Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah

Kompas.com, 12 Mei 2026, 21:08 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com- Di sudut Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Wasriah (55) menenteng satu karung berisi kaleng, botol plastik, dan potongan besi. Waktu yang ia miliki untuk memulung kini tak banyak, yakni hanya sekitar satu jam setiap hari.

Namun, bagi Wasriah, satu jam bisa berarti mampu menghasilkan satu karung sampah. Itu lebih dari sekadar barang bekas, namun juga tabungan sekaligus dana darurat untuk menyambung hidup.

Dari hasil memulung, Wasriah tak lagi menjual semua temuannya kepada pengepul. Ia memilih menyisihkan barang-barang yang nilainya lebih tinggi, seperti besi dan kaleng, untuk ditabung di bank sampah yang dikelola komunitas Swara Hijau Farm.

Baca juga: Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin Sapu Teknologi

“Sekarang enggak semuanya dijual langsung. Yang mahal seperti besi atau kaleng saya kumpulkan dulu. Nanti kalau sudah banyak, dijual untuk kebutuhan bulanan,” ujar Wasriah kepada Kompas.com, Selasa (12/5/2026).

Tabungan sampah itu pernah menjadi penyelamatnya. Suatu ketika, Wasriah mencairkan hasil tabungannya sebesar Rp 150.000 untuk menutup kekurangan biaya kontrakan.

Nominal itu mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang. Namun bagi Wasriah, uang tersebut sangat berarti.

Ia masih menanggung kebutuhan tiga cucunya, termasuk biaya sekolah, makan, dan uang jajan. Belum lagi popok untuk salah satu cucunya yang masih balita.

“Popok mahal, ukuran XXL sekarang sekitar Rp 100.000. Itu cuma cukup untuk tiga hari,” katanya.

Hidup yang Tak Pernah Mudah

Perjalanan hidup Wasriah tak pernah lepas dari kesulitan.

Bertahun-tahun lalu, ia harus menghadapi kenyataan pahit ketika suaminya pergi meninggalkan dirinya bersama enam anak yang masih kecil. Saat itu, Wasriah terjerat utang hingga Rp 5 juta.

Ia melunasi utang itu perlahan-lahan dengan memulung dan bekerja di Swara Hijau Farm, sebuah kebun hidroponik dan pusat pemberdayaan warga di Klender.

Sebelum mengenal bank sampah, Wasriah beberapa kali meminjam uang dari bank keliling, dengan nilai mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 2 juta. Setiap kali ada kebutuhan mendesak, seperti sakit atau biaya sekolah, pinjaman berbunga tinggi itu menjadi satu-satunya jalan keluar.

Kini, situasinya mulai berubah. Selain bekerja di Swara Hijau Farm, Wasriah juga merawat suaminya yang telah kembali namun terserang stroke. Waktunya untuk memulung memang jauh berkurang dibanding dulu, ketika ia biasa menyusuri jalanan dari sore hingga tengah malam.

Namun, ia tetap bersyukur masih bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit sampah bernilai untuk ditabung.

Baca juga: Jerman Jadi Pengeskpor Sampah Plastik Terbesar di Dunia, Indonesia Tujuan Utamanya

Menabung dari Kardus dan Botol

Cerita serupa dialami Halimah. Setiap hari, perempuan itu memulung selama sekitar empat jam dan membawa pulang Rp 30.000 hingga Rp 40.000. Uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan dua anaknya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Pemerintah
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Pemerintah
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Pemerintah
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
BUMN
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Pemerintah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya  Ada yang Salah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya Ada yang Salah
Pemerintah
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
BUMN
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
BrandzView
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Pemerintah
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Pemerintah
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
Swasta
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
LSM/Figur
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin 'Sapu Teknologi'
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin "Sapu Teknologi"
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau