Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 11:43 WIB
Sri Noviyanti,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap pekan, siswa SD Negeri 6 Kajarharjo, Jawa Timur, punya satu kegiatan yang berbeda dari rutinitas belajar di kelas.

Para siswa mengikuti senam empat pilar gizi seimbang, mendapat edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, memeriksa kebersihan kuku, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, kemudian membuka bekal yang dibawa dari rumah.

Berat dan tinggi badan siswa juga diukur secara berkala untuk memantau pertumbuhan mereka.

Rangkaian kegiatan tersebut terlihat dalam dokumentasi yang dipublikasikan SDN 6 Kajarharjo mengenai pelaksanaan JAPFA for Kids di sekolah itu lewat Youtube. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Hari Sehat JAPFA, salah satu rangkaian program yang memadukan edukasi gizi dengan pembiasaan hidup sehat.

Baca juga: Pendaftaran Beasiswa JAPFA 2026 Buka sampai 16 Agustus, Ada Bantuan UKT

Di sekolah, edukasi tidak berhenti pada penyampaian materi. Anak-anak diajak mempraktikkannya dalam kegiatan yang dilakukan secara rutin.

Hal-hal yang tampak sederhana di lingkungan sekolah itu menjadi bagian dari persoalan yang jauh lebih besar, yakni memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat untuk menjadi bagian dari generasi yang akan membawa Indonesia menuju 2045.

Dalam Sustainibility Report 2025 yang dipublikasi PT Japfa Comfeed Tbk, pihak perusahaan menempatkan pemenuhan gizi dan ketersediaan pangan sebagai bagian dari kontribusinya menuju visi Indonesia Emas 2045. Melalui JAPFA for Kids, perusahaan menyebut investasi tersebut diarahkan untuk membangun generasi muda yang tangguh. Pada 2026, program tersebut memasuki tahun ke-18.

Hingga 2025, program tersebut telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota yang tersebar di 28 provinsi.

Baca juga: JAPFA Ekspor 23.000 Ayam Hidup ke Singapura

Namun, perjalanan selama 18 tahun bukan hanya soal memperluas jangkauan. Cara Japfa mengelola program juga berubah, terutama dalam melihat dan mengukur dampaknya.

Mengukur perubahan

Head of Social Investment Japfa Retno Artsanti mengatakan, JAPFA for Kids pada awalnya lahir sebagai bagian dari fungsi public relations perusahaan. Sejak 2016, program tersebut berada di bawah departemen Social Investment.

Perubahan itu turut menggeser pendekatan program. Pelaksanaan tidak hanya diarahkan pada terselenggaranya kegiatan, tetapi juga pada bagaimana dampak terhadap penerima manfaat dapat diukur.

“Perubahan pendekatan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan mandat perusahaan, tetapi juga pembelajaran dari pelaksanaan program dari tahun ke tahun,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com, Kamis (13/8/2026).

Baca juga: Stabilkan Harga, Japfa Serap Telur Peternak Nasional

Pembelajaran dari tahun ke tahun digunakan untuk menyempurnakan program. Dalam beberapa tahun terakhir, fokusnya semakin diarahkan pada peningkatan status gizi siswa yang mengalami malanutrisi.

JAPFA juga terus menguji theory of change sejak 10 tahun terakhir untuk memastikan aktivitas yang dilakukan memiliki kaitan dengan perubahan yang ingin dicapai.

“Harapannya, desain yang kami buat menghasilkan dampak terukur dan terverifikasi,” jelasnya.

Hasil pengukuran terlihat dalam pelaksanaan dua tahun terakhir. Pada 2024, dari 1.479 siswa yang teridentifikasi mengalami gizi kurang dan gizi buruk, 762 siswa atau 51,5 persen berhasil meningkat menjadi status gizi baik.

Baca juga: Tetap Jadi Mitra Catur, Japfa Rambah Olahraga Lari

Pada 2025, dari 1.034 siswa sasaran, 646 siswa atau 62,5 persen mengalami peningkatan status gizi menjadi baik.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat hasil intervensi program.

Persoalan gizi anak sendiri masih menjadi tantangan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, 11 persen anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator IMT/U.

Guru dan sekolah

Intervensi JAPFA for Kids tidak hanya menyasar anak. Siswa dengan kondisi malanutrisi mendapatkan asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan. Pada saat yang sama, guru mendapatkan pelatihan untuk menjalankan edukasi gizi dan kegiatan kesehatan di sekolah.

Baca juga: Beasiswa JAPFA 2025 untuk Siswa SMA/SMK dan Mahasiswa, Cek Syarat Lengkapmya

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
Pemerintah
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Pemerintah
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Pemerintah
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau