Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Permintaan AC Diprediksi Meningkat Tiga Kali Lipat pada Tahun 2050

Kompas.com, 13 November 2025, 14:27 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan permintaan global untuk pendingin ruangan (AC) dapat meningkat lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2050.

Kesimpulan itu diambil berdasarkan laporan Global Cooling Watch 2025 yang dirilis di sela-sela KTT Iklim PBB COP30 di Belem, Amazon Brasil.

Program Lingkungan PBB (UNEP) mengungkapkan permintaan akan AC melonjak karena adanya peningkatan populasi dan pendapatan per kapita di banyak dunia. Selain itu juga ditambah dengan peningkatan suhu panas ekstrem.

PBB pun menyerukan mengenai solusi pendingin ruangan yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: Dilema AC, Menyejukkan Rumah, Memanaskan Bumi

Pasalnya, meningkatnya permintaan untuk sistem pendingin yang lebih berpolusi dan tidak efisien justru akan menggandakan emisi gas rumah kaca terkait pendinginan dibandingkan tingkat emisi tahun 2022.

"Kapasitas pendingin terpasang akan meningkat tiga kali lipat pada 2050. Namun miliaran orang masih akan kekurangan perlindungan yang memadai dari panas," tulis laporan UNEP.

"Kita harus menata ulang sistem pendingin, bukan sebagai sumber emisi tetapi sebagai landasan ketahanan terhadap panas dan pembangunan berkelanjutan," tulis laporan lagi seperti dikutip dari Techxplore, Rabu (12/11/2025).

Pertumbuhan permintaan pendingin paling pesat diproyeksikan terjadi di Afrika dan Asia Selatan.

"Seiring gelombang panas yang mematikan menjadi lebih sering dan ekstrem, akses ke sistem pendingin harus diperlakukan sebagai infrastruktur penting di samping air, energi, dan sanitasi," kata kepala UNEP, Inger Andersen, dalam sebuah pernyataan.

Namun, ia mengingatkan bahwa kita tidak dapat keluar dari krisis panas dengan AC yang akan meningkatkan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan biaya.

UNEP pun menawarkan opsi yang disebut pendinginan pasif. Termasuk di dalamnya adalah desain dinding dan atap yang lebih baik, peneduh, solusi tenaga surya di luar jaringan, dan ventilasi.

Baca juga: Bangun Rumah Sejuk Tanpa AC dan Minim Lampu? Bisa, Ini Caranya

Dampak potensial terhadap suhu dalam ruangan dari strategi pendinginan pasif berkisar antara 0,5 hingga 8 derajat Celsius.

"Solusi pasif, hemat energi, dan berbasis alam dapat membantu memenuhi kebutuhan pendinginan kita yang terus meningkat dan menjaga masyarakat, rantai makanan, dan perekonomian tetap aman dari panas seiring kita mengejar tujuan iklim global," kata Andersen.

Global Cooling Watch 2025 menunjukkan bahwa penerapan langkah-langkah tersebut dapat mengurangi emisi hingga 64 persen di bawah tingkat yang diperkirakan pada tahun 2050.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Pemerintah
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
LSM/Figur
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
LSM/Figur
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
LSM/Figur
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
LSM/Figur
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
LSM/Figur
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
LSM/Figur
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
LSM/Figur
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Pemerintah
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
LSM/Figur
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Swasta
Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak
Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak
LSM/Figur
Guru Besar IPB Sebut Kebun Sawit di Sumatera Bisa Jadi Hutan Kembali
Guru Besar IPB Sebut Kebun Sawit di Sumatera Bisa Jadi Hutan Kembali
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau