Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir dan Longsor Tapanuli Tengah, WVI Jangkau 5.000 Warga Terdampak

Kompas.com, 23 Desember 2025, 19:44 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Wahana Visi Indonesia (WVI) memastikan pemenuhan kebutuhan gizi, air bersih, serta dukungan psikososial bagi sekitar 5.000 warga terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Selama hampir tiga pekan masa tanggap bencana sejak akhir November 2025, WVI telah menyalurkan sedikitnya 24.000 liter air bersih dan memasang 130 meter pipa untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat.

Selain itu, WVI membuka dapur Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA)/balita yang telah mendistribusikan 2.208 paket makanan bergizi.

Baca juga: 42 Perwakilan Anak Difasilitasi Wahana Visi Beraudiensi dengan Kementerian PPPA dan KPAI

Melihat kondisi di lapangan yang masih membutuhkan pendampingan, WVI memutuskan memperpanjang masa respons tanggap bencana hingga Juni 2026 serta merencanakan perluasan bantuan ke wilayah Aceh.

Technical Sectors Director WVI, Yacobus Runtuwene, mengatakan bencana banjir dan longsor telah melumpuhkan aktivitas masyarakat, terutama anak-anak.

Menurut dia, sebagian besar warga masih tinggal di pengungsian dengan keterbatasan fasilitas, sementara akses transportasi dan distribusi logistik masih menjadi tantangan.

“Mayoritas masyarakat masih berada di pengungsian yang jauh dari layak. Akses transportasi dan logistik juga menyulitkan mereka untuk kembali menjalani aktivitas seperti semula,” ujar Yacobus dalam keterangan tertulis, Senin (23/12/2025).

Selain pemenuhan kebutuhan dasar, WVI juga mengaktifkan Ruang Ramah Anak untuk memberikan dukungan psikososial kepada 1.404 anak terdampak bencana.

Pendampingan dilakukan melalui aktivitas bermain, belajar, serta kegiatan pemulihan trauma. Sebanyak 687 balita juga menerima layanan kesehatan untuk menekan risiko kekurangan gizi.

WVI turut memberikan pendampingan kepada para ibu melalui konseling PMBA agar tetap dapat memberikan ASI kepada bayinya di tengah keterbatasan kondisi pengungsian.

Salah satu intervensi dilakukan pada bayi yang mengalami kesulitan menyusu dengan mengarahkan orang tua memberikan ASI perah menggunakan sendok.

Baca juga: Wahana Visi Indonesia Luncurkan Program Ketahanan Pangan di Asmat

Salah seorang anak penyintas, Nia, mengatakan rumahnya rusak akibat banjir dan longsor sehingga keluarganya harus mengungsi. Meski demikian, ia merasa terbantu dengan ketersediaan makanan, kondisi pengungsian yang relatif bersih, serta aktivitas yang disediakan relawan.

“Di sini banyak teman dan kegiatan. Aku berharap semuanya cepat membaik dan bisa kembali ke rumah,” kata Nia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau