Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026

Kompas.com, 13 Agustus 2026, 16:13 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia berisiko menanggung kerugian hingga 13 miliar dollar AS atau sekitar Rp 231,79 triliun akibat kenaikan harga minyak dunia hingga akhir 2026 jika eskalasi perang Iran terus berlanjut.

Analisis 350.org menunjukkan, kenaikan harga minyak telah membebani Indonesia sekitar 5 miliar dollar AS atau Rp 89 triliun sejak dimulainya perang Iran. Beban tersebut berpotensi meningkat lebih dari dua kali lipat hingga akhir tahun.

Kenaikan harga minyak terutama akan dirasakan rumah tangga dan dunia usaha karena biaya energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan beban pengeluaran di tengah ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.

Baca juga: Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih

350.org memperkirakan, dalam skenario normalisasi cepat di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya, kenaikan harga minyak tetap dapat membebani masyarakat dan dunia usaha Indonesia lebih dari 7 miliar dollar AS hingga akhir 2026.

"Beban ganda berupa tingginya biaya energi dan cuaca ekstrem tengah mendorong rumah tangga Indonesia ke ambang batas yang berbahaya. Sementara itu, perusahaan-perusahaan minyak terbesar dunia meraup keuntungan tanpa konsekuensi dari krisis yang mereka ciptakan sendiri, jauh di ruang-ruang rapat mereka. Ini bukan sekadar tidak adil — ini tidak dapat diterima," ujar 350.org Indonesia Country Manager Sisilia Nurmala Dewi dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8/2026).

Perusahaan minyak raup laba besar

Di tengah tekanan tersebut, perusahaan-perusahaan minyak terbesar dunia mencatatkan laba sekitar 93 miliar dollar AS atau Rp 1.659 triliun pada kuartal II-2026.

350.org menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya ketimpangan dalam distribusi dampak gejolak harga energi. Masyarakat harus menanggung kenaikan biaya energi, sementara perusahaan energi memperoleh keuntungan besar ketika harga komoditas meningkat.

Analisis 350.org merujuk pada skenario harga minyak dan gas dalam World Economic Outlook April 2026 yang diterbitkan Dana Moneter Internasional (IMF).

Perhitungan tersebut juga menggunakan prospek harga dari Goldman Sachs serta data konsumsi Indonesia. Faktor penurunan permintaan akibat kenaikan harga dan langkah-langkah pembatasan (rationing) turut diperhitungkan.

Lembaga tersebut menyebut estimasi tersebut menggunakan pendekatan konservatif. Perhitungan belum memasukkan dampak lanjutan yang lebih luas, seperti kenaikan harga pangan dan pupuk, inflasi secara umum, maupun penurunan output ekonomi.

Baca juga: Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan

Artinya, total dampak ekonomi yang dirasakan Indonesia berpotensi lebih besar apabila kenaikan harga minyak berlangsung lebih lama.

Dorong windfall profit tax

Untuk mengurangi beban masyarakat sekaligus memperoleh sumber pendanaan tambahan, 350.org mendorong pemerintah menerapkan windfall profit tax atau pajak atas keuntungan berlebih perusahaan energi fosil.

Pajak tersebut diusulkan berlaku permanen bagi perusahaan minyak, gas, dan batu bara. Penerimaannya dapat digunakan untuk membiayai pemulihan bencana iklim, perlindungan sosial, serta percepatan pengembangan energi terbarukan.

350.org juga menilai Indonesia perlu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor dan mempercepat pengembangan energi terbarukan dalam negeri.

Menurut organisasi tersebut, potensi energi surya dan angin Indonesia dapat menjadi modal untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang harganya rentan dipengaruhi kondisi geopolitik global.

Dorongan tersebut semakin relevan di tengah fenomena El Niño kuat yang terjadi pada 2026. Kondisi tersebut berpotensi memperparah kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta berbagai dampak cuaca ekstrem di Indonesia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau