Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Malas, Gen Z Mulai Tinggalkan Budaya Kerja yang Bikin "Burnout"

Kompas.com, 2 Mei 2026, 17:45 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Generasi Z atau Gen Z kerap dicap sebagai pemalas dalam dunia kerja. Padahal mereka tengah menolak budaya kerja yang memicu kelelahan ekstrem (burnout).

Psikoterapis, Kerry Lyn Stanton Downes mengungkapkan perbedaan cara pandang antar generasi menjadi akar permasalahan tersebut.

Pekerja senior dan lebih tua kerap menganggap Gen Z tidak cukup bekerja keras. Sedangkan Gen Z melihat generasi sebelumnya terlalu memaksakan diri dalam bekerja.

"Kenyataan yang menyedihkan adalah keduanya (generasi) sama-sama melewatkan inti persoalan. Saya tidak percaya Gen Z malas, survei Samsung tahun 2023 menemukan bahwa setengah dari usia 16–25 tahun ingin memulai bisnis mereka sendiri," ujar Downes dilansir dari Marie Claire, Sabtu (2/5/2026).

Baca juga: Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja

Survei menunjukkan, lebih dari 80 persen wirausaha Gen Z menyebut usaha mereka berbasis tujuan.

Downes menilai, hal itu memperlihatkan generasi muda memiliki motivasi tinggi, namun tidak percaya bahwa bekerja hingga burnout adalah bukti dedikasi dalam pekerjaan. Ia mengaku memahami mengapa label malas bekerja melekat pada pekerja Gen Z.

"Saya tumbuh di dunia di mana Anda menunjukkan nilai diri dengan datang lebih awal, pulang lebih larut, dan bekerja di akhir pekan. Kontrak tak tertulisnya sederhana, korbankan waktu Anda, dan kami akan memberi Anda stabilitas dan untuk waktu yang lama kontrak itu berjalan," jelas dia.

Saat ini, Gen Z tak lagi melihat pekerjaan harus mengorbankan waktu istirahat mereka di akhir pekan. Sikap tersebut lebih tepat dipahami sebagai respons bertahan hidup terhadap sistem kerja yang dianggap tidak lagi relevan.

Sebab mereka tumbuh dengan orangtua yang diberhentikan meski puluhan tahun loyal terhadap perusahaan.

"Ketika mereka membentuk cara pandang sendiri tentang waktu dan energi mereka, mereka disebut malas. Padahal mereka telah melihat kesepakatan yang ditawarkan dan memutuskan bahwa itu tidak layak untuk membuat diri mereka kelelahan, itu bukan cacat karakter melainkan adalah respons untuk bertahan hidup," papar Downes.

Baca juga: Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global

Menurut dia, Gen Z ataupun generasi sebelumnya sama-sama merasakan lelah.

Gen Z juga disebut lelah dengan sistem yang mengukur komitmen berdasarkan jam kerja, bukan dari dampak pekerjaan. Sementara, generasi yang lebih tua juga menghadapi tekanan akibat perubahan aturan kerja tanpa kejelasan.

Berdasarkan Riset Society for Human Resource Management, 61 persen pekerja Gen Z rela meninggalkan pekerjaan demi kesehatan mental yang lebih baik. Analisis Deloitte menemukan bahwa hanya 56 persen pekerja yang merasa nyaman membicarakan kesehatan mental dengan atasan mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau