Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura

Kompas.com, 6 Mei 2026, 09:37 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan lima teknologi untuk menghadapi banjir rob yang kian masif di Pesisir Utara Jawa (Pantura).

Kepala BRIN, Arif Satria menyebutkan teknologi tersebut meliputi tanggul tegak modular multifungsi dan blok modular beton, yang dirancang sebagai pelindung pantai sekaligus memiliki nilai tambah. Tanggul disebut menyerap energi gelombang dan sebagai jalur transportasi.

Selain itu, BRIN mengembangkan unit lapis lindung breakwater dengan sistem saling mengunci otomatis yang dinilai lebih stabil dan efisien.

Baca juga: Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik

Menurut Arif, unit lapis lindung ini sudah diterapkan di 11 daerah, terakhir pada 2025 dikembangkan di Nusa Penida, setelah dikembangkan di Pacitan, Sanur, Tuban, dan Nias.

“Jadi ini adalah bentuk teknologi yang saya kira sangat penting karena memiliki stabilitas tinggi, lebih ekonomis dan juga produksinya lebih sederhana,” ungkap Arif dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).

Ia menambahkan, BRIN turut menghadirkan platform arus laut yang memungkinkan tanggul dan dermaga berfungsi sebagai pembangkit energi mandiri.

"Kita membangun tanggul sekaligus pada saat yang sama kita memanen energi arus,” imbuh dia.

Pendekatan lain yang dikembangkan ialah hybrid eco-engineering, kombinasi rekayasa teknis dan solusi berbasis alam untuk memperkuat perlindungan pesisir. Arif berpandangan, kombinasi itu bisa mereduksi gelombang, menangkap sedimen, dan memulihkan ekosistem mangrove.

Baca juga: Banjir Rob Tak Cukup dengan Bangun Giant Sea Wall, BRIN Ungkap Risikonya

Teknologi yang dikembangkan BRIN bakal diimplementasikan dan didukung tingkat komponen dalam negeri yang tinggi.

“Salah satu kelebihan dari teknologi ini adalah TKDN-nya (Tingkat Komponen Dalam Negeri)
lebih dari 70 persen,” beber Arif.

Urgensi Perlindungan Pantura 

Sementara itu, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf menyatakan, Presiden Prabowo Subianto meminta rencana induk perlindungan Pantura segera disusun.

Pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak seperti kementerian lembaga terkait, universitas hingga tenaga ahli terkait penyusunan rencana induk penataan Pantura.

“Untuk teknologi kami dibantu oleh BRIN. Dengan teman-teman dari BRIN, sudah kami bicarakan lebih dari enam bulan bagaimana teknologi yang digunakan. Ada yang digunakan dari Indonesia sendiri, dari dalam, maupun ada yang dari luar,” ucap Didit.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi dalam penanganan Pantura. Baik melalui pembangunan infrastruktur yang adaptif maupun langkah mitigasi berbasis lingkungan.

“Kawasan Pantura menghadapi ancaman serius akibat kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut. Dua faktor ini menjadi ancaman nyata yang harus segera ditangani melalui langkah konkret dan terukur,” papar AHY.

Baca juga: BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat

Dia menilai, kawasan Pantura Jawa memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, yakni menyumbang sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Karenanya, pemerintah memprioritaskan perlindungan kawasan pesisir dan tanggul laut raksasa atau giant sea wall.

“Mengingat terdapat sekitar 55 juta penduduk tinggal di 20 kabupaten dan lima kota di wilayah pantura Jawa. Sementara itu, sekitar 26 persen masyarakat tinggal di kawasan pesisir, ini adalah urgensi yang kami harapkan mendorong dan menggerakkan semua," ujar AHY.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
LSM/Figur
ITDC Olah 22 Ton Sampah organik Per Hari
ITDC Olah 22 Ton Sampah organik Per Hari
BUMN
Dunia Terancam Kekurangan Beras Akibat Perang Timur Tengah dan El Niño
Dunia Terancam Kekurangan Beras Akibat Perang Timur Tengah dan El Niño
Pemerintah
Ini Alasan Pemprov Jakarta Belum Menindak Penjual Siomai-Bakso dari Daging Ikan Sapu-Sapu
Ini Alasan Pemprov Jakarta Belum Menindak Penjual Siomai-Bakso dari Daging Ikan Sapu-Sapu
Pemerintah
BPS Sebut Angka Pengangguran Turun 0,08 Persen dibanding Tahun Lalu
BPS Sebut Angka Pengangguran Turun 0,08 Persen dibanding Tahun Lalu
Pemerintah
Pendidikan Berkualitas untuk Semua, GNI Perkuat PAUD Inklusi di Kulon Progo
Pendidikan Berkualitas untuk Semua, GNI Perkuat PAUD Inklusi di Kulon Progo
LSM/Figur
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
LSM/Figur
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
Pemerintah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
LSM/Figur
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Pemerintah
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
LSM/Figur
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
LSM/Figur
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
Pemerintah
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau