Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Sebut Paparan Mikroplastik Bisa Perparah Kondisi Fatty Liver

Kompas.com, 30 Juni 2026, 16:32 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Mikroplastik kini makin mengkhawatirkan bagi kesehatan manusia, terutama untuk organ hati (liver).

Sebuah penelitian dari University of Oklahoma yang terbit di jurnal Science Advances menunjukkan bahwa salah satu jenis mikroplastik yang paling umum ternyata sangat berbahaya bagi hati, khususnya jika kita sering mengonsumsi makanan tinggi lemak.

Melansir Medical Xpress, Kamis (18/6/2026) penelitian yang dilakukan pada tikus ini menemukan tanda kerusakan hati melonjak dua kali lipat pada tikus yang terpapar mikroplastik yang mengonsumsi makanan tinggi lemak, dibandingkan dengan tikus yang terpapar mikroplastik tapi tetap makan makanan biasa.

Studi ini berfokus pada jenis plastik yang paling sering kita temui, yaitu polyethylene yang biasanya ada pada kantong plastik dan botol susu kemasan.

"Kita tidak bisa menghindari paparan mikroplastik. Kita menghirupnya, menelannya, bahkan partikel ini menempel di kulit kita," kata Tae Gyu Oh, Ph.D., pemimpin penelitian sekaligus asisten profesor sains onkologi di OU College of Medicine.

Baca juga: Publik Desak WHO Tetapkan Krisis Iklim Jadi Darurat Kesehatan Global

"Sudah banyak penelitian yang menunjukkan adanya mikroplastik di dalam tubuh kita. Namun, kami ingin menyelidiki apa dampaknya jika mikroplastik ini bertemu dengan pola makan yang tinggi lemak dan tinggi kolesterol yang kita tahu juga merusak hati. Kami menduga perpaduan diet buruk dan mikroplastik ini akan membawa efek buruk yang saling memperparah, dan ternyata dugaan kami benar," katanya lagi.

Melihat lebih dekat liver

Dalam penelitian ini, para peneliti memberikan paparan mikroplastik dengan jumlah yang sama kepada tikus selama delapan minggu. Sebagian tikus diberi makanan biasa, sementara sebagian lagi diberi makanan khusus untuk memicu MASH atau sejenis penyakit hati berlemak yang cukup parah.

Untuk melihat lebih jelas apa yang terjadi di dalam hati, Oh dan timnya memeriksa jaringan hati tersebut menggunakan berbagai teknologi yang bisa memperbesar tampilan sel.

Semua teknologi itu menunjukkan adanya kerusakan pada hati. Namun, hasil paling jelas dan detail didapatkan lewat teknologi bernama spatial transcriptomics. Penggunaan teknologi ini untuk meneliti mikroplastik di hati dan diyakini sebagai yang pertama kalinya di dunia.

Jika teknologi biasa hanya bisa menunjukkan hasil rata-rata dari jutaan sel sekaligus, teknologi spatial transcriptomics ini bisa menunjukkan dengan tepat di titik mana kerusakan itu terjadi.

"Tampilan beresolusi tinggi ini membantu kami menemukan titik kerusakan hati secara detail hingga ke tingkat sel tunggal. Hal ini mustahil bisa dideteksi jika kami menggunakan cara-cara lama," kata Oh.

Baca juga: Potensi Tanaman Kelor, Mampu Saring Mikroplastik dalam Air

Penelitian ini juga menemukan bahwa ada sebuah pengatur gen bernama PPAR-alpha yang punya peran penting dalam cara hati merespons paparan mikroplastik.

PPAR-alpha adalah protein di dalam sel yang bertugas mengatur bagaimana tubuh memecah dan menggunakan lemak menjadi energi. Protein ini memengaruhi gen bernama Anxa2, yang berfungsi untuk memperbaiki jaringan tubuh yang rusak.

"Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik kemungkinan besar mengganggu pertahanan alami dan kemampuan hati untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Memahami hubungan ini bisa membantu kita menemukan cara baru untuk melindungi kesehatan hati," kata Oh.

Meskipun penelitian ini baru dilakukan pada tikus dan masih butuh riset lebih lanjut untuk memastikan apakah efek yang sama terjadi pada manusia, studi ini memberikan gambaran dasar tentang bagaimana mikroplastik bisa memicu penyakit hati.

"Mikroplastik sekarang sudah menjadi bagian dari lingkungan kita sehari-hari, tapi kita masih terus mempelajari bagaimana dampaknya terhadap tubuh," kata Oh.

"Dengan melihat kondisi hati secara sangat detail, kami bisa melihat area tertentu di mana paparan mikroplastik memicu peradangan dan mengubah proses kerja tubuh yang penting. Temuan ini memberikan petunjuk baru tentang bagaimana lingkungan sekitar bisa memicu penyakit hati, sekaligus membuka jalan untuk penelitian selanjutnya," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Percepatan PLTS Atap Diklaim Bisa Perkuat Ketahanan Listrik Nasional
Percepatan PLTS Atap Diklaim Bisa Perkuat Ketahanan Listrik Nasional
LSM/Figur
Studi Sebut Paparan Mikroplastik Bisa Perparah Kondisi Fatty Liver
Studi Sebut Paparan Mikroplastik Bisa Perparah Kondisi Fatty Liver
Pemerintah
Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi
Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi
Pemerintah
Sempat Turun, PLTU di China Kembali Bangkit pada 2026
Sempat Turun, PLTU di China Kembali Bangkit pada 2026
Pemerintah
Dari Bahodopi, Melihat Wajah Baru Morowali setelah Hilirisasi Nikel
Dari Bahodopi, Melihat Wajah Baru Morowali setelah Hilirisasi Nikel
LSM/Figur
Padi Lokal Terancam Hilang, Masyarakat Adat Kehilangan Pengetahuan hingga Ritual
Padi Lokal Terancam Hilang, Masyarakat Adat Kehilangan Pengetahuan hingga Ritual
LSM/Figur
Gajah Indro Ditemukan Tewas di Tesso Nilo, Sempat Alami Komplikasi
Gajah Indro Ditemukan Tewas di Tesso Nilo, Sempat Alami Komplikasi
Pemerintah
MIND ID Targetkan Tekan 2 Juta Ton Emisi di Saat Hilirisasi Picu Lonjakan Kebutuhan Energi
MIND ID Targetkan Tekan 2 Juta Ton Emisi di Saat Hilirisasi Picu Lonjakan Kebutuhan Energi
BUMN
Konservasi Indonesia Ajak Artis Luncurkan Program Kawan Konservasi
Konservasi Indonesia Ajak Artis Luncurkan Program Kawan Konservasi
LSM/Figur
Cuaca Ekstrem, Para Orang Tua di Inggris Sewa Hotel Ber-AC demi Keselamatan Bayi
Cuaca Ekstrem, Para Orang Tua di Inggris Sewa Hotel Ber-AC demi Keselamatan Bayi
Swasta
Studi: Karyawan Proaktif Ber-EQ Tinggi Punya Kinerja Lebih Baik
Studi: Karyawan Proaktif Ber-EQ Tinggi Punya Kinerja Lebih Baik
Pemerintah
Antisipasi Suhu Panas, Perancis Matikan Sejumlah Reaktor Nuklir
Antisipasi Suhu Panas, Perancis Matikan Sejumlah Reaktor Nuklir
Pemerintah
Studi: Pemanasan Laut di Atas 1,5 Derajat C Rusak Ekosistem Global
Studi: Pemanasan Laut di Atas 1,5 Derajat C Rusak Ekosistem Global
Pemerintah
Suku Osing Desa Kemiren Banyuwangi Sulap Budaya Jadi Sumber Cuan
Suku Osing Desa Kemiren Banyuwangi Sulap Budaya Jadi Sumber Cuan
LSM/Figur
Sun Plaza Medan Manfaatkan PLTS Atap, Emisi Berpotensi Turun Setara Kemampuan 33.000 Pohon
Sun Plaza Medan Manfaatkan PLTS Atap, Emisi Berpotensi Turun Setara Kemampuan 33.000 Pohon
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau