JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan ringan hingga lebat terjadi di beberapa wilayah selama sepekan ke depan.
Menurut BMKG, saat ini El Nino–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) berada dalam kondisi netral, sehingga tidak memberikan pengaruh dominan.
Monsun Australia diperkirakan akan menguat dan berperan dalam membawa massa udara yang bersifat kering dari wilayah Australia ke Indonesia.
"Meskipun begitu, potensi hujan sepekan ke depan masih dapat terjadi akibat pengaruh dinamika atmosfer lainnya," kata BMKG dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).
Baca juga: Menurut BMKG, Curah Hujan 2026 akan Lebih Rendah dari Curah Hujan 30 Tahun Terakhir
Diprediksi, hujan sedang hingga lebat bakal melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, dan Bengkulu pada 21-23 April 2026.
Kemudian di Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Sedangkan pada 24-27 April 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga hujan sedang.
Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang sampai lebat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, serta Papua Selatan.
Baca juga: BMKG Wanti-wanti Karhutla di Tengah El Nino dan Musim Kemarau
BMKG menjelaskan, hujan masih terjadi di tengah peralihan musim kemarau karena fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO). Selain itu, gelombang kelvin diprakirakan aktif di Sumatera, Jawa bagian barat, Kalimantan, Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian selatan, serta Papua.
"Sementara itu, gelombang rossby ekuatorial diprediksi aktif di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian selatan, dan Papua Selatan. Berbagai dinamika atmosfer tersebut dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut," papar BMKG.
BMKG lantas mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
"Pengendara kendaraan bermotor juga perlu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, yang berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan," jelas BMKG.
Masyarakat diimbau untuk waspasa terhadap potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir dengan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh, serta membatasi aktivitas di ruang terbuka saat hujan disertai angin kencang dan petir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya