Kisah Rio juga tidak bisa dilepaskan dari hubungan diplomatik Indonesia dan China dalam bidang konservasi satwa.
Hu Chun dan Cai Tao tiba di Indonesia pada 28 September 2017 setelah menempuh perjalanan lebih dari 4.400 kilometer dari Sichuan. Saat itu, keduanya masih berusia tujuh tahun.
Proses pemindahan panda melibatkan tim ahli dari kedua negara untuk memastikan kondisi kesehatan, nutrisi, dan kenyamanan panda tetap terjaga sepanjang perjalanan menuju Indonesia.
Kedua panda ditempatkan di Istana Panda sebagai bagian kerja sama resmi antara Taman Safari Indonesia dan China Conservation and Research Center for the Giant Panda.
Baca juga: Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
Kehadiran panda di Indonesia bukan sekadar simbol persahabatan diplomatik, melainkan juga sarana transfer pengetahuan tentang perilaku, reproduksi, dan manajemen kesehatan panda raksasa.
Nama Rio sendiri memiliki cerita khusus.
Presiden Prabowo Subianto memberikan nama “Satrio Wiratama” saat menerima kunjungan Ketua Komite Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China Wang Huning di Istana Merdeka pada Desember 2025. Nama tersebut memiliki arti “pejuang mulia yang berani dan berbudi luhur”.
Dalam perjanjian konservasi, Cai Tao dan Hu Chun dijadwalkan tinggal di Indonesia hingga 2027. Setelah itu, kedua negara akan mendiskusikan apakah pasangan panda tersebut akan tetap berada di Indonesia atau ditukar dengan panda lain demi mengembangkan variasi genetika.
Sementara, untuk Rio, perjanjian berlaku selama empat tahun sejak kelahirannya. Dalam periode tersebut, pihak China akan mengevaluasi kesiapan fasilitas serta kondisi kesehatan Rio untuk menentukan langkah konservasi berikutnya.
Keberhasilan Rio hanyalah satu bagian dari program konservasi yang lebih luas di Taman Safari Indonesia.
Aswin memaparkan, selama beberapa tahun terakhir, TSI juga mengembangkan program inseminasi buatan pada berbagai satwa langka lain, seperti banteng Jawa, dan membuka peluang penerapan teknologi serupa pada anoa serta spesies endemik Indonesia lainnya.
Sebagai lembaga konservasi ex-situ, TSI juga mengembangkan biobank genetik berupa penyimpanan sperma satwa dalam nitrogen cair yang dapat bertahan hingga ratusan tahun.
Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga keberagaman genetik apabila populasi satwa di alam liar terus menurun. TSI juga menawarkan kerja sama dengan lembaga konservasi lain di Indonesia untuk mengembangkan populasi secara lebih luas.
“Diperlukan populasi kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya untuk satwa endemik guna mencegah kepunahan akibat penyakit atau bencana lokal,” tegas Aswin.
Baca juga: Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Menurutnya, konservasi juga mencakup membangun populasi cadangan yang sehat secara genetik untuk masa depan.
Untuk mendukung hal itu, TSI memiliki dokter hewan dan perawat satwa liar yang ahli serta fasilitas lengkap. Mereka juga kerap terlibat dalam penyelamatan dan rehabilitasi satwa bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Selain konservasi satwa, pengelolaan lingkungan di kawasan TSI juga menjadi perhatian.
Sekitar 97 persen sampah di kawasan tersebut disebut dikelola secara mandiri, termasuk limbah organik dari kotoran satwa.
Menariknya, kotoran panda dan gajah bahkan diolah menjadi kertas daur ulang atau poo paper yang dijadikan suvenir edukatif bagi pengunjung sekaligus upaya untuk mewujudkan target zero emmision.
Di tengah segala tantangan itu, Rio hadir sebagai simbol kecil yang membawa harapan besar.
Dari seekor bayi panda mungil yang dulu hanya seberat 100 gram, kini Rio menjadi penanda bahwa Indonesia perlahan mulai mengambil peran lebih besar dalam panggung konservasi satwa dunia.
“Masa depan Rio juga akan ditentukan melalui program kolaboratif untuk memastikan ia dapat berkontribusi pada program pengembangbiakan global,” imbuh Aswin.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya