Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Baterai NMC Lebih Prospektif untuk Didaur Ulang ketimbang LFP

Kompas.com, 19 Mei 2026, 11:06 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia Battery Corporation (IBC) akan terjun ke industri daur ulang pada 2030 dengan mempertimbangkan masa pakai baterai pasca-penetrasi kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) sejak tahun 2023. Masa pakai baterai EV kemungkinan lebih dari tujuh tahun.

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif memperkirakan, performa baterai EV masih di atas 85 persen ketika usianya sudah tujuh tahun. Dari aspek keekonomian, baterai litium-ion Nickel Manganese Cobalt (NMC) lebih layak dibandingkan lithium iron phosphate (LFP).

Baterai litium-ion NMC bekas masih mengandung banyak komponen berharga, seperti nikel, kobalt, dan lithium. Sedangkan komponen baterai LFP yang dapat didaur ulang hanya lithium.

Baca juga: Permintaan Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik Dinilai Masih Prospektif

"Jadi, kami fokusnya pada recycling NMC. Kalau ternyata ketersediaan bahan bakunya belum mencukupi untuk butuh masuk ke nilai ekonomi, ya kami belum bisa jalan," ujar Aditya dalam MIND Club; Bincang-Bincang Baterai, Senin (18/5/2026).

Dari aspek emisi gas rumah kaca (GRK), perhitungan jejak karbon dan life cycle assessment (LCA) menunjukkan baterai lithium-ion NMC jauh lebih green ketimbang LFP. Hal itu disebabkan material-material hasil tambang dari baterai lithium-ion NMC bekas yang dapat dimanfaatkan kembali lebih banyak dibandingkan LFP.

‎"Karena CO2 yang diserap ketika lagi di-recycle itu akan meng-offset pemrosesan si nikel dan kobalt ketika lagi ditambang sekarang ini. Jadi sebetulnya kalau bicara untuk lingkungan lebih bagus NMC," ucapnya.

Dominasi LFP di Indonesia

Namun, LFP mendominasi pasar EV di Indonesia dengan harga lebih murah ketimbang NMC. Indonesia kemungkinan menghadapi permasalahan limbah baterai EV ke depannya jika LFP terlalu lama mendominasi.

Berkaca dari China, ketidaksinkronan ketersediaan bahan baku dengan spesifikasi kapasitas fasilitas justru menimbulkan kerugian karena hanya 10 persen baterai yang dapat didaur ulang.

Daur ulang dan pengumpulan baterai bekas akan mengadopsi mekanisme perluasan tanggung jawab produsen (Extended Producer Responsibility/EPR) yang regulasinya sekarang sedang disusun.

Dari aspek keamanan, kata dia, memang sebaiknya pengumpulan baterai bekas dilakukan produsennya sendiri. Ia juga tidak merekomendasikan untuk mengoprek baterai karena memodifikasi, membongkar, atau memperbaiki komponennya di luar peruntukan pabriknya bisa menimbulkan risiko bahaya.

Baca juga: Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam

"Recycling baterai itu agak beda dengan recycling elektronik. Kalau recycling elektronik itu kita lebur terus habis itu kita ekstrak nikelnya kurang lebih akan sama. Tapi, kalau baterai ada hal-hal tertentu, seperti doping materials yang antara satu produsen dengan yang lainnya beda," tutur Aditya.

Baterai LFP bekas dari mobil listrik biasanya dijadikan battery energy storage system (BESS) untuk mendukung pemanfaatan energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Namun, pemanfaatan kembali pasca performa baterai LFP untuk BESS menurun perlu dipikirkan kembali ke depannya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengamat: Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel Perkuat Industri Baterai Nasional
Pengamat: Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel Perkuat Industri Baterai Nasional
LSM/Figur
Apakah Kucing yang Memangsa Tikus Bisa Ikut Tularkan Hantavirus?
Apakah Kucing yang Memangsa Tikus Bisa Ikut Tularkan Hantavirus?
LSM/Figur
J&T Express Rilis Laporan ESG 2025, Dorong Keberlanjutan lewat Teknologi dan Aksi Sosial
J&T Express Rilis Laporan ESG 2025, Dorong Keberlanjutan lewat Teknologi dan Aksi Sosial
BrandzView
Gandeng SPE UI, Pertamina Internasional EP Tanam Mangrove di Pesisir Pantai Bekasi
Gandeng SPE UI, Pertamina Internasional EP Tanam Mangrove di Pesisir Pantai Bekasi
BUMN
East Ventures Catat Penurunan Emisi 23 Persen sepanjang 2025
East Ventures Catat Penurunan Emisi 23 Persen sepanjang 2025
Swasta
Dampak Tersembunyi Krisis Iklim, dari Kemiskinan hingga Kerja Paksa
Dampak Tersembunyi Krisis Iklim, dari Kemiskinan hingga Kerja Paksa
LSM/Figur
Sektor Kehutanan RI dan Lembaga Verra Percepat Perdagangan Karbon
Sektor Kehutanan RI dan Lembaga Verra Percepat Perdagangan Karbon
Pemerintah
Polusi Batu Bara Hambat Produktivitas Panel Surya
Polusi Batu Bara Hambat Produktivitas Panel Surya
Pemerintah
Jerman Diprediksi Gagal Mencapai Target Iklim 2045
Jerman Diprediksi Gagal Mencapai Target Iklim 2045
Pemerintah
Kekeringan Parah Dorong Hutan Tropis ke Ambang Kehancuran
Kekeringan Parah Dorong Hutan Tropis ke Ambang Kehancuran
Pemerintah
Survei: Kinerja Lingkungan Kini Jadi Pilar Inti Strategi Bisnis
Survei: Kinerja Lingkungan Kini Jadi Pilar Inti Strategi Bisnis
Pemerintah
Emisi Metana Bantargebang Peringkat 2 Global, Bisa Dimanfaatkan untuk EBT
Emisi Metana Bantargebang Peringkat 2 Global, Bisa Dimanfaatkan untuk EBT
Pemerintah
Kabupaten Sigi Jadi Laboratorium Adaptasi Perubahan Iklim
Kabupaten Sigi Jadi Laboratorium Adaptasi Perubahan Iklim
Pemerintah
Publik Desak WHO Tetapkan Krisis Iklim Jadi Darurat Kesehatan Global
Publik Desak WHO Tetapkan Krisis Iklim Jadi Darurat Kesehatan Global
Pemerintah
13 Spesies Kuda Laut di RI Terancam akibat Perdagangan dan Kerusakan Habitat
13 Spesies Kuda Laut di RI Terancam akibat Perdagangan dan Kerusakan Habitat
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau