatirkan. Saat ini, suhu rata-rata tahunan di sana sudah mencapai sekitar 26 derajat Celsius, angka yang cukup tinggi dan mendekati zona bahaya.
Prediksi iklim dalam diskusi tersebut menunjukkan bahwa pada akhir abad ini, Thailand bisa melewati ambang batas 29 derajat Celsius. Hal ini akan mendorong kondisi rata-rata suhu di sana menyamai level suhu di iklim gurun.
Hal ini bukan sekadar berarti hari-hari akan terasa lebih panas. Ini menandakan perubahan besar menuju iklim yang jauh lebih sulit bagi kehidupan manusia dan kegiatan ekonomi untuk bisa berkembang.
Tanda-tandanya sudah mulai terlihat. Dari bulan Maret hingga Mei setiap tahunnya, Thailand secara rutin mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius.
Baca juga: Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat
Selama gelombang panas parah tahun 2016, gambar dari NASA menunjukkan bahwa suhu permukaan tanah di beberapa bagian Thailand mencapai 12 derajat Celsius di atas rata-rata.
Laporan tahun 2020 juga mencatat bahwa lebih dari 50 kota menyamai atau memecahkan rekor panas harian. Sementara itu, wilayah Mae Hong Son mencatat suhu 44,6 derajat Celsius pada 28 April 2016, yang saat itu merupakan suhu udara tertinggi yang pernah tercatat di Thailand.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan bahwa gelombang panas "biasa" di masa depan akan terasa sama parahnya dengan gelombang panas paling berbahaya saat ini. Di masa depan tersebut, panas ekstrem tidak lagi dianggap sebagai kejadian aneh, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Suhu panas yang meningkat berdampak langsung pada kesehatan, produktivitas kerja, pertanian, dan ketahanan pangan. Suhu yang lebih tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung, pernapasan, dan penyakit menular, di mana dampak terberatnya akan dirasakan oleh kelompok rentan seperti keluarga berpenghasilan rendah, lansia, dan pekerja luar ruangan.
Masyarakat yang terdampak
Masyarakat di pedesaan sangat terancam karena mereka sering kali kesulitan mendapatkan akses ke AC atau sistem pendingin lainnya.
Panas yang berlebihan membuat kerja di luar ruangan menjadi tidak efisien, menurunkan hasil panen, dan meningkatkan penggunaan listrik untuk pendingin ruangan.
Hal tersebut pada akhirnya bisa memperburuk krisis iklim jika pembangkit listriknya masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Dengan kata lain, panas bukan hanya ancaman bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga penghambat jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi, pemerataan, dan ketahanan negara.
AC sering dianggap sebagai cara untuk bertahan hidup, tetapi itu saja tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah.
Memperluas akses pendingin ke seluruh negeri akan membutuhkan infrastruktur energi baru yang sangat besar. Selain itu, ketergantungan yang berlebihan pada AC justru bisa memperburuk emisi jika sumber energinya belum ramah lingkungan.
AC adalah salah satu bentuk adaptasi, namun berisiko memperparah krisis jika tidak dibarengi dengan perubahan sistem secara menyeluruh.
Di Thailand, panas ekstrem berkaitan erat dengan kekeringan yang semakin parah, banjir yang lebih sering dan merusak, serta naiknya permukaan air laut yang mengancam masyarakat pesisir dan pusat ekonomi.
Baca juga: Bumi Catat Rekor Panas Ekstrem Tahun 2025, PBB Ingatkan Dampaknya
Tekanan-tekanan ini saling tumpang tindih, sehingga membuat upaya penanganan menjadi lebih sulit dan jauh lebih mahal.
Itulah sebabnya perdebatannya bukan lagi sekadar tentang bagaimana cara menghadapi cuaca yang lebih panas.
Ini adalah tentang apakah Thailand mampu menata ulang kota, sistem energi, layanan kesehatan, dan model ekonominya dengan cukup cepat agar tetap bertahan di tengah iklim yang jauh lebih ekstrem.
Mengurangi emisi untuk mengatasi perubahan iklim
Kemungkinan Thailand menjadi seterik Gurun Sahara bukanlah takdir yang tidak bisa dihindari, melainkan sebuah peringatan tentang dampak dari keputusan-keputusan yang kita ambil hari ini.
Jika emisi gas rumah kaca tetap tinggi, ruang bagi manusia untuk hidup dan bekerja dengan aman akan terus berkurang, dan negara-negara tropis seperti Thailand akan menjadi yang paling terancam.
Namun, jika emisi dapat dikurangi dengan cepat, upaya adaptasi dipercepat, dan pembangunan dirancang ulang untuk menghadapi dunia yang lebih panas, dampak terburuk masih bisa dicegah.
Pada akhirnya, krisis panas bukan hanya masalah lingkungan. Ini juga merupakan pertanyaan tentang masa depan kehidupan manusia itu sendiri, dan apakah tempat-tempat yang selama ini menopang peradaban dapat terus melakukannya saat kondisinya semakin memburuk setiap tahunnya.
sumber https://www.straitstimes.com/asia/se-asia/thailand-could-become-as-hot-as-the-sahara-by-2070-research-shows
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya