Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia

Kompas.com, 17 Mei 2026, 17:33 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

BOGOR, KOMPAS.com — Dari balik ruang perawatan yang tenang di Istana Panda, kawasan Taman Safari Bogor, Jawa Barat, seekor panda mungil tampak sibuk menggigit rebung bambu kecil di dekatnya. Sesekali ia berguling dan mencoba “kabur” kala melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, Jumat (15/5/2026).

Namanya Rio atau Li Ao. Ia lahir dari pasangan Hu Chun (betina) dan Cai Tao (jantan) pada Kamis (27/11/2025).

Usianya memang belum genap satu tahun, tetapi tingkahnya sudah berhasil mencuri perhatian para perawat satwa. Pengunjung juga tak sabar menanti kemunculannya di area exhibit akhir Mei nanti.

Tubuh Rio kini tak lagi sekecil saat ia lahir yang hanya sekitar 100 gram. Seperti banyak bayi panda lain, Rio lahir dalam kondisi yang seakan-akan menyerupai prematur. Tubuhnya berwarna merah muda, matanya tertutup rapat, dan pendengarannya belum berfungsi.

Udai 40 hari berselang, tepatnya pada Selasa (6/1/2026), Rio diperlihatkan ke hadapan publik, termasuk Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong.

Perlahan-lahan, Rio berubah menjadi miniatur panda raksasa yang menggemaskan.
Belang hitam di sekitar mata dan telinganya semakin jelas. Bahkan, gigi pertamanya sudah tumbuh. Ia mulai belajar berjalan sendiri, menjaga keseimbangan tubuh, juga mencari benda untuk digigit, seperti rebung bambu lunak.

“Rio sudah mulai tumbuh gigi. Seperti bayi manusia, saat gigi mulai muncul, mulutnya terasa gatal dan ia mulai mencari benda-benda yang bisa digigit. Di sinilah kami mulai memperkenalkan bamboo shoot  (rebung) karena itu yang paling aman dan mudah dicerna,” ujar Vice President of Life Science Taman Safari Indonesia (TSI) drh Bongot Huaso Mulia Radjagoekgoek.

Baca juga: Dari Konservasi hingga Ekonomi Sirkular, Begini Transformasi Taman Safari Cisarua Jelang Hari Keanekaragaman Hayati

Perkembangan Rio juga tergolong sangat cepat ketimbang rata-rata bayi panda lainnya. Pada hari kelima, beratnya sudah mencapai 228 gram. Di hari ke-80, bobotnya melonjak menjadi 4,7 kilogram. Memasuki hari ke-160, beratnya mencapai 10,8 kilogram dan terus bertambah menjadi 11,5 kilogram pada hari ke-170.

Mata Rio bahkan sudah terbuka sejak usia dua bulan dan berfungsi normal. Padahal, kemampuan sensorik panda dikenal berkembang sangat lambat dan biasanya baru optimal pada usia enam hingga tujuh bulan.

Di usia empat bulan, Rio mulai berjalan sendiri dan berpindah tempat dengan lebih stabil. Ia juga mulai tidur terpisah dari induknya serta mengenali perawat melalui bau dan suara panggilan.

Grafik pertumbuhan bayi panda Rio di Taman Safari Bogor dinilai lebih cepat ketimbang pertumbuhan bayi panda pada umumnya.KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Grafik pertumbuhan bayi panda Rio di Taman Safari Bogor dinilai lebih cepat ketimbang pertumbuhan bayi panda pada umumnya.

Ada satu hal unik lain yang sempat membuat banyak orang penasaran, yakni warna tubuh Rio yang terlihat agak “pink”.

Menurut drh Bongot, warna itu bukan karena kondisi kesehatan tertentu, melainkan akibat air liur sang induk, Hu Chun, yang kaya mikroflora alami. Hu Chun diketahui jauh dari “baby blues” dan rajin menjilati anaknya sehingga warna kemerahan itu muncul pada bulu Rio.

Seiring pertambahan usia dan kemandirian Rio, warna tersebut akan memudar dengan sendirinya.

Baca juga: Menyelamatkan Spesies Endemik, Strategi Konservasi Taman Safari Indonesia di Era Perubahan Iklim


Kemunculan Rio di area publik nantinya juga tidak akan dilakukan sembarangan. Tim konservasi Taman Safari Indonesia memilih mengikuti pola alami panda di alam liar.

Di habitat aslinya, induk panda tidak menggendong anaknya saat keluar dari sarang. Bayi panda justru harus mampu berjalan sendiri mengikuti induknya sebagai mekanisme perlindungan alami terhadap predator.

Karena itu, Rio baru akan diperkenalkan secara bertahap ketika ia benar-benar percaya diri berjalan sendiri bersama Hu Chun.

Tonggak penting konservasi

Di balik tingkah lucu Rio, ada cerita panjang tentang teknologi, kesabaran, dan kerja konservasi lintas negara yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Kelahiran Rio menjadi tonggak penting bagi dunia konservasi satwa di Indonesia karena ia merupakan bayi panda raksasa pertama yang lahir di Indonesia melalui inseminasi buatan.

Keberhasilan itu juga menjadi pencapaian besar bagi Taman Safari Indonesia setelah empat kali menjalankan prosedur inseminasi sejak 2022.

Upaya pertama hingga ketiga belum membuahkan hasil sempurna. Dalam upaya ketiga yang dilakukan pada 2024, embrio sempat terkonfirmasi berkembang hingga hari ke-40 pasca-inseminasi, tetapi gagal berkembang lebih lanjut.

Pengalaman tersebut justru menjadi fondasi penting bagi keberhasilan pada 2025.

Tim medis kemudian menyempurnakan prosedur dengan pemantauan hormon yang lebih detail, penggunaan teknologi endoskopi, serta sistem visualisasi untuk memastikan posisi sel telur lebih akurat sebelum penempatan sperma dilakukan.

Seluruh proses melibatkan tim multidisiplin, mulai dari dokter hewan spesialis, ahli anestesi, teknisi reproduksi, hingga keeper yang memahami perilaku panda sehari-hari.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
800 Juta Anak Muda Hadapi Masa Depan Tanpa Pekerjaan, PBB Peringatkan
Pemerintah
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
Pemerintah
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
LSM/Figur
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Swasta
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Swasta
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
Desa Sejahtera Astra
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Pemerintah
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
Pemerintah
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Pemerintah
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau