Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

INDEF: Kebijakan Ekspor Satu Pintu Bisa Perkuat Tata Kelola Devisa

Kompas.com, 25 Mei 2026, 16:41 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai kebijakan tata kelola satu pintu ekspor sumber daya alam (SDA) melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) bisa memperkuat pengawasan devisa hasil ekspor sekaligus meningkatkan transparansi perdagangan komoditas strategis nasional.

Meski demikian, efektifitas peran lembaga tersebut sangat bergantung pada tata kelola dan transparansi implementasinya.

Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengatakan, kebijakan yang digagas Presiden Prabowo Subianto itu dapat mempersempit ruang praktik under-invoicing dan transfer pricing yang selama ini dinilai merugikan penerimaan negara.

Baca juga: Ekonom: Tata Kelola dan Komunikasi Jadi Penentu Keberhasilan PT DSI

“Aturan ini positif karena praktik under-invoicing bisa lebih diawasi, sehingga kemungkinan peningkatan devisa juga lebih besar,” ujar Esther dalam keterangannya, dikutip Senin (25/5/2026).

Melalui kebijakan tersebut, penjualan sejumlah komoditas strategis seperti kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi akan dilakukan melalui DSI yang ditunjuk pemerintah sebagai eksportir tunggal.

Pemerintah menilai mekanisme tersebut dapat memperkuat monitoring perdagangan, meningkatkan transparansi ekspor, serta mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor SDA.

Menurut Esther, model tata niaga terintegrasi memungkinkan negara memiliki kontrol lebih besar terhadap arus perdagangan komoditas strategis, termasuk dalam menjaga devisa hasil ekspor tetap masuk ke dalam negeri.

Ia menilai kebijakan satu pintu juga berpotensi meningkatkan posisi tawar Indonesia di pasar internasional karena proses perdagangan dilakukan melalui kanal yang lebih terkoordinasi.

“Karena satu pintu, bargaining power-nya juga bisa meningkat,” kata Esther.

Selain memperkuat pengawasan devisa, kebijakan tersebut dinilai dapat membantu pemerintah menjaga keseimbangan pasokan komoditas di dalam negeri.

Menurut Esther, pemerintah memiliki ruang lebih besar untuk mengatur volume ekspor ketika pasokan domestik mengalami tekanan.

“Kalau pasokan domestik kurang, ekspor bisa dikendalikan. Sebaliknya, kalau pasokan melimpah, ekspor dapat ditingkatkan,” ujarnya.

Esther menambahkan, pembentukan badan khusus untuk mengelola perdagangan komoditas strategis sebenarnya bukan hal baru di tingkat global.

Beberapa negara seperti Vietnam, Malaysia, hingga negara-negara Timur Tengah juga memiliki model kelembagaan serupa untuk memperkuat pengelolaan perdagangan nasional.

Tata Kelola

Terkait dengan tata kelola, ia menilai efektivitas kebijakan ekspor satu pintu akan sangat bergantung pada tata kelola dan transparansi implementasinya.

Baca juga: Tata Kelola SDA Diminta Harus Memberi Manfaat Optimal ke Negara dan Rakyat

Pemerintah, kata dia, perlu memastikan mekanisme pengawasan berjalan akuntabel dan mampu membangun kepercayaan pelaku pasar terhadap tujuan kebijakan tersebut.

“Kalau memang tujuannya untuk memperkuat kontrol devisa, meningkatkan penerimaan negara, dan mengurangi praktik penyimpangan perdagangan SDA, implementasinya harus transparan,” tutur Esther.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau