Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Nilai-nilai mistik yang hidup dalam masyarakat tidak perlu diposisikan sebagai antitesis terhadap sains modern, melainkan sebagai mekanisme normatif yang dapat memperkuat implementasi tata kelola lingkungan.
Baca juga: Asu Gede Menang Kerahe dan Ironi Pemberantasan Korupsi
Sains menyediakan penjelasan empiris mengenai proses terjadinya bencana dan metode mitigasinya, sedangkan ecomystic membangun kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian alam.
Mengintegrasikan keduanya akan menghasilkan pendekatan yang lebih komprehensif karena mampu menjangkau dimensi ekologis, sosial, budaya, dan spiritual secara bersamaan.
Meskipun ecomystic bukan sebagai instrumen yang memiliki nilai penjelasan kausal dalam kerangka sains modern atau pendekatan teknokratis terhadap pengelolaan lingkungan, ia sangat berdampak bagi masyarakat yang masih memegang teguh kosmologi tradisional.
Tentunya bagi kalangan mengedepankan rasionalitas ilmiah, konservasi lingkungan tetap dibangun melalui instrumen analisis ekologis berbasis bukti empiris, regulasi, dan penegakan hukum.
Adapun bagi masyarakat atau komunitas yang masih memelihara sistem kepercayaan lokal, ecomystic berfungsi sebagai landasan yang membatasi perilaku eksploitasi-ekstraktif terhadap alam.
Dalam konteks tersebut, kepercayaan mengenai kesakralan gunung, hulu sungai, mata air, atau keberadaan entitas spiritual penjaga alam nonkasatmata penting dipertahankan.
Hal ini untuk membentuk norma kolektif yang mendorong masyarakat terkait untuk lebih berhati-hati dalam memanfaatkan sumber daya alam.
Larangan adat, pantangan, dan keyakinan adanya sakralitas kawasan teretentu akan menjadi mekanisme pengendalian sosial yang efektif, ketika pengawasan negara atau penegakan hukum formal mengalami keterbatasan daya jangkau.
Dengan demikian, fungsi utama ecomystic tidak terletak pada kemampuannya menjelaskan penyebab ilmiah suatu bencana, melainkan pada kemampuannya membangun kepatuhan terhadap etika konservasi melalui sistem nilai yang diyakini oleh masyarakat.
Baca juga: Indonesia Suram? Cari Negara Lain
Atas dasar itu, ecomystic tidak perlu diposisikan sebagai alternatif yang menggantikan pendekatan ilmiah dan teknokratis-yuridis, tetapi sebagai pelengkap yang memperkuat tata kelola lingkungan dalam konteks masyarakat yang masih hidup dengan kosmologi tradisional.
Pendekatan teknokratis-yuridis menyediakan dasar ilmiah, teknologi, dan kerangka hukum untuk mengurangi risiko bencana serta memulihkan ekosistem.
Adapun ecomystic memperkuat legitimasi sosial dan komitmen moral masyarakat untuk tidak melakukan eksploitasi alam secara berlebihan.
Sinergi keduanya akan menghasilkan model konservasi yang tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga berakar pada budaya, sehingga lebih berkelanjutan dan lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Secara operasional, konsep ecomystic dapat diterjemahkan ke dalam berbagai praktik sosial dan budaya yang telah hidup di tengah masyarakat.
Implementasinya bukan terletak pada pembuktian aspek-aspek metafisis dari ritual tersebut, melainkan pada penguatan fungsi sosial, budaya, dan ekologis yang dikandungnya.
Praktik operasional ecomystic dapat diwujudkan melalui pelestarian berbagai tradisi lokal, seperti sedekah bumi, upacara bersih desa, penghormatan terhadap mata air, ritual sebelum membuka lahan, maupun bentuk-bentuk persembahan simbolik yang menjadi bagian dari sistem kepercayaan masyarakat.
Bagi komunitas yang masih meyakini kosmologi tradisional, praktik-praktik tersebut memiliki fungsi untuk memperkuat penghormatan terhadap alam.
Ecomystic menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi lingkungan tidak hanya bergantung pada peraturan (regulasi), tetapi juga pada kemampuan memanfaatkan modal budaya (cultural capital) yang hidup dalam masyarakat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya