Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Sebaliknya, Indonesia memerlukan pendekatan adaptif, yaitu memilih dan mengombinasikan teknologi sesuai dengan karakteristik lingkungan, kebutuhan masyarakat, dan sumber daya yang tersedia di setiap pulau.
Dengan demikian, laut tidak lagi dipandang sebagai batas geografis yang memisahkan pulau-pulau, melainkan sebagai bagian dari solusi untuk membangun ketahanan air di era krisis iklim.
Salah satu pendekatan menjanjikan adalah integrasi industri garam dengan desalinasi.
Selama ini, industri garam lebih berfokus menghasilkan kristal garam. Padahal, melalui integrasi proses desalinasi-yang mana teknologinya bertumbuh semakin efisien (Elimelech & Phillip, 2011)-air laut dapat menghasilkan lebih dari satu produk sekaligus, yaitu air tawar, garam, dan mineral bernilai ekonomi seperti magnesium maupun kalium.
Pendekatan ini mengarah pada konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan air laut secara lebih optimal dan mengurangi limbah.
Peluang kedua berasal dari Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC).
Teknologi ini memanfaatkan perbedaan suhu antara air laut permukaan dan laut dalam untuk menghasilkan listrik.
Yang sering terlupakan adalah bahwa sistem OTEC juga dapat menghasilkan air tawar melalui proses kondensasi (Julianto, 2020).
Dengan demikian, satu infrastruktur mampu menyediakan listrik sekaligus air bersih, bahkan dapat mendukung pendinginan kawasan pesisir maupun budidaya laut.
Bagi negara tropis seperti Indonesia yang memiliki banyak wilayah laut dalam dekat pantai, potensi ini layak mendapat perhatian lebih besar.
Teknologi ketiga adalah desalinasi berbasis energi surya, khususnya melalui kombinasi panel fotovoltaik (photovoltaic, PV) dengan sistem reverse osmosis (RO).
Penurunan harga panel surya dalam beberapa tahun terakhir membuat sistem ini semakin kompetitif.
Untuk pulau-pulau kecil yang belum memiliki jaringan listrik memadai, kombinasi PV-RO dapat menjadi solusi penyediaan air bersih yang mandiri dan rendah emisi.
Sementara itu, perkembangan ilmu material membuka peluang baru melalui atmospheric water harvesting, yaitu teknologi yang menangkap uap air langsung dari atmosfer (Nikkhah et al., 2023).
Selain sistem pemanenan air hujan dan embun, berbagai material canggih seperti hydrogel maupun metal-organic framework (MOF) mulai menunjukkan kemampuan menyerap uap air dan melepaskannya kembali sebagai air bersih (patsnap.com).
Walaupun masih memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk skala besar, teknologi ini sangat menarik untuk daerah dengan kelembapan udara tinggi.
Baca juga: Bongkar Pasang Koperasi Desa Merah Putih
Keempat teknologi tersebut menunjukkan, sumber air masa depan tidak lagi terbatas pada sungai dan air tanah.
Laut, atmosfer, dan energi terbarukan dapat menjadi bagian dari sistem penyediaan air yang lebih tangguh.
Namun, keberhasilan penyediaan air bersih tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata.
Ada hal yang jauh lebih penting, yaitu kesesuaian antara teknologi dengan karakteristik wilayah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya