Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda

Kompas.com, 7 September 2026, 12:01 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi global terhadap lebih dari 23.000 spesies moluska laut memprediksi adanya pergeseran besar dalam ukuran tubuh hewan-hewan tersebut pada tahun 2100, termasuk pertumbuhan yang mengejutkan pada beberapa jenis hewan dan wilayah lautan.

Penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan di University of Louisiana at Lafayette ini membantah anggapan lama soal dampak perubahan iklim pada kehidupan laut bahwa lautan yang makin hangat tidak serta-merta membuat ukuran tubuh semua hewan menjadi lebih kecil.

Studi ini dipimpin oleh Isaac Trindade-Santos saat melakukan penelitian postdoctoral di laboratorium UL Lafayette bersama penulis utama Dr. Craig McClain. Trindade-Santos sendiri kini menjadi peneliti postdoctoral di University of Helsinki.

Melansir laman resmi University of Helsinki, Sabtu (5/9/2026) para peneliti menganalisis lebih dari 23.000 spesies moluska laut yang mencakup kerang, tiram, siput, cumi-cumi, gurita, dan chiton.

Baca juga: 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis

Perubahan ukuran pada biota laut

Studi menemukan bahwa ukuran tubuh mereka diproyeksikan bakal mengecil di sebagian besar wilayah lautan pada tahun 2100. Namun, perubahan ini sama sekali tidak merata. Beberapa kelompok hewan mungkin mengecil secara drastis, sementara kelompok lainnya justru diprediksi bertambah besar.

Studi ilmiah berjudul "Nonuniform resizing of marine life under climate change" ini telah melalui peninjauan sesama ahli  dan diterbitkan pada 31 Agustus di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

"Selama bertahun-tahun, gagasan bahwa laut yang semakin hangat akan membuat biota laut mengecil dianggap seperti aturan umum," kata McClain.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Di seluruh skala global, kami menemukan bahwa beberapa hewan paling dasar di lautan merespons perubahan iklim dengan cara yang sangat berbeda dan beberapa di antaranya justru tumbuh lebih besar. Kompleksitas ini sangat penting untuk dipahami saat kita merancang masa depan ekosistem laut," terangnya.

Para peneliti menggabungkan lebih dari 2,79 juta catatan keberadaan spesies dengan data ukuran tubuh untuk mempelajari bagaimana suhu, oksigen, dan produktivitas lautan memengaruhi lima kelompok utama moluska. Mereka kemudian membuat simulasi proyeksi hingga tahun 2100 di 10 wilayah lautan utama, baik dalam skenario emisi iklim tinggi maupun rendah.

Baca juga: Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir

Penelitian ini memanfaatkan data sejarah alam yang dikumpulkan selama berabad-abad, termasuk catatan spesies dan informasi ukuran tubuh dari basis data keanekaragaman hayati terbuka.

Dalam skenario emisi tinggi, para peneliti memproyeksikan penurunan ukuran tubuh rata-rata yang signifikan pada sekitar dua pertiga kelompok hewan dan wilayah lautan yang diteliti. Pada beberapa kasus, panjang tubuh rata-rata dapat menyusut hingga 16 persen pada tahun 2100.

Perubahan panjang tubuh tersebut bisa berdampak pada penurunan bobot yang jauh lebih besar. Sebagai contoh, penurunan panjang rata-rata kerang sebesar 16,2 persen di Laut Baltik diperkirakan bakal menurunkan bobot tubuh rata-rata mereka hingga 41 persen.

Tidak semua hewan laut akan mengecil

Dalam skenario emisi tinggi, kelompok sefalopoda yang mencakup cumi-cumi dan gurita serta kerang taring  diproyeksikan tumbuh jauh lebih besar di Samudra Arktik, dengan kenaikan panjang rata-rata masing-masing sebesar 2,9 persen dan 3,3 persen.

Para peneliti menemukan bahwa perbedaan respons ini sangat bergantung pada faktor geografis dan biologis. Sefalopoda, misalnya, membutuhkan banyak oksigen tetapi memiliki sistem peredaran darah yang efisien serta siklus hidup yang cepat.

Hal ini memungkinkan mereka bertahan atau bahkan tumbuh lebih besar di air yang memanas. Sebaliknya, kelompok hewan bercangkang tebal seperti kerang dan siput laut terlihat jauh lebih rentan mengalami penyusutan ukuran.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau