Teknologi inseminasi buatan menjadi sangat penting dalam konservasi panda karena satwa ini dikenal individualistik dan sangat selektif dalam memilih pasangan.
Baca juga: Misi Sunyi PCBA Taman Safari Prigen Selamatkan Spesies Terlupakan
Di lembaga konservasi (LK) TSI yang hanya memiliki sepasang panda, peluang reproduksi alami menjadi jauh lebih kecil. Oleh karena itu, teknologi reproduksi menjadi salah satu jalan penting untuk menjaga populasi panda dunia tetap bertambah.
Keberhasilan Rio bahkan tercatat sebagai satu-satunya kelahiran panda di luar China sepanjang 2025.
Indonesia pun menjadi negara Asia Tenggara berikutnya yang berhasil membiakkan panda melalui inseminasi buatan setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Kelahiran Rio juga mengingatkan dunia bahwa status panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca) belum sepenuhnya aman.
Sejak 1974, habitat panda di Provinsi Sichuan, China, disebut telah menyusut hingga 50 persen akibat penebangan liar dan kerusakan hutan. Padahal, panda membutuhkan pohon-pohon tinggi untuk berlindung dari predator sekaligus membuat lubang alami sebagai tempat melahirkan anak.
Baca juga: Marine Safari Bali, Gerbang Edukasi dan Konservasi Laut Nusantara
Saat ini, lebih dari 50 lembaga perlindungan panda di China terus bekerja menjaga habitat satwa tersebut, termasuk melarang penebangan liar di kawasan konservasi.
Upaya tersebut juga mencakup program konservasi ex-situ atau konservasi di luar habitat alami bersama lembaga konservasi di seluruh dunia, seperti Taman Safari Indonesia.
Sebagai informasi, panda raksasa pernah dikelompokkan ke dalam spesias yang berstatus “Terancam Punah” atau Endangered oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Berkat upaya konservasi masif lewat kolaborasi lintas negara, populasi panda kian meningkat.
Sejak 2016, panda raksasa pun naik status ke dalam spesies berstatus “Rentan” atau Vulnerable.
Dalam konteks ini, keberhasilan Rio bukan sekadar kelahiran satwa baru, melainkan bagian dari upaya global menjaga keberlangsungan genetik panda raksasa.
Direktur Utama TSI Group Aswin Sumampau mengatakan, kehadiran Rio menunjukkan bahwa Indonesia kini memiliki kapasitas, fasilitas, dan sumber daya manusia untuk ikut terlibat dalam program konservasi satwa dunia.
“Konservasi tidak hanya berbicara soal memelihara satwa, tetapi juga tentang pengelolaan genetik, teknologi reproduksi, dan kesiapan habitat jangka panjang,” tegas Aswin.
Membesarkan panda di Indonesia tentu bukan perkara mudah.
Habitat asli panda berada di wilayah pegunungan bersuhu dingin dengan empat musim di China, sedangkan Indonesia memiliki iklim tropis dengan kelembapan tinggi.
Tantangan itulah yang selama bertahun-tahun coba dipecahkan oleh tim konservasi di Istana Panda Taman Safari Indonesia.
Baca juga: Tumbuh Gigi, Bayi Panda Rio yang Diberi Nama oleh Prabowo Mulai Diperkenalkan dengan Bambu
Berbeda dengan sejumlah fasilitas panda di negara lain yang lebih banyak mengandalkan ruangan tertutup berpendingin udara, Taman Safari Indonesia mengembangkan area outdoor yang dirancang menyerupai habitat alami panda di Sichuan.
Area tersebut memungkinkan panda tetap bisa memanjat, bermain di ruang terbuka, serta beradaptasi secara alami dengan lingkungannya.
Khusus pakan, Taman Safari Bogor telah menyediakan lahan seluas puluhan hektare yang ditumbuhi 17 jenis bambu dan 70 jenis rumput kesukaan mereka.
Tim perawat juga menerapkan protokol khusus dalam penanganan panda, khususnya Rio. Salah satunya adalah tidak menggunakan sarung tangan lateks ketika melakukan perawatan rutin karena panda diketahui sensitif terhadap bahan tersebut.
Selain itu, panda juga sangat sensitif terhadap suara keras dan cahaya flash kamera. Oleh karena itu, pengunjung nantinya akan diminta menjaga ketenangan, tidak berteriak, tidak berlari, dan tidak menggunakan flash saat Rio mulai tampil di area exhibit.
“Mulai akhir Mei ini, Rio rencananya akan diperkenalkan secara bertahap kepada publik dengan durasi kunjungan terbatas sekitar dua hingga tiga jam per hari,” jelas Aswin.
Jam kunjungan akan ditambah perlahan sesuai kesiapan sensorik dan psikologis Rio terhadap lingkungan ramai.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya