KOMPAS.com-Gletser di Pegunungan Tinggi Asia yang mencakup Dataran Tinggi Tibet dan pegunungan di sekitarnya terus menyusut dengan cepat, menurut studi terbaru,
Menggunakan data satelit NASA, penelitian menunjukkan bahwa sistem gletser raksasa yang sering dijuluki "menara air Asia" ini kehilangan banyak sekali cadangan esnya antara tahun 2002 hingga 2023.
Jika kondisi ekstrem ini terus berlanjut, pencairan es yang parah bisa memicu risiko banjir dalam jangka pendek dan mengurangi drastis ketersediaan air di masa depan.
Para peneliti menekankan perlunya pengurangan emisi gas rumah kaca untuk menghentikan pencairan gletser dan menyelamatkan cadangan air beku di wilayah tersebut.
Melansir Phys, Rabu (8/4/2026) masyarakat di wilayah tersebut sangat bergantung pada simpanan air dari lelehan gletser untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), energi terbarukan, dan sistem irigasi pertanian.
Baca juga: Kapan Gletser di Bumi Bisa Mencair akibat Pemanasan Global?
"Perubahan apa pun pada ukuran gletser akan berdampak langsung pada keamanan air, pertanian, dan penanganan bencana alam," kata Jaydeo Dharpure, ketua penulis penelitian tersebut.
"Meski sebagian pencairan es dan gangguan besar tidak bisa dihindari, gletser punya peran yang sangat penting bagi orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Karena itu, belajar memantau perkembangannya dengan lebih baik adalah hal yang wajib dilakukan," ungkap Dharpure lagi.
Saat ini ada lebih dari 95.000 gletser di Pegunungan Tinggi Asia yang tersebar di 15 wilayah.
Untuk memahami seberapa banyak es yang hilang, para peneliti memeriksa perubahan gaya gravitasi bumi untuk menghitung berapa banyak air beku yang berkurang atau bertambah setiap tahunnya.
Mereka juga menggunakan bantuan kecerdasan buatan (AI) untuk mengisi celah data dalam pemantauan jangka panjang. Secara keseluruhan, tim menemukan bahwa meski kehilangan air dan es terus meningkat dari tahun ke tahun, tingkat pencairannya berbeda-beda di setiap wilayah.
Sebagai contoh, Kunlun Timur, pegunungan yang terletak di antara Dataran Tinggi Tibet dan Cekungan Tarim di China barat justru mengalami penambahan es selama beberapa dekade terakhir.
Namun, Tien Shan Barat, pegunungan yang membentang ke arah berlawanan, malah mengalami pencairan es yang sangat cepat.
Perbedaan hasil di tiap wilayah bisa disebabkan oleh kenaikan suhu global, perubahan pola hujan, atau bahkan radiasi matahari. Meskipun sulit untuk diteliti, sistem gletser di Asia ini sangat berpengaruh dalam mengatur iklim dunia.
Baca juga: Fenomena Gletser yang Mencair Tarik Banyak Wisatawan, Mengapa Begitu?
Dharpure menjelaskan bahwa menggunakan cara-cara baru untuk memahami bagaimana wilayah ini bereaksi terhadap pemicu tersebut adalah salah satu cara terbaik bagi ilmuwan di masa depan untuk menciptakan ramalan iklim dunia yang lebih akurat.
"Ini adalah tugas yang penting, karena jika gletser ini hilang di masa depan, masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai tidak hanya akan kekurangan air minum atau air untuk sawah," katanya.
Sebaliknya, es yang mencair akan membentuk danau dan sungai baru yang tidak terpetakan. Air yang terus terkumpul di sana bisa membahayakan warga sekitar.
"Oleh karena itu, ilmuwan harus siap memantau seberapa bahaya masalah-masalah yang muncul akibat hilangnya gletser ini bagi miliaran orang yang terdampak," tambah Dharpure.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya