Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas

Kompas.com, 22 April 2026, 19:20 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bauran energi bersih di berbagai negara meningkat, seiring dengan krisis energi yang terjadi saat ini. Berdasarkan laporan lembaga Think Tank Ember, China dan India berada di posisi teratas dengan pertumbuhan energi baru terbarukan (EBT).

Kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di negara itu mencapai 887 terawatt hour (TWh) pada 2025, melampaui pertumbuhan total permintaan listrik global sebesar 849 TWh.

Tahun lalu penggunaan pembangkit energi fosil di China juga turun 0,9 persen atau 56 TWh, sedangkan di India 3,3 persen atau 56 TWh.

Baca juga: Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang

"Mereka sekarang secara agresif mengejar strategi diversifikasi dengan memasukkan energi terbarukan ke dalam bauran. Dan sumber-sumber inilah yang menjadi pendorong terbesar perubahan dalam sistem listrik mereka saat ini,” ungkap Analis Data Senior Ember, Nicolas Fulghum dilansir dari Euro News, Rabu (22/4/2026).

Menurut laporan Ember, China memimpin dunia dalam penggunaan energi surya, dan bertanggung jawab atas lebih dari setengah pertumbuhan kapasitas dan produksi surya global tahun lalu. Selain itu, menyumbang sebagian besar peningkatan energi angin global dengan tambahan kapasitas 138 TWh/

Sementara, India mencatat peningkatan rekor dalam produksi energi surya, angin, dan pembangkit listrik tenaga air. Fulghum menyebutkan bahwa selama bertahun-tahun, India mengalami pertumbuhan pembangkit fosil yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya.

"AS dan Eropa masing-masing menambah 85 terawatt hour dan 60 terawatt hour energi surya tahun lalu, sementara bahan bakar fosil mengalami sedikit peningkatan," papar dia.

Baca juga: Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya

Adapun Ember menganalisis data listrik dari 215 negara, dan mempelajari catatan tahun 2025 di 91 negara yang menurut lembaga tersebut mewakili 93 persen permintaan global.

Pangsa energi terbarukan termasuk surya, angin, tenaga air, dan energi bersih lainnya mencapai lebih dari sepertiga bauran listrik dunia untuk pertama kalinya pada tahun lalu. Angkanya meningkat menjadi 33,8 persen atau 10.730 TWh.

Angin Segar untuk EBT

Fulghum menilai hal ini menjadi angin segar bagi dunia yang menghadapi perubahan iklim akibat bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas. Analisis itu juga sangat relevan di tengah krisis energi global yang diperparah oleh perang Amerika Serikat-Israel versus Iran.

“Capaian seperti energi terbarukan melampaui batu bara memang penting, tetapi tidak menceritakan keseluruhan kisah sektor listrik. Perbedaan besar dibanding 10–15 tahun lalu, ketika pemerintah hanya berjanji membangun energi terbarukan, adalah bahwa sekarang janji-janji tersebut jauh lebih dapat dipercaya," ucap Fulghum.

Energi surya yang tumbuh 30 persen pada 2025 memenuhi tiga perempat kenaikan bersih permintaan listrik tahun lalu. Jika digabung dengan energi angin, memenuhi 99 persen kenaikan tersebut.

Pembangkit Fosil Turun

Secara global, pembangkit berbahan bakar fosil turun sekitar 0,2 persen pada 2025 atau setara 38 TWh. Fulghum mengngkapkan, penyimpanan baterai juga tumbuh seiring dengan percepatan energi surya di seluruh dunia, dengan kapasitas penyimpanan meningkat 46 persen pada 2025.

Ember memperkirakan kapasitas baterai yang ditambahkan tahun lalu cukup untuk memindahkan 14 persen produksi energi surya tambahan dari siang hari ke waktu lain dalam sehari. Hal ini menjadi bagian penting untuk memanfaatkan energi surya di luar siang hari, saat energi tersebut dihasilkan.

“Meski pertumbuhan yang dipercepat dan peningkatan permintaan listrik akibat pembangunan kendaraan listrik, pompa panas, serta elektrifikasi sektor industri, energi bersih akan mampu secara struktural memenuhi peningkatan permintaan tersebut dalam beberapa tahun ke depan, sebelum kemudian membalikkan tren dan mengurangi penggunaan pembangkitan fosil,” kata Fulghum.

Sejauh ini Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menekan pelaku industri untuk meningkatkan produksi batu bara, minyak, dan gas serta mengurangi dukungan terhadap EBT. Akan tetapi, pembangkit fosil di Eropa justru terus menurun.

Baca juga: Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB

Dekan Columbia University Climate School, Alexis Abramson menyatakan kondisi itu memperlihatkan bahwa meskipun ada upaya menyerang energi bersih di AS dan tantangan terkait perang transisi energi terus mengalami kemajuan di seluruh dunia.

“Saat kita melihat harga minyak sangat tidak stabil saat ini karena perang, saya pikir semakin banyak orang melihat argumen keamanan nasional sebagai alasan untuk memikirkan bagaimana kita meningkatkan elektrifikasi dan memanfaatkan tambahan energi surya dan angin, yang tidak bergantung pada negara lain,” sebut Abramson.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
LSM/Figur
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
LSM/Figur
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Pemerintah
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Pemerintah
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Swasta
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
LSM/Figur
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
LSM/Figur
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Swasta
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
LSM/Figur
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
LSM/Figur
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Pemerintah
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Swasta
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
BUMN
Hari Bumi 2026: Tema dan Sejarahnya
Hari Bumi 2026: Tema dan Sejarahnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau