KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan permintaan global untuk pendingin ruangan (AC) dapat meningkat lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2050.
Kesimpulan itu diambil berdasarkan laporan Global Cooling Watch 2025 yang dirilis di sela-sela KTT Iklim PBB COP30 di Belem, Amazon Brasil.
Program Lingkungan PBB (UNEP) mengungkapkan permintaan akan AC melonjak karena adanya peningkatan populasi dan pendapatan per kapita di banyak dunia. Selain itu juga ditambah dengan peningkatan suhu panas ekstrem.
PBB pun menyerukan mengenai solusi pendingin ruangan yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: Dilema AC, Menyejukkan Rumah, Memanaskan Bumi
Pasalnya, meningkatnya permintaan untuk sistem pendingin yang lebih berpolusi dan tidak efisien justru akan menggandakan emisi gas rumah kaca terkait pendinginan dibandingkan tingkat emisi tahun 2022.
"Kapasitas pendingin terpasang akan meningkat tiga kali lipat pada 2050. Namun miliaran orang masih akan kekurangan perlindungan yang memadai dari panas," tulis laporan UNEP.
"Kita harus menata ulang sistem pendingin, bukan sebagai sumber emisi tetapi sebagai landasan ketahanan terhadap panas dan pembangunan berkelanjutan," tulis laporan lagi seperti dikutip dari Techxplore, Rabu (12/11/2025).
Pertumbuhan permintaan pendingin paling pesat diproyeksikan terjadi di Afrika dan Asia Selatan.
"Seiring gelombang panas yang mematikan menjadi lebih sering dan ekstrem, akses ke sistem pendingin harus diperlakukan sebagai infrastruktur penting di samping air, energi, dan sanitasi," kata kepala UNEP, Inger Andersen, dalam sebuah pernyataan.
Namun, ia mengingatkan bahwa kita tidak dapat keluar dari krisis panas dengan AC yang akan meningkatkan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan biaya.
UNEP pun menawarkan opsi yang disebut pendinginan pasif. Termasuk di dalamnya adalah desain dinding dan atap yang lebih baik, peneduh, solusi tenaga surya di luar jaringan, dan ventilasi.
Baca juga: Bangun Rumah Sejuk Tanpa AC dan Minim Lampu? Bisa, Ini Caranya
Dampak potensial terhadap suhu dalam ruangan dari strategi pendinginan pasif berkisar antara 0,5 hingga 8 derajat Celsius.
"Solusi pasif, hemat energi, dan berbasis alam dapat membantu memenuhi kebutuhan pendinginan kita yang terus meningkat dan menjaga masyarakat, rantai makanan, dan perekonomian tetap aman dari panas seiring kita mengejar tujuan iklim global," kata Andersen.
Global Cooling Watch 2025 menunjukkan bahwa penerapan langkah-langkah tersebut dapat mengurangi emisi hingga 64 persen di bawah tingkat yang diperkirakan pada tahun 2050.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya