Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap WFH Bikin Pekerja Jadi Anti Sosial dan Depresi

Kompas.com, 9 Juni 2026, 12:37 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan bahwa kerja dari rumah atau work from home (WFH) dapat memicu pekerja menjadi anti sosial, merasa cemas, hingga depresi dibandingkan mereya yang bekerja di kantor. 

Ekonom Federal Reserve Bank of New York sekaligus penulis utama studi, Natalia Emanuel mengatakan WFH membuat seseorang memghabiskan kerja sendirian lebih lama. 

"Dibandingkan dengan pekerja yang pekerjaannya tidak dapat dilakukan secara jarak jauh, pekerja yang pekerjaannya dapat dilakukan secara remote menghabiskan sekitar satu jam tambahan sendirian setiap hari kerja setelah pandemi," ujar Emanuel dalam studinya, Selasa (9/6/2026). 

Baca juga: Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan

Menurut studi, kemungkinan seseorang yang tinggal sendiri menghabiskan satu hari penuh tanpa kontak sosial meningkat hingga 7 persen. Selain itu, para peneliti mencatat peningkatan penggunaan layanan kesehatan mental di kalangan pekerja yang bekerja dari rumah.

Emmanuel menjelaskan, skor tekanan psikologis berdasarkan ukuran Kessler (K-6) meningkat pada pekerja remote dibandingkan pekerja non-remote. Dampaknya, dua kali lebih besar pada pekerja yang tinggal sendiri dibandingkan mereka yang tinggal bersama keluarga.

"Berbagai ukuran lain terkait tekanan mental seperti frekuensi depresi, penggunaan layanan kesehatan mental, dan resep antidepresan menunjukkan tren yang serupa," beber dia. 

Baca juga: Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja Toxic

Sebaliknya, studi tersebut tidak menemukan peningkatan kunjungan ke layanan kesehatan non-mental atau penggunaan obat-obatan non-mental pada kelompok pekerja remote. Temuan ini menunjukkan, peningkatan layanan kesehatan mental bukan sekadar akibat fleksibilitas waktu yang lebih besar untuk mengakses layanan kesehatan.

Lebih lanjut, tim peneliti menguji berbagai faktor lain yang berpotensi memengaruhi hasil penelitian, termasuk paparan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI). Hasilnya tetap menunjukkan pola yang sama.

Sumbang sepertiga masalah

Secara keseluruhan, periode penelitian mengungkap adanya peningkatan tekanan mental di masyarakat. Berdasarkan analisis, sistem kerja remote menyumbang sekitar sepertiga dari kenaikan itu.

"Hasil penelitian mengindikasikan bahwa kerja remote secara signifikan meningkatkan isolasi sosial dan memperburuk kesehatan mental, terutama bagi mereka yang tinggal sendiri," ucao Emmanuel. 

Kendati banyak penelitian menemukan pekerja menginginkan fleksibilitas untuk bekerja secara remote, studi ini memperlihatkan para pekerja mungkin belum sepenuhnya menyadari dampak negatif kerja jarak jauh terhadap kesejahteraan mereka. 

Karenanya, pemahaman mengenai konsekuensi kerja jarak jauh dinilai penting bagi pekerja, perusahaan, maupun pemerintah dalam menyusun kebijakan kerja yang seimbang antara fleksibilitas dan kesehatan mental.

Sementara itu, Profesor di Booth School of Business Universitas Chicago, Nicholas Epley menilai banyak orang mungkin tidak sepenuhnya memahami konsekuensi jangka panjang dari bekerja jarak jauh.

Pekerja cenderung lebih mudah menyadari hal-hal yang tidak disukai dari bekerja di kantor. Misalnya, kemacetan dan waktu perjalanan yang panjang, dibandingkan memahami manfaat interaksi sosial sehari-hari yang hilang saat bekerja dari rumah.

Baca juga: Konsumsi Pertalite Turun Hampir 9 Persen, Pemerintah Perpanjang WFH 2 Bulan

"Orang sering meremehkan seberapa bahus hasil yang didapatkan ketika mereka benar-benar berupaya terhubung dengan orang lain," kata Epley dilansir dari NPR.

Dia menambahkan, beberapa penelitian mengidentifikasi isolasi dan kesepian bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental maupun fisik.

Psikolog dari University of Sussex, Gillian Sandstrom, mengatakan hubungan sosial merupakan salah satu faktor terpenting yang menentukan kebahagiaan dan kesejahteraan seseorang.

"Para psikolog percaya bahwa perasaan terhubung dan memiliki rasa kebersamaan sangat penting bagi manusia. Tanpa kebutuhan itu terpenuhi, kita akan menderita," papar dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengembangan SAF dari Limbah Pertanian Terkendala Teknologi dan Keekonomian
Pengembangan SAF dari Limbah Pertanian Terkendala Teknologi dan Keekonomian
LSM/Figur
Terkendala Visa, Beberapa Negara Terancam Gagal Hadiri Forum Iklim PBB
Terkendala Visa, Beberapa Negara Terancam Gagal Hadiri Forum Iklim PBB
Pemerintah
HUT Ke-47, Bintaro Jaya Perkuat Komitmen Bangun Kota Berkelanjutan lewat Ruang Publik Berbasis Konservasi
HUT Ke-47, Bintaro Jaya Perkuat Komitmen Bangun Kota Berkelanjutan lewat Ruang Publik Berbasis Konservasi
Swasta
Gajah Lahir di Taman Satwa Lampung, Dinamai Rut untuk Hormati Dubes Norwegia
Gajah Lahir di Taman Satwa Lampung, Dinamai Rut untuk Hormati Dubes Norwegia
Pemerintah
Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025
Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025
Pemerintah
Ketika Aksi Pilah Sampah Diajarkan Sejak Dini Lewat Karakter Animasi
Ketika Aksi Pilah Sampah Diajarkan Sejak Dini Lewat Karakter Animasi
LSM/Figur
Induk Gajah Ria Lahirkan Bayi Betina di Taman Nasional Tesso Nilo
Induk Gajah Ria Lahirkan Bayi Betina di Taman Nasional Tesso Nilo
Pemerintah
El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani
El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani
Pemerintah
Warga di Blitar Khawatirkan Pencemaran, Greenfield Buka Suara terkait Rencana Ekspansi
Warga di Blitar Khawatirkan Pencemaran, Greenfield Buka Suara terkait Rencana Ekspansi
Swasta
Sampah Elektronik Bisa Hasilkan Logam Mulia dan Kurangi Aktivitas Tambang
Sampah Elektronik Bisa Hasilkan Logam Mulia dan Kurangi Aktivitas Tambang
LSM/Figur
Pakar IPB: Pirolisis Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif, tapi Perlu Pengawasan Ketat
Pakar IPB: Pirolisis Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif, tapi Perlu Pengawasan Ketat
LSM/Figur
Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
LSM/Figur
Harga Pertamax Naik, Pekerja Kelas Menengah yang Paling Terdampak
Harga Pertamax Naik, Pekerja Kelas Menengah yang Paling Terdampak
Pemerintah
Refleksi Hari Laut Sedunia, Ironi Negara Kepulauan Justru Aktif Mengeruk Pasir Laut dan Reklamasi
Refleksi Hari Laut Sedunia, Ironi Negara Kepulauan Justru Aktif Mengeruk Pasir Laut dan Reklamasi
LSM/Figur
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 478 Juta Dollar AS
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 478 Juta Dollar AS
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau