Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah

Kompas.com, 22 April 2026, 13:57 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Physorg

KOMPAS.com - Studi terbaru menunjukkan bahwa rumput berakar dalam memiliki kemampuan signifikan dalam menyimpan karbon di dalam tanah, sekaligus berpotensi mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Earth's Future dan dikutip dari Phys.org Rabu (22/4/2026) itu menemukan bahwa jenis rumput berakar dalam, seperti switchgrass, mampu menyimpan karbon lebih banyak dibandingkan tanaman berakar dangkal tanpa merusak bahan organik yang sudah ada di tanah.

Dalam studi tersebut, rumput switchgrass tercatat menyimpan tambahan sekitar 0,58 metrik ton karbon per hektar di bagian akar dibandingkan tanaman tahunan berakar dangkal.

Baca juga: Menteri Maman: Rumput Laut dan Singkong Bisa Jadi Bahan Plastik

Penulis utama studi dari Yale University, Eric Slessarev, mengatakan temuan ini memperkuat pemahaman bahwa tanaman berakar dalam berperan penting dalam menjaga kualitas tanah.

“Secara keseluruhan, ini memperkuat gagasan bahwa rumput berakar dalam dapat bermanfaat bagi kesehatan tanah. Perbedaannya sangat mencolok,” ujar Slessarev

Dukung Kesehatan Tanah

Selain menyimpan karbon, rumput berakar dalam juga diketahui mampu meningkatkan kandungan nutrisi tanah dan membantu mencegah erosi.

Akar tanaman yang dapat menembus hingga kedalaman 1,5 hingga 3 meter ini memungkinkan penyerapan karbon organik di lapisan tanah yang lebih dalam dan stabil.

Temuan ini sekaligus mengonfirmasi asumsi lama bahwa tanaman berakar dalam memiliki potensi manfaat iklim yang lebih besar dibandingkan tanaman pertanian konvensional.

Penelitian ini juga menyoroti potensi pemanfaatan tanaman berakar dalam sebagai bahan baku bioenergi yang lebih berkelanjutan.

Berbeda dengan tanaman seperti jagung yang dapat menguras kesuburan tanah, tanaman seperti switchgrass dinilai lebih ramah terhadap ekosistem tanah.

“Jika kita dapat menemukan peran bagi tanaman berakar dalam dalam perekonomian yang lebih luas, itu akan bermanfaat bagi semua pihak,” kata Slessarev.

Penelitian dilakukan di 12 lokasi di sembilan negara bagian Amerika Serikat, termasuk Oklahoma, Texas, hingga Wisconsin.

Tim peneliti mengumpulkan lebih dari 700 sampel inti tanah untuk membandingkan kondisi tanah di bawah rumput berakar dalam dan tanaman berakar dangkal.

Baca juga: 50 Persen Padang Rumput di Seluruh Dunia Menyusut Akibat Krisis Iklim pada Akhir Abad Ini

Analisis dilakukan menggunakan isotop radiokarbon untuk memahami bagaimana akar tanaman memengaruhi komposisi kimia tanah di berbagai kedalaman.

Peran Tanah dalam Mitigasi Iklim

Para peneliti menekankan bahwa proses penyimpanan karbon di dalam tanah masih belum sepenuhnya dipahami, terutama pada lapisan yang lebih dalam.

Temuan ini membuka peluang penelitian lanjutan sekaligus memperkuat peran sektor pertanian dan penggunaan lahan dalam mendukung upaya pengurangan emisi karbon global.

Dengan pemanfaatan tanaman berakar dalam, tanah tidak hanya berfungsi sebagai media tanam, tetapi juga sebagai penyerap karbon yang penting dalam menghadapi krisis iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau