Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bencana Hidrometeorologi Meningkat, Sistem Transportasi dan Logistik Dinilai Perlu Berubah

Kompas.com, 23 Desember 2025, 20:55 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Kenaikan frekuensi bencana hidrometeorologi akibat krisis iklim dan kondisi geografis dinilai harus menjadi alarm bagi Indonesia untuk membangun sektor transportasi dan logistik yang berorientasi ketahanan atau *resilience-oriented system*.

Sektor ini semestinya tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi dalam kondisi normal, tetapi juga menjadi penyangga utama saat terjadi bencana. Tanpa sistem yang tangguh, transportasi dan logistik justru berpotensi menjadi sumber kerentanan yang memperparah gangguan rantai pasok.

Guru Besar Manajemen Logistik dan Rantai Pasok Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Kuncoro Harto Widodo, mengatakan sektor transportasi dan logistik harus mampu bertransformasi dari sekadar infrastruktur pendukung menjadi bagian dari solusi kebencanaan.

Baca juga: Bencana Makin Parah, Kebijakan Energi Indonesia Dinilai Tak Menjawab Krisis Iklim

“Sebisa mungkin sektor transportasi dan logistik itu bukan menjadi sumber kerentanan, tetapi justru membantu menyelesaikan persoalan bencana. Memang tidak mudah dalam kondisi darurat,” ujar Kuncoro dalam sebuah webinar, Selasa (23/12/2025).

Menurut dia, perkembangan teknologi membuka peluang besar bagi sektor transportasi dan logistik untuk lebih adaptif, baik dalam konteks komersial maupun non-komersial.

Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) yang memungkinkan sistem logistik tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga proaktif.

AI, kata Kuncoro, dapat dimanfaatkan untuk memprediksi potensi bencana, mengidentifikasi titik rawan, serta merancang jalur distribusi alternatif sebelum gangguan terjadi.

Hal ini menjadi krusial, terutama di wilayah Sumatera yang memiliki tingkat risiko banjir tertinggi dibandingkan jenis bencana lainnya.

“Banjir masih menjadi risiko dominan di Sumatera, jauh di atas longsor, gempa bumi, tsunami, gelombang pasang, maupun gunung berapi. Karena itu, pembangunan transportasi dan logistik di Sumatera harus dirancang untuk memitigasi risiko banjir,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya penataan infrastruktur, tata kelola, serta desain sistem logistik yang matang agar mampu menghadapi risiko bencana di masa depan.

Gangguan Transportasi dan Logistik di Sumatera

Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berdampak langsung pada simpul dan jaringan transportasi di wilayah tersebut. Akibatnya, distribusi pangan dan energi turut terganggu.

Untuk penanganan jangka pendek, Kuncoro menilai langkah seperti pembersihan jalan akibat longsor dan pembangunan jembatan sementara dapat dilakukan. Namun, dalam jangka panjang diperlukan peningkatan status jalur alternatif agar setara dengan jalur utama, penguatan jembatan permanen, serta rekonstruksi jalan yang terdampak banjir.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat kendala koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Perbedaan persepsi terkait skala bencana kerap memengaruhi besaran dan kecepatan bantuan yang diterima masyarakat.

“Diperlukan pembagian peran yang jelas dan penyamaan persepsi antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk penguatan koordinasi dengan kementerian dan lembaga, swasta, relawan, hingga lembaga swadaya masyarakat,” kata Kuncoro.

Distribusi Bantuan Pangan Terkendala Infrastruktur

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Bidang Pangan, Nani Hendiarti, mengungkapkan pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 24.000 ton untuk tiga provinsi terdampak bencana di Sumatera.

Baca juga: Indonesia Rawan Bencana, Penanaman Pohon Rakus Air Jadi Langkah Mitigasi

Namun, hingga saat ini baru sekitar 10.000 ton yang berhasil disalurkan akibat kendala distribusi.

“Bantuan pangan sebenarnya sudah disiapkan, tetapi belum bisa terdistribusi secara optimal,” ujar Nani dalam webinar yang sama.

Ia menjelaskan, terputusnya jembatan dan jalur transportasi menuju sejumlah wilayah terisolasi menjadi hambatan utama penyaluran bantuan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya sistem logistik yang lebih tangguh dan fleksibel dalam menghadapi bencana.

“Jika jalur utama terputus, pangan seharusnya bisa langsung dimanfaatkan melalui lembaga pangan masyarakat di desa-desa terdampak,” kata Nani.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau