Energi non-fosil sebenarnya sudah menyumbang 50 persen dari total kapasitas pembangkit yang terpasang di India, tetapi masalah infrastruktur dan kendala lainnya membuat negara tersebut masih menghasilkan sekitar tiga perempat kebutuhan listriknya dari batu bara.
Secara global, penutupan pembangkit listrik batu bara juga melambat tahun lalu, di mana hampir 70 persen pabrik yang seharusnya berhenti beroperasi justru tetap terus dinyalakan.
Baca juga: El Nino 2026 Berisiko Ganggu Rantai Pasok Batu Bara, Ini Bahayanya bagi RI dan Negara Importir
Di Eropa, batalnya target penutupan tersebut terutama disebabkan oleh keputusan-keputusan yang diambil selama krisis energi tahun 2022-2023, yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina.
Namun di Amerika Serikat, penundaan pensiunnya pembangkit batu bara terjadi karena adanya dorongan dari pemerintah untuk mendukung batu bara.
"Produksi listrik dari batu bara di AS melonjak lebih dari 80 TWh (terawatt-jam) dibandingkan tahun sebelumnya, sebuah angka yang sangat besar sehingga tidak ada negara lain yang mendekatinya," kata Shearer.
"Lonjakan tersebut bukan sekadar akibat dari permintaan listrik, melainkan mencerminkan kebijakan pemerintah yang secara aktif mendukungnya," tambah dia.
Secara global, produksi listrik dari batu bara naik 0,3 persen sepanjang tahun ini, kata Shearer, sementara produksi listrik dari energi angin dan surya melonjak 10 persen.
"Energi bersih menyerap sebagian besar kebutuhan listrik baru di dunia, sementara batu bara hampir tidak tumbuh sama sekali," kata Shearer.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya