JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia dinilai menjadi tujuan investasi yang menarik di sektor mineral kritis. Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah mengatakan pengembangan industri hilir mineral, khususnya nikel, masih akan menarik investasi baru dalam jumlah besar dalam beberapa tahun mendatang.
Menurut dia, kapasitas fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) yang telah terpasang di Indonesia pun mencapai 600.000 ton nikel per tahun.
“Saat ini kapasitas HPAL terpasang di Indonesia telah mencapai sekitar 600.000 ton nikel per tahun, dengan tambahan kapasitas sekitar 400.000 ton yang masih dalam tahap pengembangan, setara dengan investasi sekitar 20 miliar dollar AS," ujar Arif dalam pelatihan jurnalisme yang digelar Shanghai Metals Market (SMM) dan Indonesia Business Post (IBP), ditulis Senin (8/6/2026).
Baca juga: Daur Ulang Nikel Stainless Steel untuk Baterai Boros Energi
"Dengan demikian, total kapasitas produksi nikel Indonesia berpotensi mencapai sekitar satu juta ton per tahun,” imbuh dia.
Arif berpendapat, peluang terbesar Indonesia ke depan terletak pada pengembangan industri hilir bernilai tambah tinggi yang mendukung transisi energi dan teknologi maju.
“Nikel, bauksit, tembaga, timah, unsur tanah jarang, serta mineral radioaktif merupakan sumber daya strategis yang dimiliki Indonesia dan dapat terus dikembangkan,” beber dia.
Pakar Hubungan Internasional President University, Teuku Rezasyah berpendapat saat ini persaingan global memperebutkan mineral kritis kian ketat.
Negara-negara yang memiliki sumber daya mineral disebut harus mampu mengelola dan memanfaatkan kekayaan alamnya secara mandiri agar memperoleh manfaat maksimal dari perubahan lanskap geopolitik.
Baca juga: Terlalu Fokus ke Baterai, Hilirisasi Nikel RI Kesampingkan Stainless Steel yang Lebih Potensial
“Indonesia harus memastikan memiliki kapasitas untuk mengendalikan dan mengelola mineral kritisnya secara penuh. Jika tidak, Indonesia berisiko dimanfaatkan oleh investor yang memiliki teknologi yang jauh lebih maju,” papar Teuku.
Ia lalu menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung pengelolaan industri mineral kritis di masa depan.
Sementara itu, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto menyatakan hilirisasi menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat perekonomian nasional.
Dia menjelaskan, pengolahan sumber daya alam di dalam negeri tidak hanya menciptakan nilai tambah yang lebih besar, tetapi juga mampu menarik investasi, meningkatkan ekspor, serta memperkuat ketahanan ekonomi.
“Hilirisasi menarik investasi asing langsung, menghasilkan pendapatan ekspor, dan mendatangkan devisa ke dalam negeri. Meskipun investor pada akhirnya dapat repatriasi dividen, pendapatan ekspor diperkirakan akan jauh lebih besar dibandingkan arus keluar tersebut," tutur Septian.
Baca juga: Daur Ulang Nikel Stainless Steel untuk Baterai Boros Energi
Dari sisi pasar, Chief Executive Officer SMM, Logan Lu mengungkapkan pentingnya peran kebijakan pemerintah dalam memengaruhi dinamika pasar komoditas global.
“Indonesia sudah memiliki kekuatan yang cukup besar dalam memengaruhi harga. Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang mempengaruhi harga, tetapi tidak dapat mengendalikan harga itu sendiri,” ucap Lu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya