Gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas menyebabkan atmosfer menyimpan panas lebih lama. Tutupan awan yang meningkat juga berperan seperti “selimut” yang menahan panas di permukaan Bumi pada malam hari.
Penulis utama studi dari University of Alberta, Kaiwei Luo, mengatakan kelembapan malam hari kini tidak lagi pulih seperti sebelumnya.
“Kelembapan di malam hari tidak kembali dari kekeringan siang hari seperti dulu,” ujarnya.
Baca juga: Cuaca Pemicu Kebakaran Hutan Naik 3 Kali Lipat, Bagaimana di Asia Tenggara?
Dengan tren pemanasan global yang terus berlanjut, para ilmuwan memperkirakan kondisi ini akan semakin memburuk di masa depan.
Kebakaran yang tidak mereda di malam hari berpotensi tumbuh lebih besar dan lebih sulit dikendalikan, sehingga meningkatkan risiko kerusakan lingkun
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya