Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam

Kompas.com, 9 April 2026, 20:06 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Gletser di Pegunungan Tinggi Asia yang mencakup Dataran Tinggi Tibet dan pegunungan di sekitarnya terus menyusut dengan cepat, menurut studi terbaru,

Menggunakan data satelit NASA, penelitian menunjukkan bahwa sistem gletser raksasa yang sering dijuluki "menara air Asia" ini kehilangan banyak sekali cadangan esnya antara tahun 2002 hingga 2023.

Jika kondisi ekstrem ini terus berlanjut, pencairan es yang parah bisa memicu risiko banjir dalam jangka pendek dan mengurangi drastis ketersediaan air di masa depan.

Para peneliti menekankan perlunya pengurangan emisi gas rumah kaca untuk menghentikan pencairan gletser dan menyelamatkan cadangan air beku di wilayah tersebut.

Melansir Phys, Rabu (8/4/2026) masyarakat di wilayah tersebut sangat bergantung pada simpanan air dari lelehan gletser untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), energi terbarukan, dan sistem irigasi pertanian.

Baca juga: Kapan Gletser di Bumi Bisa Mencair akibat Pemanasan Global?

"Perubahan apa pun pada ukuran gletser akan berdampak langsung pada keamanan air, pertanian, dan penanganan bencana alam," kata Jaydeo Dharpure, ketua penulis penelitian tersebut.

"Meski sebagian pencairan es dan gangguan besar tidak bisa dihindari, gletser punya peran yang sangat penting bagi orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Karena itu, belajar memantau perkembangannya dengan lebih baik adalah hal yang wajib dilakukan," ungkap Dharpure lagi.

Mengukur Pencairan Gletser

Saat ini ada lebih dari 95.000 gletser di Pegunungan Tinggi Asia yang tersebar di 15 wilayah.

Untuk memahami seberapa banyak es yang hilang, para peneliti memeriksa perubahan gaya gravitasi bumi untuk menghitung berapa banyak air beku yang berkurang atau bertambah setiap tahunnya.

Mereka juga menggunakan bantuan kecerdasan buatan (AI) untuk mengisi celah data dalam pemantauan jangka panjang. Secara keseluruhan, tim menemukan bahwa meski kehilangan air dan es terus meningkat dari tahun ke tahun, tingkat pencairannya berbeda-beda di setiap wilayah.

Sebagai contoh, Kunlun Timur, pegunungan yang terletak di antara Dataran Tinggi Tibet dan Cekungan Tarim di China barat justru mengalami penambahan es selama beberapa dekade terakhir.

Namun, Tien Shan Barat, pegunungan yang membentang ke arah berlawanan, malah mengalami pencairan es yang sangat cepat.

Perbedaan hasil di tiap wilayah bisa disebabkan oleh kenaikan suhu global, perubahan pola hujan, atau bahkan radiasi matahari. Meskipun sulit untuk diteliti, sistem gletser di Asia ini sangat berpengaruh dalam mengatur iklim dunia.

Baca juga: Fenomena Gletser yang Mencair Tarik Banyak Wisatawan, Mengapa Begitu?

Dharpure menjelaskan bahwa menggunakan cara-cara baru untuk memahami bagaimana wilayah ini bereaksi terhadap pemicu tersebut adalah salah satu cara terbaik bagi ilmuwan di masa depan untuk menciptakan ramalan iklim dunia yang lebih akurat.

"Ini adalah tugas yang penting, karena jika gletser ini hilang di masa depan, masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai tidak hanya akan kekurangan air minum atau air untuk sawah," katanya.

Sebaliknya, es yang mencair akan membentuk danau dan sungai baru yang tidak terpetakan. Air yang terus terkumpul di sana bisa membahayakan warga sekitar.

"Oleh karena itu, ilmuwan harus siap memantau seberapa bahaya masalah-masalah yang muncul akibat hilangnya gletser ini bagi miliaran orang yang terdampak," tambah Dharpure.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau