Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia

Kompas.com, 17 Mei 2026, 17:33 WIB
Add on Google
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Simbol kerja sama Indonesia-China

Kisah Rio juga tidak bisa dilepaskan dari hubungan diplomatik Indonesia dan China dalam bidang konservasi satwa.

Hu Chun dan Cai Tao tiba di Indonesia pada 28 September 2017 setelah menempuh perjalanan lebih dari 4.400 kilometer dari Sichuan. Saat itu, keduanya masih berusia tujuh tahun.

Proses pemindahan panda melibatkan tim ahli dari kedua negara untuk memastikan kondisi kesehatan, nutrisi, dan kenyamanan panda tetap terjaga sepanjang perjalanan menuju Indonesia.

Kedua panda ditempatkan di Istana Panda sebagai bagian kerja sama resmi antara Taman Safari Indonesia dan China Conservation and Research Center for the Giant Panda.

Baca juga: Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi

Kehadiran panda di Indonesia bukan sekadar simbol persahabatan diplomatik, melainkan juga sarana transfer pengetahuan tentang perilaku, reproduksi, dan manajemen kesehatan panda raksasa.

Nama Rio sendiri memiliki cerita khusus.

Presiden Prabowo Subianto memberikan nama “Satrio Wiratama” saat menerima kunjungan Ketua Komite Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China Wang Huning di Istana Merdeka pada Desember 2025. Nama tersebut memiliki arti “pejuang mulia yang berani dan berbudi luhur”.

Dalam perjanjian konservasi, Cai Tao dan Hu Chun dijadwalkan tinggal di Indonesia hingga 2027. Setelah itu, kedua negara akan mendiskusikan apakah pasangan panda tersebut akan tetap berada di Indonesia atau ditukar dengan panda lain demi mengembangkan variasi genetika.

Sementara, untuk Rio, perjanjian berlaku selama empat tahun sejak kelahirannya. Dalam periode tersebut, pihak China akan mengevaluasi kesiapan fasilitas serta kondisi kesehatan Rio untuk menentukan langkah konservasi berikutnya.

Konservasi ex-situ

Keberhasilan Rio hanyalah satu bagian dari program konservasi yang lebih luas di Taman Safari Indonesia.

Aswin memaparkan, selama beberapa tahun terakhir, TSI juga mengembangkan program inseminasi buatan pada berbagai satwa langka lain, seperti banteng Jawa, dan membuka peluang penerapan teknologi serupa pada anoa serta spesies endemik Indonesia lainnya.

Sebagai lembaga konservasi ex-situ, TSI juga mengembangkan biobank genetik berupa penyimpanan sperma satwa dalam nitrogen cair yang dapat bertahan hingga ratusan tahun.

Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga keberagaman genetik apabila populasi satwa di alam liar terus menurun. TSI juga menawarkan kerja sama dengan lembaga konservasi lain di Indonesia untuk mengembangkan populasi secara lebih luas.

“Diperlukan populasi kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya untuk satwa endemik guna mencegah kepunahan akibat penyakit atau bencana lokal,” tegas Aswin.

Baca juga: Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama

Menurutnya, konservasi juga mencakup membangun populasi cadangan yang sehat secara genetik untuk masa depan.

Untuk mendukung hal itu, TSI memiliki dokter hewan dan perawat satwa liar yang ahli serta fasilitas lengkap. Mereka juga kerap terlibat dalam penyelamatan dan rehabilitasi satwa bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Selain konservasi satwa, pengelolaan lingkungan di kawasan TSI juga menjadi perhatian.
Sekitar 97 persen sampah di kawasan tersebut disebut dikelola secara mandiri, termasuk limbah organik dari kotoran satwa.

Menariknya, kotoran panda dan gajah bahkan diolah menjadi kertas daur ulang atau poo paper yang dijadikan suvenir edukatif bagi pengunjung sekaligus upaya untuk mewujudkan target zero emmision.

Di tengah segala tantangan itu, Rio hadir sebagai simbol kecil yang membawa harapan besar.

Dari seekor bayi panda mungil yang dulu hanya seberat 100 gram, kini Rio menjadi penanda bahwa Indonesia perlahan mulai mengambil peran lebih besar dalam panggung konservasi satwa dunia.

“Masa depan Rio juga akan ditentukan melalui program kolaboratif untuk memastikan ia dapat berkontribusi pada program pengembangbiakan global,” imbuh Aswin.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Swasta
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
LSM/Figur
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Pemerintah
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Pemerintah
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Pemerintah
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Pemerintah
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
LSM/Figur
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Pemerintah
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
Swasta
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
LSM/Figur
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Pemerintah
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau