Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
INDONESIA dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Berdasarkan data resmi Badan Informasi Geospasial (BIG), Indonesia memiliki 17.380 pulau yang telah memiliki nama dan koordinat resmi.
Ironisnya, di tengah hamparan laut yang mengelilingi ribuan pulau tersebut, persoalan air bersih masih menjadi tantangan nyata bagi banyak masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.
Paradoks ini sesungguhnya mengundang satu pertanyaan mendasar: mengapa negara yang dikelilingi air justru masih mengalami kekurangan air?
Selama ini, jawaban atas kebutuhan air hampir selalu diarahkan pada sumber-sumber konvensional, seperti air tanah, sungai, waduk, dan air hujan.
Pendekatan tersebut memang telah menjadi tulang punggung penyediaan air selama ratusan tahun.
Namun, perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, peningkatan aktivitas pariwisata di pulau-pulau kecil, intrusi air laut, serta eksploitasi air tanah secara berlebihan mulai memperlihatkan keterbatasan pendekatan tersebut.
Baca juga: Emas, Celana Dalam, dan Kekayaan Baru Ketahuan Setelah Pintu Digedor
Dengan kata lain, tantangan ketahanan air Indonesia pada abad ke-21 tidak lagi dapat diselesaikan hanya dengan mencari sumber air tawar baru di daratan.
Sudah saatnya kita mulai memandang laut bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian dari solusi.
Paradigma inilah yang dikenal sebagai marine-based water security, yaitu pendekatan yang memanfaatkan sumber daya kelautan, energi terbarukan, dan teknologi maju untuk menghasilkan air bersih secara berkelanjutan.
Perubahan iklim menjadikan persoalan air bersih semakin kompleks, terutama bagi masyarakat di pulau-pulau kecil.
Curah hujan semakin tidak menentu, musim kemarau yang lebih panjang, meningkatnya intrusi air laut akibat kenaikan muka laut, serta keterbatasan kapasitas penyimpanan air tawar membuat sumber air konvensional semakin rentan.
Di banyak pulau kecil, air tanah selama ini menjadi andalan bahkan mulai mengalami penurunan kualitas maupun kuantitas.
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 2.780 miliar meter kubik air per tahun, namun hanya 4ri jumlah tersebut tersedia di pulau-pulau kecil.
Dalam kondisi tersebut, sudah saatnya cara pandang terhadap laut mulai berubah.
Selama ini, laut lebih sering diposisikan sebagai sumber pangan, jalur pelayaran, ruang pertahanan, maupun sumber energi.
Padahal, bagi negara kepulauan seperti Indonesia, laut juga memiliki potensi strategis sebagai sumber air bersih yang dapat memperkuat ketahanan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.
Perkembangan teknologi dalam dua dekade terakhir menunjukkan, menghasilkan air tawar dari laut bukan lagi sekadar konsep laboratorium.
Berbagai negara telah mengembangkan teknologi desalinasi yang semakin efisien, pemanfaatan energi laut mampu menghasilkan air tawar sebagai produk sampingan, hingga sistem pemanenan air dari atmosfer yang memanfaatkan kelembapan udara tropis.
Oleh karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah laut dapat menjadi sumber air bersih, melainkan bagaimana memanfaatkan potensi tersebut secara tepat sesuai dengan karakteristik setiap pulau.
Baca juga: Ampun, Bos!
Indonesia memiliki ribuan pulau dengan kondisi biofisik sangat beragam. Keragaman tersebut menunjukkan, tantangan penyediaan air bersih di pulau-pulau kecil tidak dapat dijawab dengan satu teknologi sama.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya