KOMPAS.com - Laporan Bank Dunia mengungkapkan pada 2070 sekitar 520 orang di kawasan Asia Selatan akan menghadapi suhu panas yang berbahaya selama satu bulan atau lebih setiap tahunnya. Jumlah tersebut empat kali lipat lebih banyak dibandingkan saat ini.
Laporan Bank Dunia itu menyebut paparan panas akan terpusat di wilayah perkotaan, sementara pemanasan tercepat diproyeksikan terjadi di Pegunungan Himalaya dan area sekitarnya.
Laporan berjudul A Livable Future: Protecting Jobs and Growth from Extreme Heat in South Asia’s Cities ini meneliti peningkatan risiko panas ekstrem di Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, dan Sri Lanka.
Melansir Down to Earth, Rabu (12/8/2026) tingkat bahaya paparan panas ini diperkirakan melonjak tajam dalam beberapa dekade mendatang.
Baca juga: Laporan PBB: Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Besar bagi Pangan Dunia
Pada tahun 2070, sekitar 1,1 miliar orang diproyeksikan mengalami setidaknya satu hari dengan suhu panas yang tergolong "tidak dapat ditinggali" secara teori. Jumlah warga yang menghadapi kondisi ekstrem tersebut selama minimal satu bulan setahun bisa melonjak dari 120 juta menjadi 520 juta orang.
Sementara itu, hampir 63 juta orang berisiko menghadapi panas ekstrem selama tiga bulan atau lebih setiap tahunnya. Paparan panas yang berkepanjangan ini dapat membuat pekerjaan di luar ruangan makin berbahaya serta membatasi aktivitas harian warga yang tidak memiliki akses ke alat pendingin udara.
Laporan ini menilai dampak panas ekstrem saat ini dan dampaknya di masa depan terhadap kesehatan, produktivitas kerja, serta perekonomian kota.
Menurut laporan tersebut, kawasan perkotaan yang padat di Asia Selatan dapat memiliki suhu malam hari yang lebih panas hingga 10 derajat C dibandingkan wilayah pedesaan di sekitarnya.
Panas ekstrem telah berdampak buruk bagi kesehatan. Kematian akibat panas sering kali dicatat sebagai gagal jantung atau gagal ginjal alih-alih karena suhu tinggi, sehingga angka kematian yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar.
Di Bangladesh, India, Nepal, dan Sri Lanka, perkiraan jumlah kematian akibat suhu tinggi meningkat dari sekitar 118.000 pada tahun 2000 menjadi 230.000 pada tahun 2023 melonjak sekitar 95 persen.
Peningkatan ini sejalan dengan suhu yang makin panas, pertumbuhan penduduk, penuaan populasi, serta makin seringnya warga terpapar panas.
Dampak kerugian ekonominya juga sangat serius. Laporan mencatat bahwa panas ekstrem membuat Asia Selatan kehilangan potensi kerja yang setara dengan 31 juta pekerjaan purnawaktu setiap tahunnya.
Jika negara-negara tidak segera melakukan adaptasi, perekonomian di kawasan ini dapat menyusut hingga hampir 7 persen pada tahun 2050. Padahal, Asia Selatan diperkirakan akan mendapat tambahan sekitar 280 juta penduduk usia kerja pada tahun 2050.
Pekerja kelas menengah ke bawah dan rentan adalah pihak yang paling menderita. Pendapatan pekerja informal bisa anjlok hingga 40 persen selama gelombang panas, sementara membengkaknya biaya air, pendingin ruangan, dan perawatan kesehatan makin memberatkan beban keuangan rumah tangga.
Laporan ini mendesak agar masalah panas ekstrem tidak lagi dianggap sekadar bencana musiman biasa, melainkan Tantangan Pembangunan Utama. Pemerintah diimbau untuk memasukkan penanganan risiko panas ke dalam perencanaan kota, pembangunan infrastruktur, kebijakan publik, hingga investasi swasta.
Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem
Hasil penilaian ini memberikan panduan praktis bagi para pembuat kebijakan yang dapat langsung diterapkan melalui lembaga dan pendanaan yang sudah ada.
Laporan ini merekomendasikan investasi pada infrastruktur tahan panas, penguatan Rencana Aksi Panas, perlindungan bagi pekerja rentan, perluasan sistem pendingin ramah lingkungan, peningkatan sistem peringatan dini, serta penggalangan dana publik dan swasta untuk membangun kota yang lebih tangguh.
Banyak solusi yang sebenarnya sudah ada saat ini. Kota-kota di kawasan Asia Selatan telah membuktikan bahwa Rencana Aksi Panas, pembangunan infrastruktur yang tangguh, penghijauan kota, sistem peringatan dini, dan pendingin yang hemat energi dapat menyelamatkan nyawa, melindungi pekerja, serta mengurangi kerugian ekonomi.
Namun, untuk memperluas penerapan solusi-solusi ini, dibutuhkan lembaga yang lebih kuat, koordinasi yang lebih baik, serta investasi yang lebih besar dari pihak pemerintah maupun swasta.
Analisis ini disusun dengan dukungan dari Resilient Asia Programme, yang didanai melalui program Climate Action for a Resilient Asia dari Pemerintah Inggris.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya