Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia

Kompas.com, 17 Mei 2026, 17:33 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Teknologi inseminasi buatan menjadi sangat penting dalam konservasi panda karena satwa ini dikenal individualistik dan sangat selektif dalam memilih pasangan.

Baca juga: Misi Sunyi PCBA Taman Safari Prigen Selamatkan Spesies Terlupakan

Di lembaga konservasi (LK) TSI yang hanya memiliki sepasang panda, peluang reproduksi alami menjadi jauh lebih kecil. Oleh karena itu, teknologi reproduksi menjadi salah satu jalan penting untuk menjaga populasi panda dunia tetap bertambah.

Keberhasilan Rio bahkan tercatat sebagai satu-satunya kelahiran panda di luar China sepanjang 2025.

Indonesia pun menjadi negara Asia Tenggara berikutnya yang berhasil membiakkan panda melalui inseminasi buatan setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Panda dan ancaman di alam liar

Kelahiran Rio juga mengingatkan dunia bahwa status panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca) belum sepenuhnya aman.

Sejak 1974, habitat panda di Provinsi Sichuan, China, disebut telah menyusut hingga 50 persen akibat penebangan liar dan kerusakan hutan. Padahal, panda membutuhkan pohon-pohon tinggi untuk berlindung dari predator sekaligus membuat lubang alami sebagai tempat melahirkan anak.

Baca juga: Marine Safari Bali, Gerbang Edukasi dan Konservasi Laut Nusantara

Saat ini, lebih dari 50 lembaga perlindungan panda di China terus bekerja menjaga habitat satwa tersebut, termasuk melarang penebangan liar di kawasan konservasi.

Upaya tersebut juga mencakup program konservasi ex-situ atau konservasi di luar habitat alami bersama lembaga konservasi di seluruh dunia, seperti Taman Safari Indonesia.

Sebagai informasi, panda raksasa pernah dikelompokkan ke dalam spesias yang berstatus “Terancam Punah” atau Endangered oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Berkat upaya konservasi masif lewat kolaborasi lintas negara, populasi panda kian meningkat.

Sejak 2016, panda raksasa pun naik status ke dalam spesies berstatus “Rentan” atau Vulnerable.

Dalam konteks ini, keberhasilan Rio bukan sekadar kelahiran satwa baru, melainkan bagian dari upaya global menjaga keberlangsungan genetik panda raksasa.

Direktur Utama TSI Group Aswin Sumampau mengatakan, kehadiran Rio menunjukkan bahwa Indonesia kini memiliki kapasitas, fasilitas, dan sumber daya manusia untuk ikut terlibat dalam program konservasi satwa dunia.

“Konservasi tidak hanya berbicara soal memelihara satwa, tetapi juga tentang pengelolaan genetik, teknologi reproduksi, dan kesiapan habitat jangka panjang,” tegas Aswin.

Adaptasi panda di iklim tropis

Membesarkan panda di Indonesia tentu bukan perkara mudah.

Habitat asli panda berada di wilayah pegunungan bersuhu dingin dengan empat musim di China, sedangkan Indonesia memiliki iklim tropis dengan kelembapan tinggi.

Tantangan itulah yang selama bertahun-tahun coba dipecahkan oleh tim konservasi di Istana Panda Taman Safari Indonesia.

Baca juga: Tumbuh Gigi, Bayi Panda Rio yang Diberi Nama oleh Prabowo Mulai Diperkenalkan dengan Bambu

Berbeda dengan sejumlah fasilitas panda di negara lain yang lebih banyak mengandalkan ruangan tertutup berpendingin udara, Taman Safari Indonesia mengembangkan area outdoor yang dirancang menyerupai habitat alami panda di Sichuan.

Area tersebut memungkinkan panda tetap bisa memanjat, bermain di ruang terbuka, serta beradaptasi secara alami dengan lingkungannya.

Khusus pakan, Taman Safari Bogor telah menyediakan lahan seluas puluhan hektare yang ditumbuhi 17 jenis bambu dan 70 jenis rumput kesukaan mereka.

Tim perawat juga menerapkan protokol khusus dalam penanganan panda, khususnya Rio. Salah satunya adalah tidak menggunakan sarung tangan lateks ketika melakukan perawatan rutin karena panda diketahui sensitif terhadap bahan tersebut.

Selain itu, panda juga sangat sensitif terhadap suara keras dan cahaya flash kamera. Oleh karena itu, pengunjung nantinya akan diminta menjaga ketenangan, tidak berteriak, tidak berlari, dan tidak menggunakan flash saat Rio mulai tampil di area exhibit.

“Mulai akhir Mei ini, Rio rencananya akan diperkenalkan secara bertahap kepada publik dengan durasi kunjungan terbatas sekitar dua hingga tiga jam per hari,” jelas Aswin.

Jam kunjungan akan ditambah perlahan sesuai kesiapan sensorik dan psikologis Rio terhadap lingkungan ramai.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Data Baru Sebut Suhu Lautan Dunia Pecahkan Rekor Terpanas Sepanjang Juni
Data Baru Sebut Suhu Lautan Dunia Pecahkan Rekor Terpanas Sepanjang Juni
Pemerintah
Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan
Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Uni Eropa Adopsi Aturan Daur Ulang untuk Kendaraan
Uni Eropa Adopsi Aturan Daur Ulang untuk Kendaraan
Pemerintah
Ledakan Penduduk di Kawasan Industri Morowali Picu Krisis Sampah
Ledakan Penduduk di Kawasan Industri Morowali Picu Krisis Sampah
LSM/Figur
Tata Kelola Rantai Pasok Energi Jadi Fondasi Keberlanjutan Industri
Tata Kelola Rantai Pasok Energi Jadi Fondasi Keberlanjutan Industri
Swasta
Malaysia Andalkan Waste-to-Energy untuk Kurangi Sampah dan Hasilkan Listrik
Malaysia Andalkan Waste-to-Energy untuk Kurangi Sampah dan Hasilkan Listrik
Pemerintah
Kolaborasi 'Pendidikan Bilingual untuk Tuli', Menjadikan Bahasa Isyarat Hak Dasar Pendidikan Inklusi
Kolaborasi "Pendidikan Bilingual untuk Tuli", Menjadikan Bahasa Isyarat Hak Dasar Pendidikan Inklusi
LSM/Figur
NU dan Jihad Menjaga Lingkungan
NU dan Jihad Menjaga Lingkungan
Pemerintah
Bumi yang Lebih Panas, El Nino yang Lebih Mahal
Bumi yang Lebih Panas, El Nino yang Lebih Mahal
Pemerintah
Mandatori B50 Tak Bisa Jadi Strategi Jangka Panjang, IESR Desak Pemerintah Hitung Ulang Risiko
Mandatori B50 Tak Bisa Jadi Strategi Jangka Panjang, IESR Desak Pemerintah Hitung Ulang Risiko
LSM/Figur
Indonesia Perkuat Posisi sebagai Tujuan Strategis Investasi Aksi Iklim dan Transisi Energi
Indonesia Perkuat Posisi sebagai Tujuan Strategis Investasi Aksi Iklim dan Transisi Energi
Pemerintah
Dulu Semalam Dapat 10 Kg, Kini Nelayan Bahodopi Bersyukur Pulang Membawa Dua Ekor Ikan...
Dulu Semalam Dapat 10 Kg, Kini Nelayan Bahodopi Bersyukur Pulang Membawa Dua Ekor Ikan...
LSM/Figur
FAO Petakan Daerah yang Paling Rentan Kena Dampak Kekeringan
FAO Petakan Daerah yang Paling Rentan Kena Dampak Kekeringan
Pemerintah
Bank Dunia Batalkan Target Alokasi 45 Persen Dana Pinjaman untuk Proyek Iklim
Bank Dunia Batalkan Target Alokasi 45 Persen Dana Pinjaman untuk Proyek Iklim
Pemerintah
Tanpa Kendali Regulasi, AI Bakal Gagal Wujudkan Target SDG
Tanpa Kendali Regulasi, AI Bakal Gagal Wujudkan Target SDG
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau