Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Percepatan PLTS Atap Diklaim Bisa Perkuat Ketahanan Listrik Nasional

Kompas.com, 30 Juni 2026, 17:33 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Serangkaian pemadaman listrik (blackout) yang terjadi di Sumatera serta gangguan pada sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali dinilai menjadi peringatan mengenai masih rentannya ketahanan energi nasional.

Salah satu penyebabnya adalah tingginya ketergantungan sistem kelistrikan terhadap energi fosil, khususnya batu bara.

Research & Engagement Lead Indonesia Energy Transition Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), Mutya Yustika, mengatakan Indonesia perlu menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum untuk mempercepat pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap sebagai bagian dari upaya memperkuat keandalan pasokan listrik.

Menurut dia, sistem kelistrikan yang bergantung pada bahan bakar fosil akan lebih rentan terhadap gangguan distribusi maupun fluktuasi harga energi primer.

Baca juga: Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU

Sebaliknya, energi surya memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia melimpah dan tidak dipengaruhi gejolak harga energi global.

"Kerugian ekonomi dari pemadaman listrik diperkirakan telah mencapai triliunan rupiah dan berdampak buruk pada industri, rumah tangga, dan layanan publik penting. Karenanya, investasi PLTS atap dan baterai seharusnya dilihat sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat ketahanan energi," ujar Mutya dalam keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).

Diklaim minimalkan risiko

Ia menilai, pemanfaatan PLTS atap dapat mengurangi risiko gangguan pasokan bahan bakar sekaligus meningkatkan keandalan sistem kelistrikan.

Pembangkit surya juga dapat dipasang di tingkat rumah tangga, kawasan industri, maupun komunitas sehingga mampu menjadi sumber listrik alternatif ketika jaringan utama mengalami gangguan.

Sebagai negara kepulauan, kata Mutya, Indonesia juga perlu memperluas penggunaan sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau *Battery Energy Storage System* (BESS). Integrasi PLTS dengan baterai memungkinkan pasokan listrik tetap tersedia meski jaringan utama mengalami gangguan.

Meski memiliki potensi energi surya yang besar, perkembangan PLTS atap di Indonesia dinilai masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Hingga 2025, kapasitas terpasang PLTS atap di Indonesia baru mencapai sekitar 853 megawatt (MW). Angka tersebut jauh di bawah Vietnam yang telah mencapai 6,9 gigawatt (GW), Thailand 3,6 GW, dan Malaysia 1,8 GW.

Energy Finance Specialist IEEFA, Randi Bachtiar, menilai lambatnya pertumbuhan PLTS atap dipengaruhi berbagai hambatan regulasi. Salah satunya adalah dihapusnya skema *net-metering* melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024.

Baca juga: Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi

Penghapusan skema tersebut membuat kelebihan listrik yang dihasilkan pelanggan PLTS atap dan disalurkan ke jaringan PLN tidak lagi diperhitungkan sebagai pengurang tagihan listrik. Akibatnya, minat masyarakat untuk berinvestasi pada PLTS atap menurun.

Selain itu, sistem kuota kapasitas pemasangan yang diterapkan PLN dinilai turut membatasi pertumbuhan pasar. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, kapasitas PLTS atap yang dialokasikan hanya mencapai 3.037 MW.

Di sisi lain, investasi awal pemasangan PLTS atap yang masih berkisar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per kilowatt membuat waktu pengembalian investasi menjadi relatif panjang, yakni sekitar tujuh hingga 12 tahun. Kondisi tersebut diperparah oleh tarif listrik yang masih rendah karena mendapat subsidi pemerintah.

"Kombinasi biaya awal yang tinggi dan hambatan regulasi ini telah membatasi partisipasi rumah tangga dalam adopsi tenaga surya atap. Akibatnya, panel surya atap tetap tidak terjangkau bagi banyak rumah tangga meskipun memiliki potensi untuk meningkatkan ketahanan energi dan mengurangi biaya listrik," ujar Randi.

IEEFA merekomendasikan pemerintah melakukan sejumlah pembenahan kebijakan untuk mempercepat adopsi PLTS atap, antara lain mengembalikan skema net-metering, meninjau kembali sistem kuota kapasitas, memperluas model pembiayaan melalui perusahaan jasa energi (Energy Service Company atau ESCO), serta memperkuat regulasi terkait sistem penyimpanan energi berbasis baterai.

Mutya menambahkan, pengembangan PLTS atap juga perlu dibarengi dengan investasi pada modernisasi jaringan transmisi dan distribusi listrik agar integrasi energi terbarukan dapat berjalan lebih optimal.

Baca juga: Industri Mulai Lirik ke PLTS Demi Jaga Bisnis Tetap Jalan

"Pengembangan PLTS juga tidak dapat dilakukan secara terpisah. Hal ini harus didukung oleh investasi dalam jaringan listrik modern dan tangguh serta langkah-langkah untuk mengatasi hambatan transmisi yang terus membatasi perluasan jaringan, keandalan, dan integrasi sumber energi baru," kata Mutya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Percepatan PLTS Atap Diklaim Bisa Perkuat Ketahanan Listrik Nasional
Percepatan PLTS Atap Diklaim Bisa Perkuat Ketahanan Listrik Nasional
LSM/Figur
Studi Sebut Paparan Mikroplastik Bisa Perparah Kondisi Fatty Liver
Studi Sebut Paparan Mikroplastik Bisa Perparah Kondisi Fatty Liver
Pemerintah
Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi
Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi
Pemerintah
Sempat Turun, PLTU di China Kembali Bangkit pada 2026
Sempat Turun, PLTU di China Kembali Bangkit pada 2026
Pemerintah
Dari Bahodopi, Melihat Wajah Baru Morowali setelah Hilirisasi Nikel
Dari Bahodopi, Melihat Wajah Baru Morowali setelah Hilirisasi Nikel
LSM/Figur
Padi Lokal Terancam Hilang, Masyarakat Adat Kehilangan Pengetahuan hingga Ritual
Padi Lokal Terancam Hilang, Masyarakat Adat Kehilangan Pengetahuan hingga Ritual
LSM/Figur
Gajah Indro Ditemukan Tewas di Tesso Nilo, Sempat Alami Komplikasi
Gajah Indro Ditemukan Tewas di Tesso Nilo, Sempat Alami Komplikasi
Pemerintah
MIND ID Targetkan Tekan 2 Juta Ton Emisi di Saat Hilirisasi Picu Lonjakan Kebutuhan Energi
MIND ID Targetkan Tekan 2 Juta Ton Emisi di Saat Hilirisasi Picu Lonjakan Kebutuhan Energi
BUMN
Konservasi Indonesia Ajak Artis Luncurkan Program Kawan Konservasi
Konservasi Indonesia Ajak Artis Luncurkan Program Kawan Konservasi
LSM/Figur
Cuaca Ekstrem, Para Orang Tua di Inggris Sewa Hotel Ber-AC demi Keselamatan Bayi
Cuaca Ekstrem, Para Orang Tua di Inggris Sewa Hotel Ber-AC demi Keselamatan Bayi
Swasta
Studi: Karyawan Proaktif Ber-EQ Tinggi Punya Kinerja Lebih Baik
Studi: Karyawan Proaktif Ber-EQ Tinggi Punya Kinerja Lebih Baik
Pemerintah
Antisipasi Suhu Panas, Perancis Matikan Sejumlah Reaktor Nuklir
Antisipasi Suhu Panas, Perancis Matikan Sejumlah Reaktor Nuklir
Pemerintah
Studi: Pemanasan Laut di Atas 1,5 Derajat C Rusak Ekosistem Global
Studi: Pemanasan Laut di Atas 1,5 Derajat C Rusak Ekosistem Global
Pemerintah
Suku Osing Desa Kemiren Banyuwangi Sulap Budaya Jadi Sumber Cuan
Suku Osing Desa Kemiren Banyuwangi Sulap Budaya Jadi Sumber Cuan
LSM/Figur
Sun Plaza Medan Manfaatkan PLTS Atap, Emisi Berpotensi Turun Setara Kemampuan 33.000 Pohon
Sun Plaza Medan Manfaatkan PLTS Atap, Emisi Berpotensi Turun Setara Kemampuan 33.000 Pohon
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau