KOMPAS.com - Penelitian baru dari Singapore University of Technology and Design (SUTD) dan Singapore-ETH Centre (SEC) menemukan bahwa alat pendingin pribadi seperti AC memang bisa melindungi orang dari udara panas.
Namun, alat ini ternyata membuat orang merasa bahwa solusi mengatasi krisis iklim di kota menjadi tidak terlalu mendesak lagi. Para peneliti kemudian menyebut pola ini sebagai "isolasi perilaku" atau behavioral insulation.
Melansir Phys, Rabu (20/5/2026) penelitian baru ini menemukan bahwa ketergantungan yang tinggi pada AC pribadi bisa menciptakan sebuah keanehan di perkotaan.
Baca juga: AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?
Paradoks yang dimaksud adalah makin sukses sebuah keluarga mendinginkan rumah mereka di dalam ruangan, maka semakin berkurang pula keinginan mereka untuk mendukung gerakan bersama yang bisa menurunkan suhu panas di kota untuk semua orang.
Karena AC sangat ampuh mengatasi rasa gerah akibat cuaca panas, alat ini akhirnya membuat kita merasa bahwa tindakan untuk menyelamatkan bumi baik dengan cara mengubah kebiasaan sehari-hari atau mendukung gerakan bersama seperti menanam pohon dan membuat peneduh di kota menjadi tidak terlalu mendesak lagi.
Singapura memberikan contoh awal yang sangat jelas tentang tantangan yang akan segera dihadapi oleh banyak kota lain yang suhunya makin memanas.
Singapura adalah kota yang padat, beriklim tropis, sangat modern, dan hampir semua warganya punya AC. Karena penggunaan AC makin meluas ke kota-kota lain yang juga makin panas, cara setiap keluarga menghadapi rasa gerah ini akan sangat memengaruhi jumlah kebutuhan listrik, rencana pembangunan kota, dan dukungan masyarakat terhadap aturan penyelamatan lingkungan.
Untuk bisa memahami pola ini, tim peneliti menguji jawaban survei dari 967 orang dewasa dari 416 keluarga di Singapura. Mereka juga memeriksa peta titik panas di kota tersebut serta catatan penggunaan listrik di rumah-rumah tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Orang-orang yang merasa sangat kepanasan biasanya lebih sering mengobrol tentang masalah iklim dan mengajak orang lain untuk ikut bertindak. Namun, hal ini jarang membuat mereka mengurangi penggunaan listrik di rumah sendiri.
Sementara orang-orang yang paling ketergantungan pada AC justru cenderung memakai lebih banyak listrik dan malas melakukan kebiasaan hemat energi.
"Salah satu temuan penting kami adalah bahwa merasakan suhu panas tidak otomatis membuat seseorang hemat energi atau mau ikut serta dalam aksi nyata menyelamatkan lingkungan secara bersama-sama," kata Dr. Natalia Borzino, penulis utama dan Peneliti Pascadoktoral di SEC.
"Orang-orang bisa saja menjadi lebih sadar tentang isu iklim dan lebih vokal protes tentang cuaca panas, sementara mereka sendiri masih sangat ketergantungan pada AC yang boros listrik untuk menjalani kehidupan sehari-hari," tambahnya.
Penggunaan AC yang berlebihan juga membuat orang kurang mendukung gerakan bersama untuk mendinginkan lingkungan seperti proyek menanam pohon atau membuat peneduh di sekitar perumahan.
Padahal, di saat yang sama, orang-orang tersebut rela mengeluarkan uang lebih banyak demi membuat bagian dalam rumah mereka sendiri menjadi lebih sejuk dan nyaman.
Baca juga: Permintaan AC Diprediksi Meningkat Tiga Kali Lipat pada Tahun 2050
Penelitian ini juga menemukan bahwa daerah perumahan yang suhunya lebih panas otomatis memakai lebih banyak listrik karena penggunaan AC yang meningkat. Hal ini membuktikan bahwa AC adalah penyebab utama mengapa suhu kota yang makin panas selalu diikuti oleh lonjakan kebutuhan listrik.
Jika disimpulkan, temuan ini menunjukkan masalah yang lebih besar daripada sekadar sifat cuek masing-masing orang. Ada pergeseran kebiasaan yang terjadi secara perlahan.
Ketergantungan yang luas pada AC pribadi lama-kelamaan bisa merusak mental dan kepedulian masyarakat untuk ikut serta dalam aksi nyata menyelamatkan bumi bersama-sama.
"Suhu panas bukan hanya masalah angka di termometer. Ini juga masalah perilaku manusia dan bagaimana kita mengatur rencana pembangunan kota," kata Samuel Chng, Profesor Asisten Peneliti dan Kepala Lab Psikologi Perkotaan di LKYCIC, SUTD.
"Jika kota-kota terlalu bergantung pada AC pribadi, mereka berisiko terjebak dalam kebutuhan listrik yang sangat tinggi, sekaligus melemahkan kerja sama masyarakat yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah panas di seluruh kota," terangnya.
Para peneliti ini bukan melarang orang memakai AC di kota yang panas dan lembap, alat pendingin memang sangat penting demi kenyamanan, kesehatan, dan kesejahteraan hidup.
Maksud dari penelitian ini adalah bahwa kota-kota tidak boleh menganggap AC sebagai satu-satunya jawaban otomatis untuk mengatasi suhu bumi yang makin panas.
Mengurangi ketergantungan pada AC berarti kita harus mengatasi suhu panas kota secara langsung yaitu dengan membuat peneduh, menanam lebih banyak pohon, mengatur aliran angin yang baik, menggunakan bahan bangunan yang memantulkan panas, serta merancang bangunan yang ramah iklim.
Dengan begitu, usaha membuat warga tetap merasa sejuk dan usaha menjaga lingkungan bisa berjalan beriringan.
Baca juga: Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim
"Penelitian ini menunjukkan bahwa beradaptasi dengan perubahan iklim bukan cuma masalah teknologi atau pembangunan fasilitas saja. Ini sebenarnya adalah masalah sosial dan perilaku manusia," kata Dr. Harvey Neo, Kepala Peneliti Utama dalam proyek Climate Resilient Citizenry.
"Tantangan bagi kota-kota besar adalah bagaimana merancang sebuah sistem di mana kenyamanan masing-masing orang dan keselamatan lingkungan bisa saling mendukung, bukan malah berjalan berlawanan arah," paparnya.
Karena penggunaan AC kini makin mudah dijangkau di berbagai wilayah dunia yang suhunya makin panas, hasil penelitian di Singapura ini menjadi sangat penting bagi kota-kota lain.
Alat pendingin bisa mengubah jumlah kebutuhan listrik suatu negara. Lebih dari itu, AC juga bisa mengubah cara pandang masyarakat terhadap tanggung jawab mereka dalam menghadapi masalah iklim.
Hal ini menunjukkan bahwa gerakan mendinginkan kota secara massal seperti penghijauan kini menjadi semakin penting, tidak bisa hanya mengandalkan AC di rumah masing-masing.
Karya ilmiah yang berjudul "Private cooling, urban heat, and the limits of collective climate action in tropical cities" diterbitkan dalam jurnal Sustainable Cities and Society.
Penelitian ini merupakan bagian dari proyek Climate Resilient Citizenry yakni sebuah kerja sama antar-lembaga yang menguji bagaimana penduduk kota melihat dan menghadapi risiko perubahan iklim.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya