KOMPAS.com - Mikroplastik kini makin mengkhawatirkan bagi kesehatan manusia, terutama untuk organ hati (liver).
Sebuah penelitian dari University of Oklahoma yang terbit di jurnal Science Advances menunjukkan bahwa salah satu jenis mikroplastik yang paling umum ternyata sangat berbahaya bagi hati, khususnya jika kita sering mengonsumsi makanan tinggi lemak.
Melansir Medical Xpress, Kamis (18/6/2026) penelitian yang dilakukan pada tikus ini menemukan tanda kerusakan hati melonjak dua kali lipat pada tikus yang terpapar mikroplastik yang mengonsumsi makanan tinggi lemak, dibandingkan dengan tikus yang terpapar mikroplastik tapi tetap makan makanan biasa.
Studi ini berfokus pada jenis plastik yang paling sering kita temui, yaitu polyethylene yang biasanya ada pada kantong plastik dan botol susu kemasan.
"Kita tidak bisa menghindari paparan mikroplastik. Kita menghirupnya, menelannya, bahkan partikel ini menempel di kulit kita," kata Tae Gyu Oh, Ph.D., pemimpin penelitian sekaligus asisten profesor sains onkologi di OU College of Medicine.
Baca juga: Publik Desak WHO Tetapkan Krisis Iklim Jadi Darurat Kesehatan Global
"Sudah banyak penelitian yang menunjukkan adanya mikroplastik di dalam tubuh kita. Namun, kami ingin menyelidiki apa dampaknya jika mikroplastik ini bertemu dengan pola makan yang tinggi lemak dan tinggi kolesterol yang kita tahu juga merusak hati. Kami menduga perpaduan diet buruk dan mikroplastik ini akan membawa efek buruk yang saling memperparah, dan ternyata dugaan kami benar," katanya lagi.
Dalam penelitian ini, para peneliti memberikan paparan mikroplastik dengan jumlah yang sama kepada tikus selama delapan minggu. Sebagian tikus diberi makanan biasa, sementara sebagian lagi diberi makanan khusus untuk memicu MASH atau sejenis penyakit hati berlemak yang cukup parah.
Untuk melihat lebih jelas apa yang terjadi di dalam hati, Oh dan timnya memeriksa jaringan hati tersebut menggunakan berbagai teknologi yang bisa memperbesar tampilan sel.
Semua teknologi itu menunjukkan adanya kerusakan pada hati. Namun, hasil paling jelas dan detail didapatkan lewat teknologi bernama spatial transcriptomics. Penggunaan teknologi ini untuk meneliti mikroplastik di hati dan diyakini sebagai yang pertama kalinya di dunia.
Jika teknologi biasa hanya bisa menunjukkan hasil rata-rata dari jutaan sel sekaligus, teknologi spatial transcriptomics ini bisa menunjukkan dengan tepat di titik mana kerusakan itu terjadi.
"Tampilan beresolusi tinggi ini membantu kami menemukan titik kerusakan hati secara detail hingga ke tingkat sel tunggal. Hal ini mustahil bisa dideteksi jika kami menggunakan cara-cara lama," kata Oh.
Baca juga: Potensi Tanaman Kelor, Mampu Saring Mikroplastik dalam Air
Penelitian ini juga menemukan bahwa ada sebuah pengatur gen bernama PPAR-alpha yang punya peran penting dalam cara hati merespons paparan mikroplastik.
PPAR-alpha adalah protein di dalam sel yang bertugas mengatur bagaimana tubuh memecah dan menggunakan lemak menjadi energi. Protein ini memengaruhi gen bernama Anxa2, yang berfungsi untuk memperbaiki jaringan tubuh yang rusak.
"Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik kemungkinan besar mengganggu pertahanan alami dan kemampuan hati untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Memahami hubungan ini bisa membantu kita menemukan cara baru untuk melindungi kesehatan hati," kata Oh.
Meskipun penelitian ini baru dilakukan pada tikus dan masih butuh riset lebih lanjut untuk memastikan apakah efek yang sama terjadi pada manusia, studi ini memberikan gambaran dasar tentang bagaimana mikroplastik bisa memicu penyakit hati.
"Mikroplastik sekarang sudah menjadi bagian dari lingkungan kita sehari-hari, tapi kita masih terus mempelajari bagaimana dampaknya terhadap tubuh," kata Oh.
"Dengan melihat kondisi hati secara sangat detail, kami bisa melihat area tertentu di mana paparan mikroplastik memicu peradangan dan mengubah proses kerja tubuh yang penting. Temuan ini memberikan petunjuk baru tentang bagaimana lingkungan sekitar bisa memicu penyakit hati, sekaligus membuka jalan untuk penelitian selanjutnya," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya