MOROWALI, KOMPAS.com – Tiga belas tahun lalu, Bahodopi hanyalah kecamatan kecil yang tenang di pesisir Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Penduduknya sekitar 7.000 jiwa dan sebagian besar menggantungkan hidup dari bertani, berkebun, atau melaut.
Kini, jumlah penduduknya melonjak menjadi 45.434 jiwa. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan pekerja, deretan kos-kosan dan rumah makan tumbuh di sepanjang jalan utama, sementara kepulan asap pabrik nikel menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari.
Ledakan pertumbuhan itu tidak terlepas dari keberadaan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kawasan industri nikel yang dalam satu dekade terakhir mengubah wajah Bahodopi dan Morowali secara drastis.
Struktur mata pencaharian warga pun ikut bergeser. Sebagian besar beralih menjadi pekerja di kawasan industri, sementara yang lain memilih bergerak di sektor pendukung yang tumbuh mengikuti arus puluhan ribu tenaga kerja industri. Contohnya, warung makan, kos-kosan bengkel jasa, dan berbagai usaha kecil yang melayani puluhan ribu tenaga kerja industri.
Indonesia merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2025, cadangan nikel nasional mencapai 62 juta ton. Sulawesi Tengah menjadi salah satu provinsi dengan cadangan terbesar setelah Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara.
Morowali menjadi salah satu titik terpenting dalam peta nikel nasional itu. Di sanalah IMIP berdiri, kawasan industri pengolahan nikel yang resmi beroperasi pada Mei 2015 dan kini telah berkembang seluas 4.000 hektare dengan 54 perusahaan tenant di dalamnya.
Kehadiran kawasan industri tersebut turut menarik arus migrasi ke Morowali dalam jumlah besar. Pada 2013, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kabupaten dengan luas wilayah 5.472 km persegi ini dihuni 108.873 jiwa. Sebelas tahun kemudian, jumlah penduduknya hampir dua kali lipat menjadi 198.968 jiwa.
Bahodopi menjadi simbol paling nyata dari perubahan tersebut. Dalam kurun waktu satu dekade, jumlah penduduk kecamatan ini meningkat lebih dari enam kali lipat.
Lonjakan itu bukan tanpa sebab. Kawasan IMIP menyedot ratusan ribu pekerja dari berbagai penjuru Sulawesi dan Indonesia. Hingga akhir Januari 2026, jumlah pekerja Indonesia di IMIP tercatat 89.849 orang. Sebanyak 92 persen di antaranya berasal dari Sulawesi, sedangkan 8 persen orang merupakan warga lokal Morowali.
Perekonomian Morowali pun melonjak drastis. Data BPS menunjukkan, produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) Kabupaten Morowali pada 2014 masih sekitar Rp 7,5 triliun dan meningkat menjadi Rp 12,81 triliun pada 2015. Pada 2025, nilainya telah mencapai Rp 188,86 triliun.
Lonjakan tersebut menjadikan Morowali sebagai salah satu kabupaten dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Indonesia. Nilai ekonomi yang dihasilkan daerah ini kini jauh melampaui banyak kabupaten lain yang memiliki jumlah penduduk lebih besar.
Struktur ekonominya pun berubah secara signifikan. Pada 2014, industri pengolahan hanya menyumbang Rp 917 miliar terhadap PDRB Morowali, jauh di bawah pertambangan dan pertanian yang mendominasi saat itu.
Pada 2025, posisi itu berbalik total. Industri pengolahan kini menjadi penyumbang terbesar dengan Rp 138,79 triliun, disusul pertambangan dan penggalian. Dua sektor itu memperlihatkan betapa kuat ketergantungan ekonomi Morowali terhadap rantai industri nikel.
Perubahan itu membuka peluang ekonomi bagi sebagian masyarakat. Pemilik Rumah Makan Goyang Lidah Ronald, misalnya, masih mengingat ketika Bahodopi belum seramai sekarang. Ia mulai membuka usaha sekitar 2011 atau 2012 saat kawasan industri mulai berkembang.
“Seingatku, waktu itu IMIP baru mulai pembangunan. Ya, alhamdulillah, seiring waktu sampai sekarang, pengembangannya berdampak positif luar biasa (bagi usaha saya),” kata Ronald kepada Kompas.com, Rabu (17/6/2026).
Peluang serupa juga dirasakan para warga yang memiliki tanah. Perwakilan Camat yang merupakan Kepala Urusan (Kaur) Keuangan Kecamatan Bahodopi Ibansi mengatakan, sebagian warga lokal mengubah aset mereka menjadi sumber ekonomi baru dengan membangun kos-kosan, ruko, atau usaha lain.
“Warga asli Bahodopi yang memiliki tanah menjadi kelompok yang paling diuntungkan dari ledakan pekerja pendatang. Banyak yang menjual tanahnya dengan harga tinggi, ada pula yang memanfaatkannya untuk membangun kos-kosan, ruko, atau usaha lain yang melayani kebutuhan pekerja industri,” terangnya saat ditemui Kompas.com, Rabu.
Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf menyebut, keberadaan industri nikel berdampak pada peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat, pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta pendapatan asli daerah (PAD).
Pada 2014, PAD Morowali masih sebesar Rp 25,34 miliar. Sedekade kemudian, realisasinya menjadi Rp 923,2 miliar. Sebagian besar disumbang oleh pajak daerah, yakni 64,26 persen dan retribusi daerah sebesar 27,1 persen.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya