Semut jenis Formica, Pheidole, dan Pogonomyrmex yang banyak ditemukan di daerah beriklim sedang dan wilayah kering cenderung meningkatkan penyimpanan karbon sekaligus menambah jumlah gas yang dilepaskan ke udara.
Baca juga: Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Jenis semut lainnya hampir tidak memberikan pengaruh apa pun. Keluarga besar semut juga berpengaruh, di mana sarang kelompok Formicinae rata-rata mengeluarkan gas CO2 sebanyak 1,7 kali lebih banyak daripada sarang kelompok Myrmicinae.
Pola makan semut juga memberikan pengaruh yang berbeda-beda. Semut yang menggunakan kutu daun untuk mengambil cairan manisnya, atau semut yang mengumpulkan biji-bijian, menimbun bahan tanaman yang sangat mudah membusuk.
Bahan-bahan ini menjadi makanan bagi mikroba tanah dan memicu proses penyimpanan serta pelepasan karbon yang besar di dalam ekosistem.
Sementara itu, semut pemangsa menimbun sisa-sisa hewan yang kaya akan nitrogen, yang mengubah kandungan kimia tanah dengan cara yang berbeda.
Suhu dan curah hujan menentukan jenis semut apa yang tinggal di suatu tempat, apa yang mereka makan, dan bagaimana cara mereka membangun sarang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya