Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Pakai Tebu, Pertamina Akan Kembangkan Bioetanol dari Sorgum

Kompas.com, 25 April 2026, 11:14 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pertamina telah mengembangkan proyek percontohan (pilot project) bahan bakar nabati yang dihasilkan dari fermentasi biomassa sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hingga saat ini, bioetanol yang diproduksi Pertamina masih memakai bahan baku berbasis molase atau tetes tebu. Pertamina sedang melakukan kajian untuk diversifikasi bahan baku selain dari tebu. Pertamina menganggap aren dan sorgum sudah memenuhi spesifikasi untuk menjadi bahan bakar nabati untuk dicampur ke bensin.

"Saat ini, kami bergerak ke (arah) bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar eksisting," ujar Manager Sustainability Rating & Disclosure PT Pertamina (Persero), Hendrick Warman dalam webinar Our Power; Our Planet, Jumat (24/4/2026).

Baca juga: Lampung Kembangkan Bioethanol Melalui multifeedstock Komoditas Lokal

Bioetanol dari molase tebu dan sorgum yang dicampurkan ke bensin bisa meningkatkan kualitas bahan bakar. Bioetanol yang dicampurkan ke Pertamax akan membuat nilai research octane number (RON)-nya semakin tinggi dan mengurangi jejak karbonnya.

Pertamina mencampurkan 5 persen bioetanol ke dalam bensin yang terimplementasi melalui produk Pertamax Green 95.

"95 berarti RON-nya adalah 95, di atas Pertamax, di bawah Pertamax Turbo yang 98. Campurannya 5 persen bioetanol dan saat ini baru dijual di DKI Jakarta dan di Surabaya," tutur Hendrick.

Pertamina juga bekerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) sebagai penyuplai bioetanolnya dengan kapasitas etanolnya 30.000 kiloliter per tahun. Kapasitas bioetanol akan ditingkatkan dengan menambah pabrik yang sudah Pertamina groundbreaking di kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi.

"Itu masih menggunakan kebun eksisting dari PTPN dan juga menggunakan bahan bakunya itu berasal dari kebun-kebun tebu dari masyarakat untuk meningkatkan harga dari etanol ini sendiri," ucapnya.

Sebelumnya, peneliti dari Pusat Studi Energi UGM, Irham menganggap, dari segi potensi persaingan kepentingan antara pangan dengan energi atau bioetanol, sorgum lebih bagus daripada tebu dan singkong. Kepentingan bioetanol dari tebu bersaing dengan kebutuhan pangan, seperti gula. Bahkan, kepentingan bioetanol dari singkong harus bersaing dengan berbagai produk pangan turunannya, terutama tapioka.

"Sorgum itu hampir tidak ada persaingan, kecuali nanti kalau pangan kita kurang," ujar Irham di Jakarta, Senin (8/12/2025).

Ketika ketersediaan pangan di Indonesia terjaga, potensi sorgum dapat diarahkan untuk bioetanol. Dari nira batang sorgum dapat menghasilkan sekitar 2.300 liter etanol/hektare per musim tanam. Sedangkan dari biji sorgum sekitar 1.800 liter etanol/hektare per musim tanam.

Baca juga: Mitigasi Bencana, Pertamina Patra Niaga Tanam 1.300 Pohon Saninten

Beberapa penelitian menunjukkan potensi hasil etanol dari sorgum manis per hektar sebenarnya bisa lebih banyak, tergantung varietasnya. Misalnya, varietas unggul bioguma (agritan) bisa menghasilkan 2.000-4.000 liter etanol/hektar dengan kadar gula kurang dari 15,5 persen, termasuk potensi biomassa mencapai 46-50 ton/hektare.

"Pangan kita sebenarnya sudah oke, maka sorgum bisa kita konsentrasikan ke bioetanol, sorgum manis itu konversi ke bioetanol besar itu. Sorgum ini kan bisa dipakai untuk pangan juga dan nanti bio product-nya bisa untuk pakan ternak. Jadi, ternak dapat, manusianya dapat, bioetanol, energinya dapat," tutur Irham.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemendagri Akselerasi ILASPP, Menata Batas Desa untuk Lindungi Ruang Hidup Warga Sultra
Kemendagri Akselerasi ILASPP, Menata Batas Desa untuk Lindungi Ruang Hidup Warga Sultra
Pemerintah
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
LSM/Figur
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
LSM/Figur
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Swasta
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
LSM/Figur
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
LSM/Figur
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Pemerintah
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Pemerintah
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
LSM/Figur
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
LSM/Figur
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
Pemerintah
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan 'Sanctuary Park'
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan "Sanctuary Park"
Swasta
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
LSM/Figur
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Pemerintah
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau