Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenapa Sungai di Jakarta Jadi Tempat Sempurna bagi Perkembangan Ikan Sapu-Sapu?

Kompas.com, 25 April 2026, 20:21 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kombinasi dari empat ciri khas utama ikan sapu-sapu yang menjadikannya super survivor, bahkan di perairan tercemar di mana spesies lokal lain tidak bisa bertahan.

Pertama, tubuh berlapis zirah, dengan kulit keras bertutul bak baju besi yang melindunginya dari predator. Kedua, mulut penghisap yang memungkinkan ikan sapu-sapu beradaptasi dengan menempel di dasar dan menyedot alga atau detrius. Ketiga, sirip punggung menyerupai layar, dengan 9-14 duri.

Keempat, organ pernapasan tambahan, dengan lambung dimodifikasi untuk bertahan di perairan minim oksigen.

Baca juga: Pakar IPB: Kerugian Tahunan Invasi Ikan Sapu-Sapu di RI Capai Rp 2,72 Triliun

"Ini yang paling menakjubkan secara biologis, lambungnya itu sudah berevolusi menjadi organ pernapasan tambahan ya. Ini bisa menghirup udara dan bertahan di air dengan oksigen yang sangat rendah sekali, bahkan bisa bertahan di lumpur," ujar pakar spesies akuatik invasif dari IPB Univesity, Surya Gentha Akmal dalam sebuah webinar, Sabtu (25/4/2026).

Ikan sapu-sapu begitu sukses menginvasi perairan Indonesia lantaran bisa menghasilkan sekitar 19.000 telur per siklus reproduksi, dengan fekunditas ekstrem, yang mana betina bereproduksi beberapa kali per tahun. Ikan sapu-sapu mampu berkembang biak secara sangat luar biasa, yang mana jantan bisa bereproduksi dengan dua betina atau berpotensi berlipat ganda.

Perparah banjir

Ikan sapu-sapu dapat menggali lubang sarang di tebing sungai, waduk, atau danau hingga kedalaman 1 meter dan lebar 25 cm, yang digunakannya untuk bertelur sekaligus menjaga anak-anaknya.

"Karena sapu-sapu termasuk ikan yang parental care, jadi jantan akan memelihara anak-anaknya. Kedalaman liang sarangnya ini bukan lubang cacing, tapi terowongan. Jadi, kalau ada banyak ikan sapu-sapu membuat liang di bawah, maka struktur sungai itu juga akan terganggu, akan rusak dinding-dinding sungainya," tutur Gentha.

Liang sarang ikan sapu-sapu dapat meruntuhkan tebing sungai, waduk, atau danau, serta memperparah pendangkalan dan sedimentasi karena material galian dari perilaku spesies invasif ini.

Baca juga: Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu Jadi Alarm Pencemaran Sungai Ciliwung

Menurut Gentha, limbah biologis yang diekskresikan oleh ikan sapu-sapu sangat tinggi, yang memperburuk beban sedimen di dasar sungai. Imbasnya, kapasitas daya tampung sungai semakin menurun dan meningkatkan risiko banjir di perkotaan, seperti Jakarta.

"Dampak (ikan sapu-sapu) ini menjadi lapisan baru dari masalah banjir di Jakarta yang sudah kronis. Sudah banjir akibat kiriman datang dari Bogor, karena limpasan yang luar biasa besar, karena debit air yang besar, dan kemudian ditambah juga dengan masalah ikan sapu-sapu yang merusak dinding-dinding sungai," ucapnya.

Metabolisme dari ikan sapu-sapu memperparah kualitas air di sungai-sungai tercemar dengan menyuburkan bakteri dan menurunkan kadar oksigen terlarut, yang pada gilirannya menguatkan dominasinya dengan bertahap dalam kondisi ekstrem. Ini mengingat, spesies ikan lokal yang membutuhkan kadar oksigen tinggi tidak dapat hidup di sungai-sungai dengan kualitas air buruk.

Proses pemusnahan Ikan sapu-sapu di Waduk Kaja, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (24/4/2026).Febryan Kevin/Kompas.com Proses pemusnahan Ikan sapu-sapu di Waduk Kaja, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (24/4/2026).

Populasi ikan sapu-sapu akan mendominasi perairan dengan cemaran tinggi atau sekitar 80 persen, dengan spesies lokal akan tersingkirkan secara biologis. Semakin kotor perairan, justru bertambah kuat dominasinya menjadi paradoks ikan sapu-sapu.

Toleransi terhadap BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) justru menjadi keunggulan sapu-sapu di sungai-sungai urban yang tercemar, dengan kondisi sangat mematikan bagi spesies lokal, seperti wader, tawes, serta gabus.

Baca juga: Tangkap Ikan Sapu-sapu untuk Dijual, 5 Pria di Pasar Baru Jakpus Diamankan Satpol PP

Ketika spesies lokal mati atau menyingkir dari perairan tercemar, ikan sapu-sapu malah memanfaatkan lambung tambahannya untuk menghirup udara, sehingga bisa terus bereproduksi dengan kondisi lingkungan yang ekstrem. Polusi air justru menciptakan itu justru menjadi ruang sempurna bagi ikan sapu-sapu untuk dapat bertahan hidup.

Di sisi lain, tidak ada predator alami di perairan Indonesia yang mampu memangsa ikan sapu-sapu dengan tubuh zirah dan berduri tajam. "Ikan-ikan predator lokal enggan untuk memakannya karena tidak didesain secara morfologis untuk memangsa ikan sapu-sapu.

"Jadi, tidak ada rem biologisnya di sini ya," ujar Gentha.. 

Krisis senyap

Dalam jangka panjang, monokultur spesies melalui dominasi ikan sapu-sapu akan meruntuhkan rantai makanan di suatu ekosistem. Sebenarnya, Indonesia memiliki lebih dari 1.300 spesies ikan air tawar, yang menjadikannya negara dengan keanekaragaman hayati perairan.

Namun, keragaman spesies di daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung saja saat ini menyusut secara bertahap, yang mana sebelum sapu-sapu banyak dilepasliarkan sejak tahun 1970-an, bisa mencapai 180 jenis ikan lokal. Lalu, pada 1990-an, hanya tercatat 80 jenis ikan lokal dan sekarang bahkan hanya tersisa 15 saja.

Ikan sapu-sapu melenyapkan populasi spesies lokal dengan merebut sumber makannya, alterasi habitat melalui mengubah dasar sungai secara permanen, serta menyantap telurnya. Bahkan, tingkat predasi sapu-sapu terhadap telur ikan lokal mencapai 90 persen.

Baca juga: Diam-diam Mendominasi, Ikan Sapu-sapu Disebut “Bersarang” di Kali Bekasi

"Ternyata, telurnya (ikan lokal) ini dimakan oleh sapu-sapu sebelum telur itu sempat untuk menetas dan menjadi larva, menjadi juvenile ya," tutur Gentha.

Berkaca dari invasi ikan sapu-sapu, Gentha mengingatkan bahwa sesungguhnya mencemari air berarti merusak kehidupan. Ia meyakini ada isu tata kelola sumber daya air di balik peliknya permasalahan ikan sapu-sapu.

"Ini adalah krisis yang saya bilang senyap. Krisis yang tidak terdengar karena tidak ada demo di jalanan ya, tapi krisis ini sedang berlangsung," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau