TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Perusahaan eksportir buah tropis asal Indonesia, Java Fresh, memperluas pasar ekspor ke China dengan memperkuat kapasitas riset dan pengembangan (research and development/R&D) untuk meningkatkan daya tahan produk.
Langkah ini menjadi penting mengingat standar kualitas dan keamanan pangan di China tergolong ketat, serta tantangan logistik yang membutuhkan waktu pengiriman cukup panjang.
Co-Founder & CEO Java Fresh Margareta Astaman mengatakan, penguatan R&D dilakukan untuk menjawab tantangan distribusi, khususnya dalam menjaga kesegaran buah selama pengiriman.
Baca juga: Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
“Kami sudah mulai uji coba sejak 2022, dengan pengiriman ke China utara yang memakan waktu hingga 29 hari,” ujar Margareta di Tasikmalaya, Rabu (8/4/2026).
Salah satu fokus pengembangan R&D adalah memperpanjang masa simpan buah tropis. Jika sebelumnya buah segar hanya mampu bertahan sekitar satu minggu, kini Java Fresh berhasil memperpanjangnya hingga 35 hari dalam skala industri.
Menurut Margareta, capaian tersebut diperoleh melalui kombinasi teknologi dan pengaturan suhu penyimpanan.
Ia menyebut, dalam tahap uji coba di laboratorium, masa simpan bahkan telah mencapai 45 hari. Namun, untuk penerapan skala industri, perusahaan masih mampu mencapai sekitar 35 hari.
“Dengan perlakuan tertentu, masa simpan bisa meningkat signifikan. Target kami sebenarnya bisa sampai 45 hari agar pengiriman melalui kontainer laut lebih optimal,” kata dia.
Perpanjangan masa simpan ini dinilai penting untuk menekan biaya logistik sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat kerusakan produk selama pengiriman.
Dengan daya tahan yang lebih lama, Java Fresh juga dapat mengurangi limbah pascapanen dan meningkatkan efisiensi operasional.
sedang melakukan coating buah manggis untuk pasar ekspor ke Jerman di rumah pengemasan (packing house) Java Fresh di Kabupaten Tasikmalaya, pada Rabu (8/4/2026). Saat ini, perusahaan telah mengekspor berbagai buah tropis seperti manggis, salak, dan kelapa ke sekitar 25 negara. Dengan rantai pasok yang semakin kuat, ekspansi pasar ke depan diperkirakan akan semakin luas.
Selain itu, Java Fresh juga melibatkan masyarakat dalam rantai pasoknya, termasuk memberdayakan 210 pekerja perempuan di enam fasilitas pengemasan serta membina ratusan petani lokal.
Pengembangan kapasitas R&D tersebut didukung oleh dana hibah dari DBS Foundation melalui Grant Program 2024. Java Fresh menjadi salah satu dari lima wirausaha sosial yang menerima total pendanaan sebesar Rp 11,5 miliar.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan, dukungan tersebut diberikan karena Java Fresh dinilai memiliki potensi dalam memperkuat inovasi dan memperluas dampak sosial.
“Kami melihat ada peluang bagi Java Fresh untuk meningkatkan kapasitas pengiriman dan memperluas pasar global,” ujar Mona.
Baca juga: Krisis Iklim Ganggu Siklus Produksi Manggis, Hasil Panen Petani Turun
Ia menambahkan, peran wirausaha sosial semakin penting dalam menghadirkan solusi yang tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya