JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan lima teknologi untuk menghadapi banjir rob yang kian masif di Pesisir Utara Jawa (Pantura).
Kepala BRIN, Arif Satria menyebutkan teknologi tersebut meliputi tanggul tegak modular multifungsi dan blok modular beton, yang dirancang sebagai pelindung pantai sekaligus memiliki nilai tambah. Tanggul disebut menyerap energi gelombang dan sebagai jalur transportasi.
Selain itu, BRIN mengembangkan unit lapis lindung breakwater dengan sistem saling mengunci otomatis yang dinilai lebih stabil dan efisien.
Baca juga: Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Menurut Arif, unit lapis lindung ini sudah diterapkan di 11 daerah, terakhir pada 2025 dikembangkan di Nusa Penida, setelah dikembangkan di Pacitan, Sanur, Tuban, dan Nias.
“Jadi ini adalah bentuk teknologi yang saya kira sangat penting karena memiliki stabilitas tinggi, lebih ekonomis dan juga produksinya lebih sederhana,” ungkap Arif dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).
Ia menambahkan, BRIN turut menghadirkan platform arus laut yang memungkinkan tanggul dan dermaga berfungsi sebagai pembangkit energi mandiri.
"Kita membangun tanggul sekaligus pada saat yang sama kita memanen energi arus,” imbuh dia.
Pendekatan lain yang dikembangkan ialah hybrid eco-engineering, kombinasi rekayasa teknis dan solusi berbasis alam untuk memperkuat perlindungan pesisir. Arif berpandangan, kombinasi itu bisa mereduksi gelombang, menangkap sedimen, dan memulihkan ekosistem mangrove.
Baca juga: Banjir Rob Tak Cukup dengan Bangun Giant Sea Wall, BRIN Ungkap Risikonya
Teknologi yang dikembangkan BRIN bakal diimplementasikan dan didukung tingkat komponen dalam negeri yang tinggi.
“Salah satu kelebihan dari teknologi ini adalah TKDN-nya (Tingkat Komponen Dalam Negeri)
lebih dari 70 persen,” beber Arif.
Sementara itu, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf menyatakan, Presiden Prabowo Subianto meminta rencana induk perlindungan Pantura segera disusun.
Pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak seperti kementerian lembaga terkait, universitas hingga tenaga ahli terkait penyusunan rencana induk penataan Pantura.
“Untuk teknologi kami dibantu oleh BRIN. Dengan teman-teman dari BRIN, sudah kami bicarakan lebih dari enam bulan bagaimana teknologi yang digunakan. Ada yang digunakan dari Indonesia sendiri, dari dalam, maupun ada yang dari luar,” ucap Didit.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi dalam penanganan Pantura. Baik melalui pembangunan infrastruktur yang adaptif maupun langkah mitigasi berbasis lingkungan.
“Kawasan Pantura menghadapi ancaman serius akibat kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut. Dua faktor ini menjadi ancaman nyata yang harus segera ditangani melalui langkah konkret dan terukur,” papar AHY.
Baca juga: BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Dia menilai, kawasan Pantura Jawa memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, yakni menyumbang sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Karenanya, pemerintah memprioritaskan perlindungan kawasan pesisir dan tanggul laut raksasa atau giant sea wall.
“Mengingat terdapat sekitar 55 juta penduduk tinggal di 20 kabupaten dan lima kota di wilayah pantura Jawa. Sementara itu, sekitar 26 persen masyarakat tinggal di kawasan pesisir, ini adalah urgensi yang kami harapkan mendorong dan menggerakkan semua," ujar AHY.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya