KOMPAS.com - Siswa SMAN 1 Blora memenangkan penghargaan sebagai The Most Sustainable Idea pada kategori Waste Management ASRI Awards 2025 yang digelar Kompas Gramedia.
Mereka ialah WarasClub dari SMAN 1 Blora yang berinisiatif mengubah tongkol atau bonggol jagung pengganti styrofoam.
Ide awalnya berasal dari keprihatinan karena sampah bonggol jagung yang bercecer ke jalanan usai musim panen. Sebagian bahkan dibakar begitu saja, menyisakan asap tipis yang secara perlahan mengganggu kualitas udara.
Salah satu anggota tim Warasclub, Sayekti Bekti Widyaningrum bahkan sempat melintas salah satu desa dan hampir terpeleset karena menginjak sampah bonggol jagung. Dari kejadian tersebut ia berpikir, bagaimana caranya agar limbah sebanyak ini bisa dimanfaatkan jadi sesuatu yang lebih berguna.
Baca juga: Studi Ungkap 70 Persen Area Konservasi Laut Terkontaminasi Limbah Cair
“Waktu itu saya langsung kepikiran, barang apa ya yang bisa dibuat dari tongkol jagung sebanyak ini,” ujar salah satu anggota tim dalam keterangannya, Rabu (8/4/2026).
Mereka kemudian menemukan ide untuk membuat biofoam, kemasan makanan ramah lingkungan yang dapat terurai secara alami.
Tim Warasclub yang terdiri dari Adge Getze, Anisa Aulia Rahmawati, El Mira Bening Anindita, dan Sayekti ini kemudian melihat bahwa persoalan di Blora bukan hanya soal limbah pertanian, tetapi juga kebiasaan penggunaan styrofoam di warung dan acara sekolah.
Dari dua masalah itulah lahir proyek Biofoam Tongkol Jagung, alternatif pengganti styrofoam berbahan serat tongkol jagung yang dicampur pati singkong.
Dalam proses pengembangan biofoam, para siswa mencoba beberapa komposisi untuk mendapatkan tekstur yang cukup kuat namun tetap mudah terurai. Percobaan awal memang belum berhasil karena ada biofoam yang terlalu rapuh dan ada pula yang belum tahan terhadap cairan.
Lambat laun, tim berhasil menciptakan biofoam yang diinginkan. Limbah bonggol jagung yang dulu dianggap tidak bernilai, kini mulai dipahami sebagai bahan baku potensial.
Baca juga: PSEL Akan Dibangun di Makassar, Ubah 1.000 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik
“Kami terus jalan karena merasa sayang kalau ide ini berhenti di tengah. Biofoam ini mungkin kecil, tapi bisa jadi langkah awal mengurangi plastik sekali pakai,” kata mereka.
Dalam rangkaian kompetisi ASRI Awards, tim mendapat masukan teknis untuk menyempurnakan produk sekaligus memperkuat rencana pemanfaatan di lingkungan sekolah. Dukungan dari sekolah memang menjadi faktor penting untuk menjaga semangat tim.
Karenanya, mereka berharap ke depannya ada fasilitas dan ruang yang lebih luas untuk menguji produk ini secara nyata, jadi bukan lagi sebatas prototipe.
Tim WarasClub juga membayangkan biofoam buatan mereka bisa benar-benar digunakan di kantin sekolah sebagai bagian dari gerakan Adiwiyata dan manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh siswa dan guru untuk menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya