Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Dinilai Jadi Magnet Investasi Sektor Mineral Kritis

Kompas.com, 8 Juni 2026, 20:52 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia dinilai menjadi tujuan investasi yang menarik di sektor mineral kritis. Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah mengatakan pengembangan industri hilir mineral, khususnya nikel, masih akan menarik investasi baru dalam jumlah besar dalam beberapa tahun mendatang.

Menurut dia, kapasitas fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) yang telah terpasang di Indonesia pun mencapai 600.000 ton nikel per tahun.

“Saat ini kapasitas HPAL terpasang di Indonesia telah mencapai sekitar 600.000 ton nikel per tahun, dengan tambahan kapasitas sekitar 400.000 ton yang masih dalam tahap pengembangan, setara dengan investasi sekitar 20 miliar dollar AS," ujar Arif dalam pelatihan jurnalisme yang digelar Shanghai Metals Market (SMM) dan Indonesia Business Post (IBP), ditulis Senin (8/6/2026).

Baca juga: Daur Ulang Nikel Stainless Steel untuk Baterai Boros Energi

"Dengan demikian, total kapasitas produksi nikel Indonesia berpotensi mencapai sekitar satu juta ton per tahun,” imbuh dia.

Arif berpendapat, peluang terbesar Indonesia ke depan terletak pada pengembangan industri hilir bernilai tambah tinggi yang mendukung transisi energi dan teknologi maju.

“Nikel, bauksit, tembaga, timah, unsur tanah jarang, serta mineral radioaktif merupakan sumber daya strategis yang dimiliki Indonesia dan dapat terus dikembangkan,” beber dia.

Pakar Hubungan Internasional President University, Teuku Rezasyah berpendapat saat ini persaingan global memperebutkan mineral kritis kian ketat.

Negara-negara yang memiliki sumber daya mineral disebut harus mampu mengelola dan memanfaatkan kekayaan alamnya secara mandiri agar memperoleh manfaat maksimal dari perubahan lanskap geopolitik.

Baca juga: Terlalu Fokus ke Baterai, Hilirisasi Nikel RI Kesampingkan Stainless Steel yang Lebih Potensial

“Indonesia harus memastikan memiliki kapasitas untuk mengendalikan dan mengelola mineral kritisnya secara penuh. Jika tidak, Indonesia berisiko dimanfaatkan oleh investor yang memiliki teknologi yang jauh lebih maju,” papar Teuku.

Ia lalu menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung pengelolaan industri mineral kritis di masa depan.

Sementara itu, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto menyatakan hilirisasi menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat perekonomian nasional.

Tarik investasi

Dia menjelaskan, pengolahan sumber daya alam di dalam negeri tidak hanya menciptakan nilai tambah yang lebih besar, tetapi juga mampu menarik investasi, meningkatkan ekspor, serta memperkuat ketahanan ekonomi.

“Hilirisasi menarik investasi asing langsung, menghasilkan pendapatan ekspor, dan mendatangkan devisa ke dalam negeri. Meskipun investor pada akhirnya dapat repatriasi dividen, pendapatan ekspor diperkirakan akan jauh lebih besar dibandingkan arus keluar tersebut," tutur Septian.

Baca juga: Daur Ulang Nikel Stainless Steel untuk Baterai Boros Energi

Dari sisi pasar, Chief Executive Officer SMM, Logan Lu mengungkapkan pentingnya peran kebijakan pemerintah dalam memengaruhi dinamika pasar komoditas global.

“Indonesia sudah memiliki kekuatan yang cukup besar dalam memengaruhi harga. Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang mempengaruhi harga, tetapi tidak dapat mengendalikan harga itu sendiri,” ucap Lu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pembiayaan Berkelanjutan DBS Indonesia Capai Rp15,6 Triliun di 2025
Pembiayaan Berkelanjutan DBS Indonesia Capai Rp15,6 Triliun di 2025
Swasta
Indonesia Dinilai Jadi Magnet Investasi Sektor Mineral Kritis
Indonesia Dinilai Jadi Magnet Investasi Sektor Mineral Kritis
Pemerintah
RI Perlu Susun Regulasi Pengurangan Emisi Metana di Sektor Migas
RI Perlu Susun Regulasi Pengurangan Emisi Metana di Sektor Migas
LSM/Figur
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 477,87 Juta Dollar AS
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 477,87 Juta Dollar AS
BUMN
AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal
AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal
Pemerintah
Privy Soroti Pentingnya Digital Trust bagi Masa Depan Ekonomi Digital
Privy Soroti Pentingnya Digital Trust bagi Masa Depan Ekonomi Digital
Swasta
Bumi Makin Kritis, Pemimpin Asia Desak Tindakan Nyata di Hari Lingkungan Hidup
Bumi Makin Kritis, Pemimpin Asia Desak Tindakan Nyata di Hari Lingkungan Hidup
Pemerintah
Pemadaman Listrik Berulang di Sumut, IESR Desak Evaluasi Ketahanan Transmisi Nasional
Pemadaman Listrik Berulang di Sumut, IESR Desak Evaluasi Ketahanan Transmisi Nasional
Swasta
Lebih dari 2 Miliar Orang Hadapi Panas Ekstrem Tanpa Pendingin Ruangan
Lebih dari 2 Miliar Orang Hadapi Panas Ekstrem Tanpa Pendingin Ruangan
LSM/Figur
Dua Sisi Piala Dunia, Cetak Keuntungan Sekaligus Picu Lonjakan Emisi Karbon
Dua Sisi Piala Dunia, Cetak Keuntungan Sekaligus Picu Lonjakan Emisi Karbon
Pemerintah
Korsel Ubah Bekas Wadah Bekas Mi Instan jadi Bahan Baku Petrokimia
Korsel Ubah Bekas Wadah Bekas Mi Instan jadi Bahan Baku Petrokimia
Pemerintah
Mei 2026, Perusahaan Teknologi PHK Karyawannya Imbas Perkembangan AI
Mei 2026, Perusahaan Teknologi PHK Karyawannya Imbas Perkembangan AI
Swasta
KKP Gandeng Konservasi Indonesia untuk Perkuat Pendanaan Inovatif
KKP Gandeng Konservasi Indonesia untuk Perkuat Pendanaan Inovatif
Pemerintah
Hari Laut Sedunia 2026: Pengingat agar Masyarakat Dunia Jaga Lautan
Hari Laut Sedunia 2026: Pengingat agar Masyarakat Dunia Jaga Lautan
Pemerintah
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau