Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya

Kompas.com, 21 April 2026, 17:24 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Apple mengungkapkan bahwa mereka telah meningkatkan kapasitas energi terbarukan yang digunakan oleh para pemasoknya hingga lebih dari 20 GW pada tahun 2025.

Menurut laporan tahunan kemajuan lingkungan perusahaan tersebut, angka ini naik hampir 10 persen dibanding tahun sebelumnya, dan meningkat dua kali lipat lebih sejak tahun 2021.

Melansir ESG Today, Senin (20/4/2026) proses pembuatan produk menyumbang lebih dari separuh total jejak karbon Apple. Oleh karena itu, mengajak pemasok beralih ke energi bersih menjadi salah satu langkah utama perusahaan untuk mencapai target iklimnya.

Apple menargetkan untuk menjadi netral karbon di seluruh lini bisnis, rantai pasok, dan siklus hidup produknya pada tahun 2030. Rencana ini mencakup pengurangan emisi sebesar 75 persen pada tahun 2030, dan perusahaan juga telah berkomitmen untuk memangkas emisi hingga 90 persen pada tahun 2050.

Baca juga: Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem

Salah satu cara yang diambil Apple untuk mencapai target tersebut adalah dengan mewajibkan seluruh rantai pasok produksinya untuk menggunakan 100 persen listrik terbarukan sebelum tahun 2030.

Sejak tahun 2015, Apple telah menjalankan Program Energi Bersih Pemasok untuk membantu para pemasok beralih ke listrik ramah lingkungan. Bantuan ini diberikan melalui berbagai cara, seperti dukungan kebijakan, informasi mengenai pilihan pembelian energi terbarukan, analisis data, serta kesempatan berdiskusi langsung dengan para ahli energi terbarukan.

Secara total, Apple melaporkan bahwa kapasitas energi terbarukan yang telah beroperasi di rantai pasoknya meningkat menjadi 20,7 GW pada tahun 2025, naik dari 18,9 GW pada tahun 2024 dan 10,3 GW pada tahun 2021.

Selain itu, penggunaan energi terbarukan oleh para pemasok juga meningkat menjadi 38,3 juta MWh tahun lalu, naik dari 31,3 juta MWh pada tahun sebelumnya.

Emisi di rantai pasok berkurang

Apple memperkirakan bahwa penggunaan energi terbarukan oleh para pemasok berhasil menghindari lebih dari 26 juta metrik ton emisi gas rumah kaca pada tahun 2025, naik dari 21,8 juta ton pada tahun 2024.

Selain itu, 2 juta ton emisi lainnya berhasil dikurangi melalui upaya penghematan energi bersama pemasok, serta 6 juta ton emisi berkat penggunaan bahan baku rendah karbon.

Meski ada kemajuan dalam peralihan pemasok ke energi bersih, Apple melaporkan bahwa total emisi gas rumah kaca mereka tidak berubah sepanjang tahun ini. Hal ini terjadi karena pengurangan emisi pada proses pembuatan dan penggunaan produk tertutupi oleh meningkatnya emisi dari bagian transportasi produk.

Namun secara keseluruhan, jejak emisi Apple saat ini tetap 60 persen lebih rendah dibandingkan dengan level emisi mereka pada tahun 2015.

Baca juga: Investor Belanda Jajaki Kerja Sama Energi Terbarukan dengan Pemprov Papua

Lebih lanjut, Apple menguraikan sejumlah pencapaian keberlanjutan lainnya dalam laporan tersebut, termasuk keberhasilan mereka beralih ke kemasan yang 100 persen berbasis serat tahun lalu. Hal ini memenuhi janji mereka untuk menghapus penggunaan plastik dalam kemasan pada tahun 2025.

Selain itu, Apple mencapai penggunaan 30 persen bahan daur ulang di seluruh produk yang dikirim pada tahun 2025. Ini termasuk penggunaan 100 persen kobalt daur ulang untuk semua baterai buatan Apple dan 100 persen unsur tanah jarang daur ulang pada magnetnya.

Perusahaan juga mengumumkan bahwa mereka telah memulihkan lebih dari separuh air yang digunakan untuk mendukung kantor global, pusat data, dan toko ritel mereka pada tahun 2025.

"Di setiap bagian bisnis kami, kami menunjukkan bagaimana inovasi dan kerja sama dapat mengubah ide besar menjadi kemajuan yang nyata. Mulai dari memperbanyak penggunaan bahan daur ulang hingga menghapus plastik dari kemasan kami, kami menetapkan standar baru yang memotivasi kami untuk bekerja lebih keras lagi demi kebaikan manusia dan bumi," ungkap Sabih Khan, Direktur Operasional Apple.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
LSM/Figur
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Pemerintah
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
LSM/Figur
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Pemerintah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Swasta
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
LSM/Figur
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Pemerintah
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
LSM/Figur
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
LSM/Figur
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
RI Dinilai Sibuk Bahas Teknologi dan Lupa Bangun Ekosistem Penanganan Sampah
RI Dinilai Sibuk Bahas Teknologi dan Lupa Bangun Ekosistem Penanganan Sampah
Swasta
Eks Kepala DLH DKI Jakarta Jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang
Eks Kepala DLH DKI Jakarta Jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang
Pemerintah
Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Pemerintah
Gasifikasi Dinilai Tak Cocok untuk Sampah Kota, BRIN Soroti Risiko PLTSa di Indonesia
Gasifikasi Dinilai Tak Cocok untuk Sampah Kota, BRIN Soroti Risiko PLTSa di Indonesia
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau