"Yang paling mengejutkan saya adalah betapa besarnya pengaruh lokasi geografis," kata Trindade-Santos.
"Kelompok hewan yang sama bisa saja diproyeksikan mengecil di satu wilayah laut, tetapi malah bertambah besar di wilayah laut lainnya. Hal ini terjadi karena suhu laut, penurunan kadar oksigen, dan produktivitas lingkungan tidak berubah secara seragam di semua tempat. Kita harus melihat gambaran utuhnya baik dari sisi biologi hewan tersebut maupun kondisi spesifik lingkungannya untuk memahami apa yang akan terjadi di masa depan," paparnya.
Baca juga: Kontaminasi Bahan Kimia dari Plastik Bikin Perilaku Hewan Laut Berubah
Tingkat keparahan dari perubahan tersebut juga sangat bergantung pada jumlah emisi gas rumah kaca di masa mendatang.
Dalam skenario emisi rendah, penurunan ukuran tubuh secara signifikan hanya terjadi pada 14 dari 50 kombinasi kelompok hewan dan wilayah laut yang diteliti, kurang dari separuh angka yang diproyeksikan dalam skenario emisi tinggi. Sementara itu, jumlah hewan yang diprediksi membesar ukurannya relatif tetap sama.
"Dua skenario masa depan yang kami bandingkan menunjukkan perbedaan yang sangat jelas," kata Trindade-Santos.
"Tingginya tingkat emisi adalah penentu utama seberapa banyak kelompok hewan yang akan mengecil, bukan menentukan berapa banyak hewan yang membesar. Seberapa drastis ukuran biota laut akan menyusut, pada dasarnya, masih menjadi pilihan yang kita buat hari ini," tambahnya.
Temuan ini membawa dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar perubahan fisik hewan-hewan tersebut. Moluska memegang peranan sangat vital dalam ekosistem laut, mulai dari menyaring air, memutar siklus nutrisi, menyediakan habitat, menyimpan karbon, hingga menyokong industri perikanan dan ketahanan pangan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya