BOGOR, KOMPAS.com — Dari balik ruang perawatan yang tenang di Istana Panda, kawasan Taman Safari Bogor, Jawa Barat, seekor panda mungil tampak sibuk menggigit rebung bambu kecil di dekatnya. Sesekali ia berguling dan mencoba “kabur” kala melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, Jumat (15/5/2026).
Namanya Rio atau Li Ao. Ia lahir dari pasangan Hu Chun (betina) dan Cai Tao (jantan) pada Kamis (27/11/2025).
Usianya memang belum genap satu tahun, tetapi tingkahnya sudah berhasil mencuri perhatian para perawat satwa. Pengunjung juga tak sabar menanti kemunculannya di area exhibit akhir Mei nanti.
Tubuh Rio kini tak lagi sekecil saat ia lahir yang hanya sekitar 100 gram. Seperti banyak bayi panda lain, Rio lahir dalam kondisi yang seakan-akan menyerupai prematur. Tubuhnya berwarna merah muda, matanya tertutup rapat, dan pendengarannya belum berfungsi.
Udai 40 hari berselang, tepatnya pada Selasa (6/1/2026), Rio diperlihatkan ke hadapan publik, termasuk Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong.
Perlahan-lahan, Rio berubah menjadi miniatur panda raksasa yang menggemaskan.
Belang hitam di sekitar mata dan telinganya semakin jelas. Bahkan, gigi pertamanya sudah tumbuh. Ia mulai belajar berjalan sendiri, menjaga keseimbangan tubuh, juga mencari benda untuk digigit, seperti rebung bambu lunak.
“Rio sudah mulai tumbuh gigi. Seperti bayi manusia, saat gigi mulai muncul, mulutnya terasa gatal dan ia mulai mencari benda-benda yang bisa digigit. Di sinilah kami mulai memperkenalkan bamboo shoot (rebung) karena itu yang paling aman dan mudah dicerna,” ujar Vice President of Life Science Taman Safari Indonesia (TSI) drh Bongot Huaso Mulia Radjagoekgoek.
Perkembangan Rio juga tergolong sangat cepat ketimbang rata-rata bayi panda lainnya. Pada hari kelima, beratnya sudah mencapai 228 gram. Di hari ke-80, bobotnya melonjak menjadi 4,7 kilogram. Memasuki hari ke-160, beratnya mencapai 10,8 kilogram dan terus bertambah menjadi 11,5 kilogram pada hari ke-170.
Mata Rio bahkan sudah terbuka sejak usia dua bulan dan berfungsi normal. Padahal, kemampuan sensorik panda dikenal berkembang sangat lambat dan biasanya baru optimal pada usia enam hingga tujuh bulan.
Di usia empat bulan, Rio mulai berjalan sendiri dan berpindah tempat dengan lebih stabil. Ia juga mulai tidur terpisah dari induknya serta mengenali perawat melalui bau dan suara panggilan.
Grafik pertumbuhan bayi panda Rio di Taman Safari Bogor dinilai lebih cepat ketimbang pertumbuhan bayi panda pada umumnya.Ada satu hal unik lain yang sempat membuat banyak orang penasaran, yakni warna tubuh Rio yang terlihat agak “pink”.
Menurut drh Bongot, warna itu bukan karena kondisi kesehatan tertentu, melainkan akibat air liur sang induk, Hu Chun, yang kaya mikroflora alami. Hu Chun diketahui jauh dari “baby blues” dan rajin menjilati anaknya sehingga warna kemerahan itu muncul pada bulu Rio.
Seiring pertambahan usia dan kemandirian Rio, warna tersebut akan memudar dengan sendirinya.
Baca juga: Menyelamatkan Spesies Endemik, Strategi Konservasi Taman Safari Indonesia di Era Perubahan Iklim
Kemunculan Rio di area publik nantinya juga tidak akan dilakukan sembarangan. Tim konservasi Taman Safari Indonesia memilih mengikuti pola alami panda di alam liar.
Di habitat aslinya, induk panda tidak menggendong anaknya saat keluar dari sarang. Bayi panda justru harus mampu berjalan sendiri mengikuti induknya sebagai mekanisme perlindungan alami terhadap predator.
Karena itu, Rio baru akan diperkenalkan secara bertahap ketika ia benar-benar percaya diri berjalan sendiri bersama Hu Chun.
Di balik tingkah lucu Rio, ada cerita panjang tentang teknologi, kesabaran, dan kerja konservasi lintas negara yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Kelahiran Rio menjadi tonggak penting bagi dunia konservasi satwa di Indonesia karena ia merupakan bayi panda raksasa pertama yang lahir di Indonesia melalui inseminasi buatan.
Keberhasilan itu juga menjadi pencapaian besar bagi Taman Safari Indonesia setelah empat kali menjalankan prosedur inseminasi sejak 2022.
Upaya pertama hingga ketiga belum membuahkan hasil sempurna. Dalam upaya ketiga yang dilakukan pada 2024, embrio sempat terkonfirmasi berkembang hingga hari ke-40 pasca-inseminasi, tetapi gagal berkembang lebih lanjut.
Pengalaman tersebut justru menjadi fondasi penting bagi keberhasilan pada 2025.
Tim medis kemudian menyempurnakan prosedur dengan pemantauan hormon yang lebih detail, penggunaan teknologi endoskopi, serta sistem visualisasi untuk memastikan posisi sel telur lebih akurat sebelum penempatan sperma dilakukan.
Seluruh proses melibatkan tim multidisiplin, mulai dari dokter hewan spesialis, ahli anestesi, teknisi reproduksi, hingga keeper yang memahami perilaku panda sehari-hari.
Teknologi inseminasi buatan menjadi sangat penting dalam konservasi panda karena satwa ini dikenal individualistik dan sangat selektif dalam memilih pasangan.
Baca juga: Misi Sunyi PCBA Taman Safari Prigen Selamatkan Spesies Terlupakan
Di lembaga konservasi (LK) TSI yang hanya memiliki sepasang panda, peluang reproduksi alami menjadi jauh lebih kecil. Oleh karena itu, teknologi reproduksi menjadi salah satu jalan penting untuk menjaga populasi panda dunia tetap bertambah.
Keberhasilan Rio bahkan tercatat sebagai satu-satunya kelahiran panda di luar China sepanjang 2025.
Indonesia pun menjadi negara Asia Tenggara berikutnya yang berhasil membiakkan panda melalui inseminasi buatan setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Kelahiran Rio juga mengingatkan dunia bahwa status panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca) belum sepenuhnya aman.
Sejak 1974, habitat panda di Provinsi Sichuan, China, disebut telah menyusut hingga 50 persen akibat penebangan liar dan kerusakan hutan. Padahal, panda membutuhkan pohon-pohon tinggi untuk berlindung dari predator sekaligus membuat lubang alami sebagai tempat melahirkan anak.
Baca juga: Marine Safari Bali, Gerbang Edukasi dan Konservasi Laut Nusantara
Saat ini, lebih dari 50 lembaga perlindungan panda di China terus bekerja menjaga habitat satwa tersebut, termasuk melarang penebangan liar di kawasan konservasi.
Upaya tersebut juga mencakup program konservasi ex-situ atau konservasi di luar habitat alami bersama lembaga konservasi di seluruh dunia, seperti Taman Safari Indonesia.
Sebagai informasi, panda raksasa pernah dikelompokkan ke dalam spesias yang berstatus “Terancam Punah” atau Endangered oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Berkat upaya konservasi masif lewat kolaborasi lintas negara, populasi panda kian meningkat.
Sejak 2016, panda raksasa pun naik status ke dalam spesies berstatus “Rentan” atau Vulnerable.
Hu Chun, induk dari bayi panda Rio di Taman Safari Bogor, diketahui jauh dari ?baby blues? dan rajin menjilati anaknya sehingga warna kemerahan itu muncul pada bulu Rio. Dalam konteks ini, keberhasilan Rio bukan sekadar kelahiran satwa baru, melainkan bagian dari upaya global menjaga keberlangsungan genetik panda raksasa.
Direktur Utama TSI Group Aswin Sumampau mengatakan, kehadiran Rio menunjukkan bahwa Indonesia kini memiliki kapasitas, fasilitas, dan sumber daya manusia untuk ikut terlibat dalam program konservasi satwa dunia.
“Konservasi tidak hanya berbicara soal memelihara satwa, tetapi juga tentang pengelolaan genetik, teknologi reproduksi, dan kesiapan habitat jangka panjang,” tegas Aswin.
Membesarkan panda di Indonesia tentu bukan perkara mudah.
Habitat asli panda berada di wilayah pegunungan bersuhu dingin dengan empat musim di China, sedangkan Indonesia memiliki iklim tropis dengan kelembapan tinggi.
Tantangan itulah yang selama bertahun-tahun coba dipecahkan oleh tim konservasi di Istana Panda Taman Safari Indonesia.
Baca juga: Tumbuh Gigi, Bayi Panda Rio yang Diberi Nama oleh Prabowo Mulai Diperkenalkan dengan Bambu
Berbeda dengan sejumlah fasilitas panda di negara lain yang lebih banyak mengandalkan ruangan tertutup berpendingin udara, Taman Safari Indonesia mengembangkan area outdoor yang dirancang menyerupai habitat alami panda di Sichuan.
Area tersebut memungkinkan panda tetap bisa memanjat, bermain di ruang terbuka, serta beradaptasi secara alami dengan lingkungannya.
Khusus pakan, Taman Safari Bogor telah menyediakan lahan seluas puluhan hektare yang ditumbuhi 17 jenis bambu dan 70 jenis rumput kesukaan mereka.
Tim perawat juga menerapkan protokol khusus dalam penanganan panda, khususnya Rio. Salah satunya adalah tidak menggunakan sarung tangan lateks ketika melakukan perawatan rutin karena panda diketahui sensitif terhadap bahan tersebut.
Selain itu, panda juga sangat sensitif terhadap suara keras dan cahaya flash kamera. Oleh karena itu, pengunjung nantinya akan diminta menjaga ketenangan, tidak berteriak, tidak berlari, dan tidak menggunakan flash saat Rio mulai tampil di area exhibit.
“Mulai akhir Mei ini, Rio rencananya akan diperkenalkan secara bertahap kepada publik dengan durasi kunjungan terbatas sekitar dua hingga tiga jam per hari,” jelas Aswin.
Jam kunjungan akan ditambah perlahan sesuai kesiapan sensorik dan psikologis Rio terhadap lingkungan ramai.
Kisah Rio juga tidak bisa dilepaskan dari hubungan diplomatik Indonesia dan China dalam bidang konservasi satwa.
Hu Chun dan Cai Tao tiba di Indonesia pada 28 September 2017 setelah menempuh perjalanan lebih dari 4.400 kilometer dari Sichuan. Saat itu, keduanya masih berusia tujuh tahun.
Proses pemindahan panda melibatkan tim ahli dari kedua negara untuk memastikan kondisi kesehatan, nutrisi, dan kenyamanan panda tetap terjaga sepanjang perjalanan menuju Indonesia.
Kedua panda ditempatkan di Istana Panda sebagai bagian kerja sama resmi antara Taman Safari Indonesia dan China Conservation and Research Center for the Giant Panda.
Baca juga: Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
Kehadiran panda di Indonesia bukan sekadar simbol persahabatan diplomatik, melainkan juga sarana transfer pengetahuan tentang perilaku, reproduksi, dan manajemen kesehatan panda raksasa.
Nama Rio sendiri memiliki cerita khusus.
Presiden Prabowo Subianto memberikan nama “Satrio Wiratama” saat menerima kunjungan Ketua Komite Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China Wang Huning di Istana Merdeka pada Desember 2025. Nama tersebut memiliki arti “pejuang mulia yang berani dan berbudi luhur”.
Dalam perjanjian konservasi, Cai Tao dan Hu Chun dijadwalkan tinggal di Indonesia hingga 2027. Setelah itu, kedua negara akan mendiskusikan apakah pasangan panda tersebut akan tetap berada di Indonesia atau ditukar dengan panda lain demi mengembangkan variasi genetika.
Sementara, untuk Rio, perjanjian berlaku selama empat tahun sejak kelahirannya. Dalam periode tersebut, pihak China akan mengevaluasi kesiapan fasilitas serta kondisi kesehatan Rio untuk menentukan langkah konservasi berikutnya.
Keberhasilan Rio hanyalah satu bagian dari program konservasi yang lebih luas di Taman Safari Indonesia.
Aswin memaparkan, selama beberapa tahun terakhir, TSI juga mengembangkan program inseminasi buatan pada berbagai satwa langka lain, seperti banteng Jawa, dan membuka peluang penerapan teknologi serupa pada anoa serta spesies endemik Indonesia lainnya.
Sebagai lembaga konservasi ex-situ, TSI juga mengembangkan biobank genetik berupa penyimpanan sperma satwa dalam nitrogen cair yang dapat bertahan hingga ratusan tahun.
(Dari kiri ke kanan) Vice President of Life Science Taman Safari Indonesia (TSI) drh Bongot Huaso Mulia Radjagoekgoek, Direktur Utama TSI Group Aswin Sumampau, dan General Manager TSI Bogor Sere Nababan.Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga keberagaman genetik apabila populasi satwa di alam liar terus menurun. TSI juga menawarkan kerja sama dengan lembaga konservasi lain di Indonesia untuk mengembangkan populasi secara lebih luas.
“Diperlukan populasi kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya untuk satwa endemik guna mencegah kepunahan akibat penyakit atau bencana lokal,” tegas Aswin.
Baca juga: Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Menurutnya, konservasi juga mencakup membangun populasi cadangan yang sehat secara genetik untuk masa depan.
Untuk mendukung hal itu, TSI memiliki dokter hewan dan perawat satwa liar yang ahli serta fasilitas lengkap. Mereka juga kerap terlibat dalam penyelamatan dan rehabilitasi satwa bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Selain konservasi satwa, pengelolaan lingkungan di kawasan TSI juga menjadi perhatian.
Sekitar 97 persen sampah di kawasan tersebut disebut dikelola secara mandiri, termasuk limbah organik dari kotoran satwa.
Menariknya, kotoran panda dan gajah bahkan diolah menjadi kertas daur ulang atau poo paper yang dijadikan suvenir edukatif bagi pengunjung sekaligus upaya untuk mewujudkan target zero emmision.
Di tengah segala tantangan itu, Rio hadir sebagai simbol kecil yang membawa harapan besar.
Dari seekor bayi panda mungil yang dulu hanya seberat 100 gram, kini Rio menjadi penanda bahwa Indonesia perlahan mulai mengambil peran lebih besar dalam panggung konservasi satwa dunia.
“Masa depan Rio juga akan ditentukan melalui program kolaboratif untuk memastikan ia dapat berkontribusi pada program pengembangbiakan global,” imbuh Aswin.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya