KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan bahwa kerja dari rumah atau work from home (WFH) dapat memicu pekerja menjadi anti sosial, merasa cemas, hingga depresi dibandingkan mereya yang bekerja di kantor.
Ekonom Federal Reserve Bank of New York sekaligus penulis utama studi, Natalia Emanuel mengatakan WFH membuat seseorang memghabiskan kerja sendirian lebih lama.
"Dibandingkan dengan pekerja yang pekerjaannya tidak dapat dilakukan secara jarak jauh, pekerja yang pekerjaannya dapat dilakukan secara remote menghabiskan sekitar satu jam tambahan sendirian setiap hari kerja setelah pandemi," ujar Emanuel dalam studinya, Selasa (9/6/2026).
Baca juga: Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
Menurut studi, kemungkinan seseorang yang tinggal sendiri menghabiskan satu hari penuh tanpa kontak sosial meningkat hingga 7 persen. Selain itu, para peneliti mencatat peningkatan penggunaan layanan kesehatan mental di kalangan pekerja yang bekerja dari rumah.
Emmanuel menjelaskan, skor tekanan psikologis berdasarkan ukuran Kessler (K-6) meningkat pada pekerja remote dibandingkan pekerja non-remote. Dampaknya, dua kali lebih besar pada pekerja yang tinggal sendiri dibandingkan mereka yang tinggal bersama keluarga.
"Berbagai ukuran lain terkait tekanan mental seperti frekuensi depresi, penggunaan layanan kesehatan mental, dan resep antidepresan menunjukkan tren yang serupa," beber dia.
Baca juga: Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja Toxic
Sebaliknya, studi tersebut tidak menemukan peningkatan kunjungan ke layanan kesehatan non-mental atau penggunaan obat-obatan non-mental pada kelompok pekerja remote. Temuan ini menunjukkan, peningkatan layanan kesehatan mental bukan sekadar akibat fleksibilitas waktu yang lebih besar untuk mengakses layanan kesehatan.
Lebih lanjut, tim peneliti menguji berbagai faktor lain yang berpotensi memengaruhi hasil penelitian, termasuk paparan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI). Hasilnya tetap menunjukkan pola yang sama.
Secara keseluruhan, periode penelitian mengungkap adanya peningkatan tekanan mental di masyarakat. Berdasarkan analisis, sistem kerja remote menyumbang sekitar sepertiga dari kenaikan itu.
"Hasil penelitian mengindikasikan bahwa kerja remote secara signifikan meningkatkan isolasi sosial dan memperburuk kesehatan mental, terutama bagi mereka yang tinggal sendiri," ucao Emmanuel.
Kendati banyak penelitian menemukan pekerja menginginkan fleksibilitas untuk bekerja secara remote, studi ini memperlihatkan para pekerja mungkin belum sepenuhnya menyadari dampak negatif kerja jarak jauh terhadap kesejahteraan mereka.
Karenanya, pemahaman mengenai konsekuensi kerja jarak jauh dinilai penting bagi pekerja, perusahaan, maupun pemerintah dalam menyusun kebijakan kerja yang seimbang antara fleksibilitas dan kesehatan mental.
Sementara itu, Profesor di Booth School of Business Universitas Chicago, Nicholas Epley menilai banyak orang mungkin tidak sepenuhnya memahami konsekuensi jangka panjang dari bekerja jarak jauh.
Pekerja cenderung lebih mudah menyadari hal-hal yang tidak disukai dari bekerja di kantor. Misalnya, kemacetan dan waktu perjalanan yang panjang, dibandingkan memahami manfaat interaksi sosial sehari-hari yang hilang saat bekerja dari rumah.
Baca juga: Konsumsi Pertalite Turun Hampir 9 Persen, Pemerintah Perpanjang WFH 2 Bulan
"Orang sering meremehkan seberapa bahus hasil yang didapatkan ketika mereka benar-benar berupaya terhubung dengan orang lain," kata Epley dilansir dari NPR.
Dia menambahkan, beberapa penelitian mengidentifikasi isolasi dan kesepian bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental maupun fisik.
Psikolog dari University of Sussex, Gillian Sandstrom, mengatakan hubungan sosial merupakan salah satu faktor terpenting yang menentukan kebahagiaan dan kesejahteraan seseorang.
"Para psikolog percaya bahwa perasaan terhubung dan memiliki rasa kebersamaan sangat penting bagi manusia. Tanpa kebutuhan itu terpenuhi, kita akan menderita," papar dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya