KOMPAS.com - Generasi Z atau Gen Z kerap dicap sebagai pemalas dalam dunia kerja. Padahal mereka tengah menolak budaya kerja yang memicu kelelahan ekstrem (burnout).
Psikoterapis, Kerry Lyn Stanton Downes mengungkapkan perbedaan cara pandang antar generasi menjadi akar permasalahan tersebut.
Pekerja senior dan lebih tua kerap menganggap Gen Z tidak cukup bekerja keras. Sedangkan Gen Z melihat generasi sebelumnya terlalu memaksakan diri dalam bekerja.
"Kenyataan yang menyedihkan adalah keduanya (generasi) sama-sama melewatkan inti persoalan. Saya tidak percaya Gen Z malas, survei Samsung tahun 2023 menemukan bahwa setengah dari usia 16–25 tahun ingin memulai bisnis mereka sendiri," ujar Downes dilansir dari Marie Claire, Sabtu (2/5/2026).
Baca juga: Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Survei menunjukkan, lebih dari 80 persen wirausaha Gen Z menyebut usaha mereka berbasis tujuan.
Downes menilai, hal itu memperlihatkan generasi muda memiliki motivasi tinggi, namun tidak percaya bahwa bekerja hingga burnout adalah bukti dedikasi dalam pekerjaan. Ia mengaku memahami mengapa label malas bekerja melekat pada pekerja Gen Z.
"Saya tumbuh di dunia di mana Anda menunjukkan nilai diri dengan datang lebih awal, pulang lebih larut, dan bekerja di akhir pekan. Kontrak tak tertulisnya sederhana, korbankan waktu Anda, dan kami akan memberi Anda stabilitas dan untuk waktu yang lama kontrak itu berjalan," jelas dia.
Saat ini, Gen Z tak lagi melihat pekerjaan harus mengorbankan waktu istirahat mereka di akhir pekan. Sikap tersebut lebih tepat dipahami sebagai respons bertahan hidup terhadap sistem kerja yang dianggap tidak lagi relevan.
Sebab mereka tumbuh dengan orangtua yang diberhentikan meski puluhan tahun loyal terhadap perusahaan.
"Ketika mereka membentuk cara pandang sendiri tentang waktu dan energi mereka, mereka disebut malas. Padahal mereka telah melihat kesepakatan yang ditawarkan dan memutuskan bahwa itu tidak layak untuk membuat diri mereka kelelahan, itu bukan cacat karakter melainkan adalah respons untuk bertahan hidup," papar Downes.
Baca juga: Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Menurut dia, Gen Z ataupun generasi sebelumnya sama-sama merasakan lelah.
Gen Z juga disebut lelah dengan sistem yang mengukur komitmen berdasarkan jam kerja, bukan dari dampak pekerjaan. Sementara, generasi yang lebih tua juga menghadapi tekanan akibat perubahan aturan kerja tanpa kejelasan.
Berdasarkan Riset Society for Human Resource Management, 61 persen pekerja Gen Z rela meninggalkan pekerjaan demi kesehatan mental yang lebih baik. Analisis Deloitte menemukan bahwa hanya 56 persen pekerja yang merasa nyaman membicarakan kesehatan mental dengan atasan mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya