Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ingatkan Bahaya Panas Ekstrem di Piala Dunia 2026

Kompas.com, 15 Mei 2026, 14:04 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Persatuan pemain sepak bola dunia (FIFPRO) kembali menyatakan kekhawatiran mengenai suhu panas yang berpotensi terjadi di Piala Dunia 2026.

Hal ini disampaikan setelah para ilmuwan memperingatkan bahwa kemungkinan terjadinya suhu panas yang berbahaya bagi pemain dan penonton telah meningkat tajam.

Melansir CNA, Kamis (14/5/2026) sebuah analisis dari kelompok riset iklim, World Weather Attribution, menemukan bahwa sekitar seperempat dari 104 pertandingan yang diadakan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tersebut kemungkinan besar akan dimainkan dalam kondisi yang melampaui batas keamanan yang disarankan oleh FIFPRO.

Risiko ini hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Strategi melindungi pemain dan penonton

Para peneliti mengatakan bahwa sekitar lima pertandingan dapat berlangsung dalam kondisi yang dianggap tidak aman, sehingga disarankan untuk ditunda.

Baca juga: Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga

Para ilmuwan menilai risiko tersebut menggunakan waktu kick-off (mulai pertandingan) dan indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), yang mengukur seberapa efektif tubuh dapat mendinginkan dirinya sendiri.

“Perhitungan untuk memperkirakan kemungkinan pertandingan Piala Dunia FIFA 2026 dimainkan dalam kondisi suhu panas (WBGT) yang tinggi sangat sesuai dengan perhitungan kami yang diterbitkan pada tahun 2023,” kata direktur medis FIFPRO, Vincent Gouttebarge.

“Perkiraan ini membuktikan perlunya penerapan serangkaian strategi pencegahan untuk melindungi kesehatan dan performa pemain dengan lebih baik saat mereka terpapar kondisi panas,” terangnya.

FIFPRO menyarankan adanya tindakan pendinginan jika suhu WBGT naik di atas 26 derajat C dan menyatakan bahwa pertandingan harus ditunda jika suhu melampaui 28 derajat C. Angka tersebut setara dengan sekitar 38 derajat C pada cuaca panas yang kering atau 30 derajat C pada kelembapan tinggi.

FIFA mengatakan bahwa mereka telah menyiapkan rencana mengatasi risiko panas, dengan langkah-langkah yang mencakup istirahat minum selama tiga menit di setiap babak pertandingan, infrastruktur pendingin bagi penonton dan pemain, pengaturan waktu kerja dan istirahat, serta kesiapan medis yang ditingkatkan sesuai dengan kondisi saat itu.

"FIFA berkomitmen untuk melindungi kesehatan dan keselamatan para pemain, wasit, penonton, sukarelawan, dan staf," kata badan pengatur dunia tersebut dalam sebuah pernyataan.

Mempertimbangkan kembali jadwal Piala Dunia

Chris Mullington, seorang ahli medis dari Imperial College London, mengatakan bahwa cuaca panas ekstrem lebih cenderung memengaruhi cara pertandingan dimainkan daripada menyebabkan keadaan darurat medis yang luas di antara para pemain.

“Ini akan lebih menjadi masalah performa kemampuan bermain daripada masalah kesehatan,” katanya.

“Para pemain ini adalah atlet elite yang sudah terbiasa dengan berbagai cuaca. Anda akan melihat pemain mengatur kecepatan mereka sendiri. Kebiasaan mengatur suhu tubuh melalui perilaku tersebut sangat sulit untuk dihilangkan,” terangnya lagi.

Menurut analisis tersebut, sistem pendingin diharapkan dapat mengurangi sebagian risiko di tiga dari 16 lokasi tuan rumah.

Namun, lebih dari sepertiga pertandingan dengan peluang setidaknya 10 persen melampaui suhu 26 derajat C WBGT dijadwalkan di stadion-stadion tanpa AC, termasuk di Miami, Kansas City, New York, dan Philadelphia.

Baca juga: Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar

Hal itu mencakup pertandingan final di Stadion MetLife, New Jersey, yang kini menghadapi peluang satu banding delapan untuk melampaui batas suhu 26 derajat C.

Ada juga risiko sekitar 3 persen untuk mencapai tingkat suhu yang lebih berbahaya, risiko ini hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan tahun 1994.

Friederike Otto, profesor ilmu iklim di Imperial College London, mengatakan bahwa temuan ini menunjukkan perlunya FIFA mempertimbangkan kembali jadwal Piala Dunia di masa depan, terutama di wilayah yang rawan terkenas panas ekstrem saat musim panas.

“Dari sudut pandang kesehatan, sangat disarankan agar Piala Dunia diadakan lebih awal atau lebih akhir dalam setahun. Dengan begitu, kita bisa merayakan pesta sepak bola, bukannya menghadapi risiko kesehatan yang besar bagi seluruh kota,” kata Otto.

FIFPRO juga memperingatkan bahwa meskipun stadion ber-AC di kota-kota seperti Dallas dan Houston dapat membantu melindungi pemain, para penonton yang menghadiri pertandingan dan festival penggemar di luar ruangan tetap bisa terpapar panas yang berbahaya dalam waktu lama.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
LSM/Figur
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Pemerintah
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Pemerintah
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Pemerintah
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Pemerintah
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
LSM/Figur
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Pemerintah
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
Swasta
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
LSM/Figur
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Pemerintah
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Pemerintah
WBA: Lembaga Keuangan Belum Maksimal Dukung Transisi Hijau
WBA: Lembaga Keuangan Belum Maksimal Dukung Transisi Hijau
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau